Sebagai Umat Nabi Muhammad SAW, sudah kewajiban bagi kita untuk terus menumbuhkan rasa mahabbah (cinta) kepada Sang Baginda. Terlebih didalam bulan maulid ini, bulan kelahiran Rasulullah SAW, dengan memperbanyak membaca sholawat atau membaca sejarah yang diniatkan untuk mengenang kembali perjalanan dan pengorbanan beliau untuk kita teladani dalam kehidupan kita sehari-hari.
Salah satu sholawat yang akan penulis bahas adalah Qosidah Burdah karya Imam Al-Bushiri, yang sangat masyhur di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Lahir
Imam Al-Bushiri lahir di tanah Dallas sebuah desa di negeri Maroko, bernama lengkap Syaraffuddin Abu Abdullah Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah Ash-Shonhaji Al-Bushiri Al-Mishri. Beliau lahir pada tahun 609 H. Beliau lalu tumbuh di desa Bushir yang terletak di negara Mesir, yang kemudian nisbat atau sebutan Al-Bushiri merujuk pada desa tersebut. Beliau meninggal pada tahun 696 H, yang kemudian dimakamkan di Alexanderia, Mesir. Berdekatan dengan makam gurunya, yakni Syaikh Abu Al-Abbas Al-Mursi.
Perjalanan Keilmuan
Sejak usia belia, Imam Al-Bushiri dididik ilmu Al-Qur’an dan ilmu agama oleh ayahnya. Beliau dibesarkan di keluarga yang sangat mencintai ilmu, sehingga tak heran beliau menjadi ulama yang alim. Beliau kemudian belajar kepada banyak ulama, termasuk Syaikh Abu Al-Abbas Al- Musri, yang merupakan murid dari Syaikh Abu Al- Hasan Asy-syadili (pendiri thoriqoh Asy-Syadiliyah) sehingga mempengaruhi beliau menjadi ulama sastrawan sekaligus sufi, dan kemudian beliau mengembangkan ilmu sastra dan ilmu filsafatnya melalui semangat pencarian ilmu dan kecintaannya kepada Sang Baginda Nabi.
Proses Terciptanya Mahakarya
Imam Al-Bushiri adalah ulama sastrawan, penyair ulung, sehingga beliau sering kali diundang oleh menteri agar datang ke istana untuk meramu kata demi kata untuk memuji dan memuja para pemimpin negara. Aktifitas tersebut beliau lakukan sampai Imam Al-Bushiri merasa gelisah dan gundah gulana. Bagaimana ia berikan pujian kepada manusia sedangkan hampir tidak pernah ia menulis pujian kepada Sang Mushtofa yang Sang Kholiq pun mengakuinya sebagai insan mulia.
Akhirnya kegelisahan ini menjadikan Imam Al-Bushiri jatuh sakit tak berdaya. Dikatakan, beliau mengalami penyakit stroke/lumpuh yang menyebabkan seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan terkecuali tangannya. Dalam keadaan sakit ini akhirnya beliau memutuskan untuk menulis bait demi bait pujian kepada Sang Baginda, dengan harapan untuk kesembuhannya dan didasari atas kecintaannya kepada Nabi Saw.
Setelahnya Imam Al-Bushiri pun tidur dan berharap ia dapat berjuma dengan Nabi Muhammad Saw. Benar saja, di dalam mimpinya Imam Al-Bushiri melihat Rasulullah SAW yang mengusap wajahnya dengan tangan beliau yang mulia, hingga saat beliau terbangun di keesokan paginya, Imam Al-Bushiri sudah sembuh dari penyakitnya.
Hal ini membuat banyak orang berdatangan ke rumahnya, salah seorang bertanya kepada Imam Al-Bushiri,
“Wahai tuanku, saya berharap engkau memberikan syair yang di dalamnya terdapat pujian kepada Rasulullah!”
“Syair yang mana yang engkau kehendaki?”
“Syair yang diawali dengan ‘amin tadzakurin jiranin’.” tutur nya.
Setelahnya Imam Al-Bushiri memberikannya, sejak saat itu banyak yang mengambil berkah darinya dan menjadikannya sebagai wasilah untuk kesembuhan.
Penamaan Burdah
Burdah sendiri sebenarnya memiliki nama Al-kawakib Ad-Duriyyah Fi Mahd Khair Al-Bariyyah akan tetapi orang-orang lebih mengenal dengan nama Burdah. Burdah sendiri memiliki arti yakni jubah, yang mana hal ini merujuk pada jubah nabi yang beliau berikan kepada salah seorang sahabat bernama Ka’ab bin Zuhair, yang sebelum masuk Islam ia menulis bait-bait syair yang mencaci nabi.
Singkat cerita, Ka’ab lalu bertemu dengan nabi dan memintanya agar menerimanya untuk masuk Islam, dalam pertemuannya ini Ka’ab bin Zuhair lalu melempar bait-bait syair yang memuji nabi, sehingga nabi mengambil jubahnya dan mengenakannya kepada Ka’ab bin Zuhair.
Akan tetapi mimpi yang dialami oleh Imam Al-Bushiri tersebar luas yang karyanya ia tulis atas dasar kecintaannya kepada Sang Baginda sebagai wasilah mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw yang menyebabkan Imam Al-Bushiri sembuh dari penyakitnya. Sehingga ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa burdah atau yang memiliki arti selimut atau jubah, karena syair ini dapat menjadi penyebab seseorang terhindar dari cobaan dan sebagai media penyembuhan dari berbagai macam penyakit, laksana selimut atau jubah yang melindungi tubuh dari teriknya panas matahari. Sehingga orang-orang lebih mengenal karya sang pujangga yang sangat besar cintanya kepada Nabi ini dengan istilah Burdah.
Syair-syair Burdah tercipta dari sosok yang sangat besar cintanya kepada nabi, pujian-pujian ditulis untuk merayu dan memuja. Sehingga berkat besarnya cinta beliau kepada Nabi Muhammad Saw menjadikan karyanya begitu keramat hingga banyak sekali berkah yang tersebar. Hal ini mengingatkan kita untuk terus mencintai nabi yakni dengan membaca sholawat. Membaca sholawat berarti membuat nabi bahagia, dan siapa saja yang membuat Nabi bahagia, maka Allah berikan kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat.
Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang Allah berikan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam.