web analytics

Kemelut Bintang.

{“data”:{“pictureId”:”a295a6abb87e4e13bd8ad1711c592e29″,”appversion”:”5.3.0″,”stickerId”:””,”filterId”:”232461699″,”infoStickerId”:””,”imageEffectId”:””,”playId”:””,”activityName”:””,”os”:”android”,”product”:”retouch”,”originAppId”:”7356″,”exportType”:””,”editType”:””,”alias”:””,”enterFrom”:”enter_launch”,”capability_key”:[“filter”],”capability_extra”:{“filter”:[“232461699″]}},”source_type”:”hypic”,”tiktok_developers_3p_anchor_params”:”{“client_key”:”awgvo7gzpeas2ho6″,”template_id”:””,”filter_id”:[“232461699″]}”}
0 0
Read Time:2 Minute, 54 Second

Malam berbalut bintang indah di cakrawala. Sepasang pemuda duduk di dalam sebuah gubuk sederhana dengan ditemani secangkir kopi dan sepiring camilan. Mereka berbincang dengan asyik tentang hal yang mungkin saat ini masih belum bisa digapai oleh mereka berdua.

“Bud! Menurutmu, di masa depan ada nggak, ya, jiwa kita yang udah selesai dengan masalahnya?”

“Maksudmu?”

“Aku pernah membaca, jika saat ini kita bersungguh-sungguh, jiwa kita di masa depan bakal membantu.”

“Ha … ha …” (tertawa getir).

“Lhah, kok ketawa sih?”

“Ya, bagaimanapun juga, saat ini mungkin banyak kemungkinan kita berubah di masa depan.”

“Benar juga.”

“Terus menurutmu?”

“Ya, mungkin walau saat ini kau bekerja keras, tapi bukan karena dirimu, percuma saja.”

“Mungkin kau benar.”

“Terus selanjutnya seperti apa?”

“Entahlah, masih terlalu gelap untuk melihatnya.”

“Ingin kuberi lampu?”

“Terima kasih. Untuk saat ini akan kusimpan jika perlu.”

“Maksudnya?”

“Ya, seperti yang kau ketahui.”

“Baiklah, hanya saat perlu?”

“Ya, kau benar.”

“Mengapa?”

“Percuma menurutku jika kugunakan sekarang.”

“Coba jelaskan!”

“Sudahlah, mungkin tak perlu. Kau sudah semestinya tahu.”

“Baiklah, tak apa.”

Mereka pun berdiam dan menyeruput secangkir kopi yang mereka buat, walau sudah tak hangat lagi.

“Hai, Bud. Rasakan kopinya, dia sudah mulai dingin.”

“Benarkah?”

“Coba rasakan. Mungkin kau akan mengerti.”

“Kau benar. Dia sudah mulai dingin.”

“Apa karena kelamaan didiamkan, ya?”

“Itu termasuk yang utama.”

“Walau bentuknya sama, tapi sudah berbeda.”

“Yap, kau benar. Tak senikmat awal tadi.”

“Hah …” mengembuskan napas.

“Kenapa?”

“Tak apa. Lagipula hanya secangkir kopi, bukan?”

“Ya, hanya secangkir kopi yang pernah hangat, bahkan panas, serta nikmat untuk dinikmati.”

“Tapi tak apa.”

“Ya, kau benar. Tak apa.”

“Lagipula ini sudah terlanjur ada. Dan nikmati saja.”

“Kau benar. Jika membuat lagi, akan berakhir seperti ini juga, kan?”

“Kau benar. Untuk apa membuat hal yang sama kembali? Cukup menjadi pelajaran saja.”

“Ya, pelajaran untuk selanjutnya, bahkan selamanya, agar tak sama lagi.”

“Bayangkan saja jika kubuat kembali. Kau pasti sudah tahu akhirnya.”

“Dan pastinya yang pertama akan terbuang dan tak digunakan.”

“Lagi pula, menyia-nyiakan juga tak boleh.”

“Siapa yang mengatakan?”

“Ya, itu kau benar.”

“Heh … siapa yang mengatakan?”

“Seperti itulah, terlalu banyak.”

“Yap, kau benar. Bak hujan yang berbeda saat jatuh.”

“Mungkin seperti itu.”

“Atau seperti radio 90-an yang lupa diservis.”

“Ha … ha … ha …” mereka tertawa bersama.

“Lagi pula mereka sama saja. Tak ada bedanya.”

“Tetap selalu ada, kawan.”

“Apa bedanya?”

“Beda bentuk saja.”

“Ha … ha … ha ….”

“Kau benar, kawan. Sangat berbeda, bahkan sangat jauh.”

“Tapi mengapa mereka seperti itu?”

“Kau lupa, kawan.”

“Apa itu?”

“Itu cuan, teman.”

“Apa itu? Bisa jelaskan! Jangan terlalu keasingan dong.”

“Ooo … baiklah, itu profit, teman.”

“O … profit. Baiklah, mungkin aku ikut boleh nggak?”

“Silakan saja. Sebut saja apa yang kau punya.”

“Tunggu dulu. Aku punya rumah dan beberapa hal di dalamnya.”

“Itu belum cukup, kawan.”

“Kau yakin?”

“Ya, begitulah kenyataannya.”

“Baiklah, akan menjadi yang lain saja.”

“Itu lebih baik.”

“Hah … bukankah seperti mereka lebih baik?”

“Kau lupa?”

“Apanya?”

“Mungkin kau akan tahu.”

“Hmm …”

“Ha! Kau benar, kawan. Hanya merasa saja. Sama seperti yang kita rasakan.”

“Kau cerdas, kawan.”

“Sudahlah, sekarang bagaimana nasib kopi kita? Dia sudah dingin.”

“Seperti yang kau katakan. Nikmati saja. Lagipula rasanya masih sama.”

“Kau benar. Yang dicari adalah rasanya, bukan nikmatnya, bukan?”

“Yap, kau benar. Selagi rasanya masih sama, tak masalah.”

“Baiklah, terima kasih karena telah mengingatkan.”

“Mungkin sudah seharusnya.”

“Baiklah, mari kita habiskan!”

“Jangan terburu-buru, kawan. Rasakan saja dahulu, kau akan tahu kelebihannya.”

“Baiklah.”

Di malam itu, sepasang pemuda menikmati keindahan malam dengan teman yang selalu mereka bawa, bahkan jika suatu saat salah seorang lupa. Mereka saling mengingatkan dan terus berulang.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ikan Adalah Manusia?

Ikan Adalah Manusia?

Senja Murahan Merasuki Ikan dalam Kolam

Senja Murahan Merasuki Ikan dalam Kolam

Untungnya, Bumi Masih Berputar

Untungnya, Bumi Masih Berputar

Medan Magnet Bumi

Medan Magnet Bumi

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Nektar

Nektar