web analytics

Khazanah 2026: Makam Raden Fatah

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:1 Minute, 33 Second

Demak, Elmahrusy Media. Senja sudah berubah jadi gelap langit malam. Bus sudah bergeser ke parkiran yang dekat dengan Makam Raden Fattah. Meski ada jarak antara parkiran dan makam sampai rombongan santri putri diminta menaiki ojek. Sedangkan rombongan santri putra berjalan kaki sebab dianggap kuat terlebih banyak jalan pintas untuk melipat jarak parkiran ke makam.

Megah Masjid Agung Demak yang serasi dengan kemerlap lampu Alun-Alun yang ramai. Hampar halaman masjid membuat tubuh dengan nyaman mencari posisi ternyaman bersantai. Banyak santri memilih mandi setelah berkutat dengan angin Kota Demak yang menyentuh kulit. Waktu singgah juga lumayan lama untuk menunaikan kewajiban sholat dengan mengangkat takbir sholat jama’ qoshor ta’khir sesuai arahan panitia. Meski, lebih dulu kami tiba daripada adzan Masjid Agung Demak berkumandang.

Setelah semua peserta selesai mendirikan sholat. Rombongan santri putri diminta terlebih dahulu memasuki area Makam Raden Fattah, disusul rombongan santri putra. Di jalur masuk makam, terpampang besar dengan tulisan berbingkai manaqib Raden Fattah. Diceritakan perjalanan dari lahir sampai dimakamkan di tempat kami membaca tulisan tersebut. Lampu kuning beserta pagar besi menjemput takjub menambah khusyuk.

Agus H. Nabil Ali Ustman sebagai dzuriyah yang datang lebih awal mengambil peran sebagai pemimpin tahlil. Disusul KH. Melvien Zainul Asyiqien yang datang setelahnya. Diikuti kedatangan KH. Reza Ahmad Zahid sambil menggandeng tangan Sang Ibunda, Ibu Nyai Zakiyah Miskiyah. Agus. H. Izzul Maula Dliyaullah yang datang paling terakhir memilih bersinggah sebentar di tempat duduk area makam, ditemani sang istri. Sebelum memasuki area Makam Raden Fattah, Gus Izzul (Sapaan akrab Agus H. Izzul Maula Dliyaullah) juga sempat menyapa beberapa alumni yang turut hadir bertahlil bersama kami.

Setelah Gus Reza menyelesaikan do’a tahlil. Semua peserta langsung diarahkan keluar area makam dan segera menuju bus, didahului dengan beranjaknya rombongan santri putra disusul rombongan santri putri. Setelah ini kami akan menempuh perjalanan panjang ke Cirebon, Jawa Barat. Menurut perkiraan panitia waktu yang akan kami tempuh sekitar lima jam.

About Post Author

Abidzar Maulana

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
Khazanah 2026
ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Isra Mi’raj : Momentum Memetik Barokah dan Menjemput Manfaat

Isra Mi’raj : Momentum Memetik Barokah dan Menjemput Manfaat

Kuis Pemantik dan Analogi Unik Warnai Peringatan Isra’ Mi’raj di Asrama Al-Misky

Kuis Pemantik dan Analogi Unik Warnai Peringatan Isra’ Mi’raj di Asrama Al-Misky

Gus Reza Memaknai Isra Mi’raj Dalam Masbro Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah 3 Ngampel

Gus Reza Memaknai Isra Mi’raj Dalam Masbro Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah 3 Ngampel

Masbro dan Is’ra Mi’raj Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah Putra Lirboyo

Masbro dan Is’ra Mi’raj Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah Putra Lirboyo

Khazanah 2026: Makam Masyayikh Gedongan

Khazanah 2026: Makam Masyayikh Gedongan

Khazanah 2026: Makam Sunan Gunung Jati

Khazanah 2026: Makam Sunan Gunung Jati