web analytics

Dari Laut Bercerita, Saya Belajar

0 0
Read Time:2 Minute, 56 Second

Menonton film, saya ini berangkat dari seorang pembaca bukunya terlebih dahulu dan selesai. Siapapun yang sempat membaca bukunya, terlebih selesai, akan sepakat bahwa, “Laut Bercerita” adalah buku yang super gila serunya. Sebuah buku sejarah yang menampilkan potongan frame diorama dari perjuangan mahasiswa yang progresif atas rezim yang represif. Sebuah buku yang akan mengenalkan kepada kita akan rasa sadis, tragis, miris, ironis, sinis, magis, dramatis, kritis, dan skeptis.

Berbanding terbalik dari bukunya yang bisa saya garansikan akan kepastian keseruannya, tapi tidak untuk filmnya. Saya tidak cukup ahli untuk menggali dan membedah sinematografi. Saya hanya seorang pembaca buku, yang cukup penasaran akan buku bacaannya yang berhasil difilmkan.

Saya juga tidak akan menjelaskan isi cerita akan berjalan seperti apa secara keseluruhan. Untuk itu alangkah lebih baik untuk membaca buku atau menonton filmnya secara langsung dan mandiri. Atau setidaknya bisa cari tau dari sekumpulan resensi-resensi.

Sejujurnya jika boleh saya katakan: film ini serba nanggung!

Baik dari actionnya, romancenya, sedihnya, marahnya, hingga sadis dan tragisnya itu sendiri.

Film ini saya beri rating 7/10, dan tambah +1 untuk apresiasi setinggi-tingginya atas keberanian untuk tetap tayang dengan mengangkat muatan sensitif di tengah situasi negara seperti saat ini.

2 sisanya, -1 untuk banyaknya bagian buku yang tidak dimasukkan ke dalam film, salah satunya seperti pada bagian penting di Bungurasih. Dan -1 lainnya untuk bagian yang sudah dimasukkan ke dalam film, tapi tidak bisa diperkenalkan dan dikembangkan dengan baik, seperti tokoh Naratama dan Gusti untuk sub poin pengkhianat. Terlebih, alur terasa begitu cepat dan buru-buru sekali.

Meskipun saya tau, produser mengakui atas keterbatasan durasi yang dimiliki. Pun saya bisa memahami, bahwa film tidak bisa disamakan dengan buku sepenuhnya. Walaupun kenyataannya film itu memang terlahir dari buku.

Hemat saya, mungkin saja produser mau melebarkan pasar penontonnya, agar bisa diterima oleh banyak orang, yang tidak hanya dari kalangan pembaca bukunya, dengan dibuat lebih ringkas dan sesederhana mungkin. Yang terpenting, dengan durasi yang terbatas, gagasan utama itu tetap bisa tersampaikan dan ‘aman’.

Dari Laut Bercerita, saya belajar perihal bagaimana buku bisa menjadi alat moda transportasi perjuangan yang begitu masif. Seorang mahasiswa yang terdidik dengan membaca, menulis, dan diskusi, adalah kekuatan besar yang akan melahirkan pergerakan dan perlawanan atas ketidakadilan yang menistakan nilai-nilai kemanusiaan.

Tak heran jika saja rezim kala itu begitu takut dengan anak muda dan buku-buku.

Tak heran jika saja tokoh Sunu sampai mengatakan:

“Sama anak muda kok takut?! Dasar rezim pengecut!”

Namun di satu sisi saya jadi berefleksi dan intropeksi, ada semacam rasa malu atas ketidakbecusan saya dalam memperlakukan buku-buku di era kini. Terkadang masih dan kerap kali malas dalam membaca, menulis, dan berdiskusi, terlebih andil dalam pergerakan dan perlawanan turun di jalan.

Bagaimana mereka yang sejak dulu sebegitu keras dan lantang dalam memperjuangkan, tidak hanya buku, tapi kehidupan itu sendiri. Sedangkan saya hanya bermalas-malasan dan berdiam diri.

Tokoh Kinanti bilang:

“Laut, buku-buku memang bagus untuk mengisi ruang kosong dalam jiwa. Tapi lihatlah itu, kehidupan sebenarnya ada di luar buku!”

Terkhusus untuk tokoh Biru Laut, saya juga jadi belajar bahwa ekosistem keluarga memang sebegitu pentingnya dalam membentuk kepribadian seorang anak. Ayahnya yang seorang wartawan, ibunya seorang fotografer, dan adiknya yang berhasil menjadi seorang dokter, dapat memastikan bagaimana keluarga pembelajar dan pemberani itu terbentuk.

Dan adanya meja makan dalam sebuah rumah, bagi saya, menandakan ia akan masih dan selalu menjadi rumah, tempat untuk pulang: kekeluargaan itu masih dan selalu menetap dalam keluarga.

Biru Laut, seorang laki-laki yang terdidik dengan buku, keluarga dan kehangatan, perkuliahan, keberanian, cinta dan perlawanan.

Juga ucapan:

“Panggil Kinan saja. Aku suka baca tulisanmu. Bagus!”

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Meninjau Adaptasi Kontemporer Seni Wayang

Meninjau Adaptasi Kontemporer Seni Wayang

Tak Ada Ujung Dalam Belajar

Tak Ada Ujung Dalam Belajar

Berbahasa Bersama Satu Nusantara: Merefleksikan Fenomena Alih Bahasa di Pesantren

Berbahasa Bersama Satu Nusantara: Merefleksikan Fenomena Alih Bahasa di Pesantren

Sudahkah Kita Membangun Katahanan Negeri?

Sudahkah Kita Membangun Katahanan Negeri?

Gus Dur dan Maulid Hijau

Gus Dur dan Maulid Hijau

Fenomena Beauty Privilege dalam Kehidupan Sosial

Fenomena Beauty Privilege dalam Kehidupan Sosial