Dijelaskan dalam Kitab Syamail bahwa kasur kanjeng nabi itu terbuat dari kulit yang dilapisi kain seperti flanel yakni kain yang tidak halus dan tidak juga kasar.
Dikisahkan suatu hari wanita dari kaum Anshor berkunjung ke ndalemnya kanjeng nabi dan berjumpa dengan Sayyidah Aisyah. Kemudian, wanita tersebut memasuki ndalem kanjeng nabi dan melihat alas tidur beliau yang begitu tipis, wanita tersebut menangis prihatin hingga kemudian memberikan alas tidur yang terbuat dari bulu domba untuk Rasulullah SAW.
Namun, ketika Rasulullah pulang dan melihat alas tidur beliau berbeda, beliau bertanya kepada Sayyidah Aisyah r.a, “Kenapa kasurku ya Aisyah,” dan Sayyidah Aisyahpun menjelaskan tentang wanita dari kaum Ansor yang tadi berkunjung. Setelah mendengar penjelasan dari Sayyidah Aisyah r.a, Rasulullah bersabda, “Demi Allah, kalau saya mau Allah akan memberikan saya emas sebesar gunung.”
Kisah serupa juga terjadi di ndalem Sayyidah Hafsoh kala Rasulullah sedang bermalam di sana. Suatu malam Sayyidah Hafsah melipat alas tidur Rasulullah yang tadinya dua lapisan menjadi empat lapisan agar lebih empuk.
Kemudian nabi bertanya, “Kasur siapa tadi malam?” dan Sayyidah Hafsoh menjawab, “Itu kasur panjenengan ya Rasulullah, tapi saya lipat menjadi empat agar lebih empuk,” kemudian beliau bersabda, “Kembalikan seperti semula, karena terlalu empuk saya ketinggalan sholat malam.”
Selain memakai kasur yang tipis, Rasulullah juga terbiasa tidur beralas tikar hingga suatu hari dari Abdillah bin Masud beliau menyaksikan Rasulullah tidur beralaskan tikar hingga membekas pada punggung beliau.
Dari kisah tersebut Ning Ochi ngendikan, “Rasulullah itu lebih memilih menjadi fakir di dunia dan menabung untuk akhirat. Karena jika beliau bermewah-mewah di dunia beliau akan takut umat-umatnya lebih condong dengan dunia dan lalai akan akhirat,” jelas Ning Ochi.
Wallahu a’lam.