Kediri, Elmahrusy Media – (21/09/25) Hari ini Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah III Kediri mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Syekh Afeefuddin Al-Jailani. Acara dimulai pada pukul 08.00 pagi, diawali dengan pembacaan sholawat yang dibawakan oleh grup habsy. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dibawakan oleh KH Ahmad Shofawi Al-Ishaqi. Sebelumnya, dinyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hubbul Wathon oleh segenap santri dan santriwati serta para tamu undangan.
Setelahnya, diadakan pembacaan Maulid Simtuddurar yang dibawakan para santri Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah III. Dilanjutkan sambutan dari KH Reza Ahmad Zahid. Dalam sambutannya, beliau menceritakan tentang pertemuannya dengan Gubernur Jawa Timur sekaligus kunjungannya terhadap Syekh Afeefuddin Al-Jailani.
Kemudian, pukul 12.30, Mau’idhoh Hasanah oleh beliau, Syekh Afeefuddin Al-Jailani. Dalam mau’idhohnya, beliau berkata bahwa jika kita mengingat Rasulullah, kita melakukan ketaatan sesuai yang diajarkan olehnya. Ia beranggapan bahwa maulid ini sebagai bentuk cinta kita kepada Rasulullah SAW, dan beliau memastikan bahwa Rasulullah juga mencintai kita sebagai umatnya. Beliau juga mengharapkan agar seluruh alumni Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah III menjadi orang yang dapat menebarkan Islam dengan bahasa yang penuh toleransi.
Tak hanya itu saja, beliau juga memberikan nasihat yang diambil dari kitab Fathul Robbani. Dalam kitab itu dijelaskan tentang ilmu, mengamalkan, serta ikhlas dalam mencari ilmu. Menurut beliau, tiga komponen tersebut harus saling berkesinambungan. Beliau berharap agar para santri bisa berdakwah kepada seluruh umat Islam di dunia. Beliau juga mencontohkan kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani saat berada di Baghdad, yang mana beliau mengamalkan tiga unsur di atas dan menjadi orang besar di sana.
Dalam sesi terakhir, beliau menjawab beberapa pertanyaan dari para santri. Ada sesuatu yang sangat penting mengenai jawabannya, yaitu tentang peperangan di Palestina. Menurut beliau, peperangan yang ada di sana telah ditentukan oleh takdir. Menurut beliau, yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi seorang mu’min yang sebenarnya. Menurutnya, jika kita menjadi murid maka kita berjuang dengan menuntut ilmu, sedangkan pemikiran membebaskan Palestina adalah pemikiran yang besar. Maka dari itu, beliau menganjurkan agar memikirkan perkara yang terkecil terlebih dahulu, terutama terhadap diri kita sendiri.
Wallahu A’lam.