Kediri, Elmahrusy Media. Pondok Pesantren Al-Misky HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri sukses selenggarakan rangkaian kegiatan MATSABA (Masa Ta’aruf Santri Baru) yang berlangsung sejak tanggal 16–24 Juli 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk membimbing santri baru untuk mengenal lebih dekat kehidupan di Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah, khususnya Asrama Al-Misky.
Rangkaian Kegiatan
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan selama MATSABA, antara lain:
Demi menciptakan suasana yang tidak membosankan, panitia menyisipkan permainan dan teka-teki ringan yang bersifat edukatif dan menyenangkan. Ini menjadi penyegar suasana sekaligus sarana yang membangun kekompakan antar peserta.

Puncak Acara: Penutupan MATSABA
Acara puncak penutupan MATSABA dilaksanakan pada malam Jum’at Pon, bertepatan dengan kegiatan rutin Rotibul Haddad dan Maulid Ad-Diba’ yang diikuti oleh seluruh santri Asrama Al-Misky. Acara dimulai pada pukul 20.30 WIB, dan ditutup dengan pengumuman penghargaan dari panitia, yaitu:
Penghargaan ini diberikan langsung oleh Ning Hj. Niswatul ‘Arifah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Misky HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri, sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat, kreativitas, dan kekompakan para santri baru selama mengikuti kegiatan MATSABA.

Pada kesempatan kali ini, Ning Hj. Nisawtul ‘Arifah –atau yang kerap disapa Ning Rifa– menyampaikan wejangan yang menyejukkan hati, sebagai bekal awal perjuangan para santri di Asrama Al-Misky. “Menuntut ilmu itu lumrah jika disertai keletihan, kepayahan dan kesulitan.” Beliau menggambarkan bahwa hidup di Pesantren dapat melatih kekuatan mental dan fisik, agar kelak, ketika para santri terjun di masyarakat, mereka tidak mudah rapuh menghadapi lika-liku kehidupan.
“Secara tidak langsung, kalian sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika di Pondok Pesantren. Ro’an bareng, makan bareng, berjuang bareng.” Tutur Beliau. Memang, aktivitas-aktivitas di Pondok Pesantren menjauhkan para santri dari sifat individualistik. Sebaliknya, kita dibiasakan untuk saling bahu-membahu antar sesama penuntut ilmu.
Beliau juga menjelaskan bahwa dalam relasi sosial, tidak ada istilah senior dan junior. Hierarki di tingkatan formal maupun non-formal bukan untuk tindas-menindas, melainkan menjaga sikap untuk bisa mengayomi dan menghormati. “Tidak ada istilah senior atau junior. Yang ada adalah yang tua mengayomi, dan yang muda menghormati.”
Memahami perasaan rindu yang sering dialami santri baru, Ning Rifa menyampaikan bahwa rasa rindu terhadap orang tua dan rumah adalah hal yang wajar. Namun, justru itulah yang harus dijadikan semangat dalam berjuang. “Kangen rumah itu wajar. Rindu orang tua itu wajar. Bahkan harus. Tapi justru itulah yang harus menjadi pemacu semangat. Kalian adalah harapan masa depan orang tua. Kelak ketika orang tua sudah tiada, amal jariyah yang mereka butuhkan hanyalah do’a dari anak-anak yang sholih-shalihah.” Terang Beliau.
Tak hanya itu, istri dari KH. Reza Ahmad Zahid ini juga berpesan kepada para santri untuk selektif dalam pergaulan di Pondok Pesantren, sebagaimana yang tersirat di dalam nadzom Alala, bahwa seseorang itu dilihat dari kebiasaan temannya. Apabila temannya baik, maka baik. Begitu sebaliknya.
Beliau mengakhiri acara penutupan MATSABA ini dengan do’a agar para santri diberikan keistiqamahan, keberkahan, kelimpatan akal, dan kekuatan iman. “Dengan berakhirnya Matsaba ini, maka secara tidak langsung kalian telah resmi menjadi santri Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah.” Pungkas Beliau.
Wallahu a’lam.