web analytics

Ikhlas Bukan Berarti Gratis: Perspektif Islam tentang Profesionalisme Guru

0 0
Read Time:3 Minute, 33 Second

Guru adalah orang yang sangat dimuliakan dalam Agama Islam. Mungkin tidak hanya di agama ini saja, tetapi berlaku bagi seluruh kalangan. Hal ini karena seorang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang ilmunya selalu dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam kehidupan.

Akan tetapi, mengenai dunia keguruan ini, agama Islam memiliki SOP tersendiri dalam memberikan penegasan berupa sifat-sifat terpuji yang dapat menjadi contoh bagi murid-muridnya. Mengapa demikian? Karena guru sering dikatakan sebagai orang tua di sekolah, madrasah, ataupun lembaga lainnya.

Pada kali ini kita akan membahas sedikit tentang SOP atau hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang guru agar tetap menjadi panutan bagi muridnya.

  1. Jika suatu saat kita memiliki seorang murid atau seseorang yang ingin belajar kepada kita, kemudian karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki orang tersebut ingin berpindah kepada guru lain atau berguru kepada selain kita, maka alangkah baiknya sebagai guru kita merelakannya.

Mengapa demikian? Alasannya sangat sederhana. Karena jika kita menjadi guru, tujuan kita bukanlah duniawi seperti pekerjaan lainnya, melainkan mengharap keridhaan Allah SWT serta kebermanfaatan ilmu yang kita sampaikan.

Kemudian muncul pertanyaan pada era ini: jika demikian, apakah seorang guru seharusnya tidak mengharap royalti atau imbalan apa pun? Mari kita renungkan. Jika suatu saat kalian menjadi guru dan membutuhkan tenaga atau kebutuhan harian untuk mengajar, lalu ada teman atau atasan berkata, “Seorang guru harus ikhlas dalam menyampaikan ilmu, jangan terlalu keduniawian,” tentu secara tidak langsung kalian akan merasa tersinggung dan membalas dengan alasan kebutuhan hidup. Walaupun menurut kalian hal itu mungkin tidak akan terjadi atau justru sebaliknya.

Namun, jika kita hanya melihat dari satu sudut pandang, hal ini dapat mencekik ekonomi para guru dan menjadi permasalahan di kemudian hari.

Pada akhirnya, pembahasan ini hanya untuk memberi wawasan edukatif kepada para pembaca agar lebih ikhlas serta berharap ilmu yang diajarkan dapat lebih bermanfaat bagi muridnya.

Melanjutkan hal di atas, mengapa kita harus ikhlas menerimanya bahkan mendukungnya? Karena hal ini berguna bagi perkembangan wawasan murid agar tidak terpaku pada satu pandangan saja. Sebagaimana diriwayatkan dalam Musnad Imam Abu Muhammad Ad-Darimi rahimahullah dari Ali bin Abu Thalib ra, beliau berkata:

وقد روينا في مسند الإمام المجمع على حفظه وإمامته أبي محمد
الدارمي رحمة الله عليه عن علي بن أبي طالب ﵁ أنه قال يا حملة القرآن أو قال يا حملة العلم اعملوا به فإنما العلم من عمل بما علم ووافق علمه عمله وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقيهم يخالف عملهم علمهم وتخالف سريرتهم علانيتهم يجلسون حلقا يباهي بعضهم بعضا حتى أن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه أولئك لا تصعد أعمالهم في مجالسهم تلك إلى الله تعالى

Artinya: “Wahai orang-orang berilmu! Amalkanlah ilmumu, karena orang alim ialah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya dan ilmunya sesuai dengan amalnya. Akan muncul orang-orang yang mempunyai ilmu namun tidak melampaui tenggorokan mereka; perbuatan mereka bertentangan dengan ilmu, dan batin mereka bertentangan dengan zahirnya. Mereka duduk di majelis-majelis, sebagian membanggakan diri kepada yang lain, bahkan marah kepada teman duduknya karena belajar kepada orang lain dan meninggalkannya. Amal-amal mereka di majelis itu tidak akan sampai kepada Allah SWT.”

  1. Sebagai seorang guru hendaklah kita memiliki akhlak yang terpuji. Tujuannya agar menjadi panutan bagi murid sehingga mereka memiliki contoh dalam bersikap dan beradab dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa adab atau tata krama yang harus dimiliki seorang guru agar dapat dicontoh muridnya adalah:
• Zuhud terhadap dunia (bukan berarti menolak dunia, tetapi tidak terlalu bergantung pada hal-hal duniawi seperti royalti atau keuntungan, serta tidak berlebihan dalam mempermasalahkan upah).
• Memiliki sifat dermawan.
• Tidak berwajah masam, melainkan berseri-seri tanpa melampaui batas.
• Bersikap sabar.
• Khusyuk.
• Tenang.
• Berwibawa.
• Dan masih banyak lagi budi pekerti yang harus dicontohkan agar murid tidak kehilangan arah dalam berbudaya luhur di kehidupan sehari-hari.

  1. Saat menjadi pengajar, kita harus bersikap lemah lembut kepada murid. Mengapa hal ini penting? Dalam dunia pendidikan modern, sikap ramah sangat diperlukan karena dapat membangun rasa aman secara psikologis dan mengurangi rasa takut terhadap penilaian maupun kesalahan.

Sikap tersebut juga membangun suasana kelas yang tidak mencekam. Murid akan merasa dihormati dan dihargai. Terlebih di era sekarang, kesadaran untuk saling menghargai semakin meningkat. Oleh karena itu, sebagai guru kita juga harus mampu menghormati murid.

Itulah beberapa dasar SOP yang perlu dilakukan oleh seorang guru agar murid memiliki panutan yang tidak hanya menyuruh kepada kebaikan, tetapi juga memberi contoh secara langsung.

Wallahu A’lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu

Steril dari Ragam Pernikahan Masa Jahiliyah, Inilah Bentuk Penjagaan Nur Rasulullah SAW

Steril dari Ragam Pernikahan Masa Jahiliyah, Inilah Bentuk Penjagaan Nur Rasulullah SAW

Dermawan dan Makna Ramadhan

Dermawan dan Makna Ramadhan