National Museum of Women in the Arts (NMWA) di Washington, D.C. didirikan pada 1981 sebagai museum swasta nirlaba. Selama lima tahun sebelum resmi dibuka, NMWA beroperasi dari kediaman Holladay, yang menjadi kantor sementara dan tempat tur koleksi yang dipandu oleh docent museum. Pada tahun 1983, museum membeli gedungnya di 1250 New York Avenue, NW – sebuah bangunan seluas 78.810 kaki persegi yang menjadi landmark Washington di dekat Gedung Putih, yang dibangun pada tahun 1908 sebagai Kuil Masonik. Gedung tersebut direnovasi dan diperluas sesuai dengan standar desain, museum, dan keamanan tertinggi, serta memenangkan berbagai penghargaan arsitektur.
Pada bulan April 1987, NMWA dibuka untuk publik dengan pameran perdana American Women Artists, 1830–1930, sebuah survei yang dikuratori oleh salah satu sejarawan seni feminis terkemuka di negara ini, Dr. Eleanor Tufts.
Museum yang didirikan oleh Wallace F. Holladay dan Wilhelmina Cole Holladay ini merupakan museum besar pertama di dunia yang secara eksklusif didedikasikan untuk para seniman perempuan. NMWA telah memperoleh koleksi lebih dari 6.000 karya dari lebih dari 1.000 seniman, mulai dari abad ke-16 hingga saat ini. Koleksi tersebut meliputi lukisan, patung, fotografi, kriya, dan seni kontemporer. Termasuk dari karya yang disimpan di NMWA adalah karya Mary Cassatt, Alma Woodsey Thomas, Élisabeth Louise Vigée-LeBrun, dan Amy Sherald. NMWA juga menyimpan satu-satunya lukisan karya Frida Kahlo di Washington, D.C., Self-Portrait Dedicated to Leon Trotsky.
Tujuan utama didirikannya NMWA adalah membuat kontribusi perempuan dan mengoreksi kanon sejarah seni yang indeks namanya nyaris seluruhnya kaum laki-laki. Melalui koleksi dan pamerannya, NMWA mengajak para pengunjung untuk sejenak merenungi “mengapa begitu banyak seniman perempuan menghilang dari buku, arsip, dan dinding museum, padahal catatan dan karya mereka sebenarnya ada?”
Berbagai kajian menunjukkan bahwa penghapusan ini bukan disebabkan kurangnya kualitas, melainkan struktur sosial dan institusional yang mengatur akses perempuan terhadap pendidikan seni, patronase, jaringan, dan penulisan sejarah, sehingga terjadi penghapusan yang disengaja dan narasi yang timpang (Jackson, 2020; Giorgini & Panzera, 2022; Lieberman, 2015; Christensen, 2016).
Di tengah temuan tentang betapa kecilnya proporsi perempuan dalam koleksi permanen museum-museum besar dunia, termasuk di Eropa, NMWA tampil sebagai intervensi institusional yang sengaja menempatkan perempuan sebagai pusat cerita, mengoleksi karya mereka, menyusun basis data, menginventarisasi karya di koleksi publik dan privat, serta membangun salah satu pusat riset seni perempuan terbesar di dunia. Melalui cara pandang ini, museum menjadi medium perubahan sosial yang secara terang-terangan menunjukkan ketimpangan gender, sekaligus menawarkan bacaan ulang atas sejarah seni bahwa karya perempuan patut diabadikan, hanya saja selama berabad-abad dipilih untuk tidak diceritakan. Wallahu a’lam.