web analytics

Pahlawan di Medan Hawa Nafsu dan Kebodohan

0 0
Read Time:4 Minute, 34 Second

Sejak kecil—terutama bagi anak laki-laki—kita sering bermimpi menjadi seorang pahlawan: sosok dengan kekuatan super, gagah, pemberani, penolong, dan membanggakan. Tak heran, idealisme itu terbawa hingga dewasa, tercermin dalam minat terhadap profesi atau hobi yang tampak keren dan gentle, seperti polisi atau tentara.

Ketika membicarakan tentang pahlawan, bayangan kita umumnya tertuju pada sosok yang beraksi heroik di tengah medan perang, berjuang, dan menang. Kita terbiasa memahami bahwa pahlawan berarti perang; perang melahirkan pahlawan. Maka, untuk menjadi pahlawan, seseorang harus berperang.

Namun, di zaman modern seperti sekarang, terutama di negeri aman dan damai seperti Indonesia, perang bukanlah hal yang lazim—bahkan nyaris tak terlintas dalam benak kita.

“Kalau begitu, apakah di Indonesia yang damai ini kita tidak bisa menjadi pahlawan?” mungkin begitu seseorang bertanya.

Menurut KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Dari pengertian itu, dapat kita simpulkan bahwa pahlawan tidak harus selalu berperang di medan tempur. Pahlawan adalah siapa pun yang berani melawan dan berjuang dengan gigih.

Itulah sebabnya, sepulang dari Perang Badar, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ
Kalian telah pulang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.
Para sahabat pun bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “(Yaitu) jihad melawan hawa nafsu.”

Sebagaimana kita tahu, manusia adalah makhluk istimewa—masterpiece dari ciptaan Allah. Jika malaikat diciptakan hanya dengan nurani dan ketaatan, sedangkan setan hanya dengan nafsu dan kemaksiatan, maka manusia memiliki keduanya.
Kita dianugerahi akal, perasaan, dan nafsu, serta diberi kebebasan untuk memilih: ingin menjadi baik atau jahat.

Namun, terhadap hawa nafsu, kita diperintahkan untuk berjihad melawannya. Sebab, nafsu sering mengarahkan kita pada hal-hal buruk yang menyesatkan.

Allah Swt berfirman:

يٰدَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى…

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi. Maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (QS. Shad: 26)

Ayat ini menunjukkan bagaimana Allah memperingatkan Nabi Daud agar tidak mengikuti hawa nafsu karena dapat menyesatkan dari jalan-Nya. Dari sinilah kita belajar bahwa jihad melawan hawa nafsu berarti berusaha tidak terbawa arusnya—tidak terinjak, tergelincir, atau terjerumus.

Namun perlu diingat, memerangi hawa nafsu bukan berarti menghapusnya sama sekali. Itu mustahil dan tidak manusiawi. Sebab, hawa nafsu adalah bagian dari fitrah manusia, anugerah dari Allah.

Yang perlu dilakukan adalah mengendalikannya dengan bijak. Kita bukan malaikat yang hanya taat, dan bukan pula iblis yang hanya durhaka. Kita manusia—makhluk yang membutuhkan hawa nafsu untuk hidup, tapi juga dituntut untuk mengelolanya.

Dalam Filsafat Kebahagiaan, Dr. Fahruddin Faiz menukil pendapat Imam al-Ghazali:

“Berhati-hatilah. Jika kebahagiaanmu hanya karena urusan makan, minum, dan kebutuhan biologis, engkau termasuk golongan baha’im (binatang ternak). Jika kebahagiaanmu terletak pada menang-kalah, status sosial, atau kedudukan, engkau termasuk sabu‘iyah (binatang buas). Jika kebahagiaanmu ada dalam tipu daya dan muslihat untuk menipu orang lain, maka itu kebahagiaan setan.

Sedangkan jika kebahagiaanmu terletak pada ibadah dan kepatuhan penuh kepada Allah, engkau berada di level malaikat—itu baik, tapi tidak manusiawi. Sebab, Allah menciptakanmu bukan untuk menjadi malaikat, melainkan manusia.”

Intinya, berhati-hatilah dalam mengenali apa yang membuatmu bahagia. Jika bahagiamu datang dari kemenangan atas orang lain, unsur sabu‘iyah-mu sedang dominan. Jika bahagiamu karena kenikmatan duniawi, unsur baha’im-mu yang berkuasa.

Dan jika seluruh pikiranmu hanya ingin meninggalkan dunia demi ibadah, berarti kamu sudah di level malaikat—tapi lupa menjalankan peran manusia sebagai khalifah di bumi. Maka, kendalikan hawa nafsu agar seimbang, agar tetap manusiawi.

Selain hawa nafsu, musuh besar lainnya yang wajib diperangi adalah kebodohan.

Sebagai makhluk berakal, kebodohan adalah bentuk kejahatan terhadap anugerah Allah. Akal diberikan agar manusia berpikir, mencari pengetahuan, dan memudahkan hidupnya. Tapi ketika akal dibiarkan tumpul dan tidak digunakan, itu adalah kesalahan besar—bahkan kezaliman terhadap diri sendiri.

Siapa di dunia ini yang ingin menjadi bodoh? Tidak ada. Semua pasti ingin menjadi orang cerdas. Namun sayangnya, banyak yang hanya pandai berbicara, tetapi malas belajar; enggan membaca, menulis, mendengar, atau memahami.
Banyak pula yang sudah belajar, tapi tidak mengamalkan atau mengajarkannya kepada orang lain.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia, hendaklah dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan kebahagiaan akhirat, hendaklah dengan ilmu.”

Beliau menegaskan, kunci kebahagiaan dunia dan akhirat adalah ilmu. Dan ilmu hanya dapat diperoleh dengan jalan belajar—jalan yang tidak mudah, penuh perjuangan dan pengorbanan.

Dalam nasihat lain, beliau berkata:

“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.”

Kebodohan itu perih. Ia menyakitkan. Ia membayang-bayangi setiap langkah dan selalu hadir di setiap kesempatan, seirama dengan waktu yang berdetik dan jantung yang berdetak.

Bayangkan hidup dalam kebodohan—selalu dipermainkan, selalu kalah, tak pernah berdaya.

Maka, teruslah berjuang. Kendalikan hawa nafsu agar tetap berada di jalan yang benar dan manusiawi. Lawan kebodohan dengan semangat belajar yang sungguh-sungguh. Karena, man jadda wajada — siapa yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan hasilnya.

Wallahu a‘lam.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan   

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan  

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat