web analytics

Hutan adalah Rumah Kemanusiaan dan Penghambaan

0 0
Read Time:3 Minute, 6 Second

Sedikit banyaknya tentu kita tau perihal kabar Indonesia akhir-akhir ini: hutan-hutan yang terbakar, tanah yang membara, asap yang berhambur di angkasa yang memerah.

Ya, Indonesia sedang dihantam banyak bencana dan Karhutla salah satunya.

Karena tahun 2026 belum genap, di tahun 2025 saja, Data Status Deforestasi Indonesia (STADI) Yayasan Auriga Nusantara mencatat ada kenaikan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya. Dari 261.575 hektar jadi 433.751 ha. Hutan berubah menjadi tambang hingga kebun, perburuan dan perdagangan satwa terus meningkat, hingga perampasan lahan menjadi kawasan industri atau lahan sengketa.

Hingga dampaknya, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) mencatat pada periode 1–24 Agustus 2026, terdeteksi 202.848 titik hotspot (titik panas) di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 12.165 merupakan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, yang menandakan bahwa sinyal panas tersebut lebih kuat mengindikasikan keberadaan sumber panas nyata.

Kita sama-sama tau bahwa tak ada asap jika tak ada api. Tapi api pun tidak mungkin bisa ada tanpa sebab. Alam tidak mungkin saling melukai satu sama lain. Terawat dan rusaknya alam tidak lepas dari campur tangan perbuatan manusia. Karena Allah memang menciptakan alam untuk menunjang kehidupan manusia, dan manusia bertanggung jawab atas itu selaku khalifatu fil ardhi.`

Yusuf al-Qardhawi, cendekiawan Muslim asal Mesir menjelaskan:

أَنَّ هَذِهِ البِيْئَةَ مُهَيِّئَةٌ بِكُلِّ مَا فِيْهَا لِمَصْلَحَةِ الإِنْسَانِ وَخِدْمَةِ الإِنْسَانِ وَتَوْفِيْرِ حَاجَةِ الإِنْسَانِ

“Bahwa lingkungan ini, dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, telah dipersiapkan untuk kemaslahatan manusia, melayani manusia, dan memenuhi kebutuhan manusia.”

Ulama yang pernah menjadi Ketua Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional dan memiliki lebih dari 170 buku itu pun menjelaskan pandangannya soal lingkungan, bahwa lingkungan terbagi menjadi dua yaitu al-hayyat (dinamis), yang meliputi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian, lingkungan yang bersifat al-jamidah (statis), seperti alam semesta dan berbagai bangunan.

Lingkungan yang al-jamidah (statis) mencakup dua kategori, al-tabi’iyyah (natural), lingkungan yang berkembang secara alami. Sedangkan al-shana’iyyah (lingkungan buatan), perkembangan lingkungan yang melibatkan manusia. Seperti halnya pembuatan kanal, irigasi, perkebunan, dan pemukiman.

Dengan jelas, Al-Qur’an dan Sunnah mengingatkan kita untuk tidak merusak bumi beserta lingkungannya, yang justru lebih menekankan untuk memelihara alam. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya Rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”

Lafadz “fasad” dalam ayat ini dipahami oleh para ulama sebagai bentuk kerusakan yang mencakup berbagai dimensi: sosial, moral, dan juga ekologis. Menebang hutan sembarangan, mencemari sungai, merusak tanah, dan membuang sampah sembarangan bisa termasuk dalam kategori fasad yang dilarang oleh Islam.

Hutan adalah pemasok oksigen sekaligus rumah bagi jutaan makhluk hidup. Namun, keserakahan manusia kerap mengubahnya menjadi ladang keuntungan. Padahal, agama tak pernah membenarkan kerusakan demi kerakusan. Ingat, bumi bukan hanya milik kita, tetapi juga hak anak cucu kita untuk mewarisi dan menikmati kehidupan di dalamnya.

Tulisan ini ditutup dengan gubahan syair yang ditulis KH. Husein Muhammad dalam bukunya, Islam.

لقد غرسوا حتى كلنا واننا * لنغرس حتى ياءكل الناس بعدنا

Kakek dan nenek kita telah menanam

Dan hari ini kita memetiknya

Betapa baiknya bila kita sekarang menanam

Biar anak cucu kita kelak memetiknya

 

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Seni Menjadi Baik ala Stoikisme

Seni Menjadi Baik ala Stoikisme

Ketika Mesin Belajar Menulis, Manusia Harus Tetap Berpikir

Ketika Mesin Belajar Menulis, Manusia Harus Tetap Berpikir

Kenyanglah Engkau Kenyang, Engkau Akan Lapar Lagi Setelah Ini

Kenyanglah Engkau Kenyang, Engkau Akan Lapar Lagi Setelah Ini

Istilah yang Mengadat: Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi

Istilah yang Mengadat: Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi

Sawah Ada, Petani Muda ke Mana?

Sawah Ada, Petani Muda ke Mana?

Kepal Kepul Asap Tembakau

Kepal Kepul Asap Tembakau