Hujan, angin kencang, dan jalanan menggenang bukanlah rintangan besar untuk menghalangi para santri berangkat Manaqib Syekh Abdul Qodir dan Haul Akbar Masyayikh Lirboyo pada Jumat (26/05) Malam. Suasana dingin di malam hari dan gulitanya malam yang mencekam terasa lebih hangat dengan merdunya lantunan manaqib dan sholawat.
Bagi para santri cuaca seburuk apapun, selama bertujuan untuk mengabdikan diri pada kiai tidak akan menjadi penghalang ataupun hambatan. Memperingati haul termasuk salah satu cara mengabdikan diri pada guru. Karena meskipun raga telah tiada, namun jiwa dan ilmu seorang guru akan senantiasa terabadikan di alam semesta.
Sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Alala, guru itu bagaikan mutiara dan orang tua itu bagaikan cangkangnya. Dalam artian lain derajat guru itu lebih mulia dari derajat orang tua. Mengapa demikian?
Dikutip dari dawuh Agus Nabil Ali Ustman putra keempat KH. Imam Yahya Mahrus dalam acara halal bi halal Istikmal Hipska, beliau ngendikan, “Orang tua itu dibagi menjadi tiga, yang pertama orang tua bi nasab, kedua orang tua bi nikah, dan ketiga orang tua bi ilmu. Diantara ketiganya orang tua bi ilmu yang paling tinggi derajat kemuliaannya. Karena orang tua bi ilmu itu yarfa’uka minal ardh ila sama’. Maksudnya, orang tua yang mengangkat derajat kita dari bumi naik ke langit”.
Maka dari itu, mengabdi kepada guru seperti dengan memperingati haulnya merupakan suatu penghormatan bagi santri terhadap jasa-jasa guru mulianya. Meskipun hujan menerjang hingga badai mengguncang. Sebagai santri yang mengabdi pada guru tak akan pernah pupus semangatnya hanya karena guyuran hujan ataupun hembusan angin kencang.

Seperti yang tergambar dalam keantusiasan santri-santri Al-Mahrusiyah dalam acara peringatan Haul Manaqib Akbar Masyayikh Lirboyo yang diselenggarakan pada malam Jum’at, 26 Mei 2022. Rintik-rintik hujan yang cukup deras hingga meluapakan air di jalanan serta membuat kuyup pakaian ditambah dinginnya angin malam yang menusuk-nusuk pori-pori kulit di sekujur badan sama sekali tidak menyurutkan semanagat dan antusias mereka dalam melantunkan bait-bait manaqib serta sholawat diba’iyah.
Bahkan lokal yang sempat porak poranda karena angin kencang dan genagan air hujan yang membanjiri tempat acara bukan menjadi problematika mereka membatalkan haul akbar yang selalu dinanti-nanti keterselenggaraannya. Malahan, meski cuaca buruk bukan berarti semangat ikut terpuruk. Para kang santri justru dengan sigapnya mero’ani lokal yang banjir kerena guyuran hujan, mba-mba santri pun turut berpartisipasi memeriahkan acara meski harus berjalan kaki dibawah derasnya hujan, dan duduk di lokal acara yang cukup memprihatinkan karena amukan angin kencang. Jam’aah dan tamu undangan pun tak kalah hebat partisipasinya, meski harus duduk berdesakan dengan lokal yang basah karena air bah. Wajah-wajah kecawa sama sekali tak terukir dalam mimik wajahnya.
Dengan demikian dapat kita simpulkan sebagai seorang santri meskipun telah menjadi alumni jangan sampai lalai untuk mengenang dan mendo’akan jasa-jasa para guru mulianya. Sosok guru yang telah megorbankan seluruh waktunya dan segenap jiwa raga untuk mendidik anak-anaknya menjadi penerus umat yang religius lagi genius. Tetap semangat mengabdi meski lelah selalu menanti, tapi yakinlah bahwa keridhoan dan keberkahan seorang guru pasti akan datang menghampiri. Waallah a’lam