Kudus, Elmahrusy Media. Matahari terik menyengat ubun-ubun saat kaki melangkah keluar bus melewati parkiran menuju pangkalan ojek. Makam kedua di Jawa Tengah sekaligus waktu kami untuk melaksanakan sholat jama’ qoshor taqdim. Keringat yang tetes demi tetes keluar tidak menyurutkan semangat kami sedikit pun. Panas dan lelah sedikit terobati berkat takjub memandang indahnya menara Sunan Kudus yang istimewa.
Sebelum pergi ke Makam Sunan Kudus panitia sudah membagikan dua tiket untuk naik ojek menuju makam. Satu tiket untuk berangkat dan satu lagi untuk pulang kembali ke parkiran bus. Di tengah riuh keberangkatan peserta tetap mengenakan helm demi keselamatan berkendara. Polisi yang menjaga jalanan Kota Kudus pun menyapa kami yang lalu-lalang silih berganti dijemput ojek.
Sampai kami di area Makam Sunan Kudus, menara oren batako tanpa cat itu menyapa dengan keindahannya. Arsitektur kuno nan indah membawa kami ke tahlil berikutnya. KH. Reza Ahmad Zahid pun memimpin dan membuka dengan tawasul. Hingga tahlil berakhir bacaan kami tetap serempak lantang. KH. Melvien Zainul Asyiqien pun memimpin do’a dengan khusyuk. Sampai rangkaian tahlil selesai dan kami pun beranjak, menuju masjid guna melaksanakan sholat.
Jama’ qoshor taqdim kami tunaikan di masjid depan gerbang masuk makam, di bawah menara ikonik itu. Do’a kami panjatkan sekaligus pamit undur diri kami dari Makam Sunan Kudua. Serempak kami pun melangkah menuju penjemputan ojek dengan bekal karcis dari panitia kami pun kembali ke parkiran bus.
Kami juga sempat mendengar apresiasi luar biasa dari penjaga pangkalan ojek. “Saya akui bila Lirboyo melaksanakan ziarah pastilah tertib.” Hal ini diamini panitia yang diajak berbincang. Namun, ketertiban ini pula menjadi tanggung jawab yang harus dijaga tahun ke tahun supaya nama yang sudah bersih tidak kotor berkat segala kesalahan kami sebagai peserta.