web analytics

“Qiematul Mar’i Min Akhlaaqihi” Harga seseorang itu dilihat dari Akhlaknya

“Qiematul Mar’i Min Akhlaaqihi” Harga seseorang itu dilihat dari Akhlaknya
Akhlak Santri
0 0
Read Time:2 Minute, 11 Second

“Syabaabunal Yaum Rijaalunanl Ghad”

Pemuda di zaman sekarang adalah pemimpin dimasa depan. Sehingga masa depan bangsa dan negara kita ini terkantung pada pemuda kita saat ini. Jadi sudah menjadi keharusan, setiap seorang muslim harus memiliki himmah yang besar  dan juga memiliki satu cita-cita yang luhur. Perlu di ingat bahwasannya :

“Almar-U Yathiiru Bihimmatihii, Kamaa Yathiiru Thair Bijanahaihi.”

Seseorang itu bisa terbang tinggi menggapai cita-citanya tentunya dengan himmah yang besar. Ketika dia memiliki himmah yang tinggi, maka dia akan bisa terbang tinggi untuk menggapai semua yang dia inginkan. Dikatakan bahwasannya :

“Man Laa Yahtam Bi Umuril Muslimin Falaysa Minna.”

Ketika seseorang tidak memiliki rasa untuk mementingkan umatnya, kaumnya, bangsanya maka apa yang didawuhkan oleh Rasulullah, mereka adalah falaysa minna. Bukan termasuk golongan daripada kita. Nah saat ini kita harus bersunggu-sungguh sebagai thalibul ilmi, sebagai pencari ilmu harus memikirkan ke depannya. Dimana ketika orang itu belajar dimasa mudanya, ini adalah masa-masa emas, masa yang tidak akan terulang kembali.

Manusia diciptakan oleh Allah dengan tiga masa, dan tiga masa ini tidak akan pernah terulang kembali. Ada masa dimana dia masuk pada masa lemah, ketika dia masuk pada masa kecil, masa balita. Masuk lagi yang berikutnya yaitu masa yang kuat, ketika dia masuk pada fase masa muda dan kelak nanti dia akan kembali pada masa yang lemah lagi yaitu masa tua.

Saat ini para Tholibul Ilmi, mereka para pencari ilmu berada dimasa yang kuat dan ini adalah masa emas mereka. Tidak boleh kemudian mereka menyia-nyiakan masa ini. Karena masa ini tidak akan pernah kembali lagi. Sebagai seorang pemuda dalam masa-masa mencari ilmu dia harus mengeluarkan segala kemampuannya untuk mendapatkan ilmu yang mana ilmu tersebut adalah modal mereka untuk menata dirinya dan juga menata masyarakat.

Maka dari itu apa yang dipelajari di pondok pesantren itu semuanya ada. Mulai dari kognitif, afektif, dan psikomotorik semuanya bisa kita dapatkan di lingkungan pondok pesantren. Ilmu pengetahuan kita dapatkan. Akhlak kita dapatkan. Ketrampilan pun juga kita dapatkan. Di pondok pesantren semuanya adalah media pembelajaran untuk seorang santri. Apa yang dia lihat adalah materi pembelajaran untuk dirinya. Apa yang dia dengarkan dan apa yang dia rasakan semuanya itu adalah materi pembelajaran untuk dirinya.

Ketika seorang santri melihat kyainya, ustadznya melakukan apa saja semuanya itu adalah uswah bagi para santri. Apa yang dia dapatkan dari kita kuning, dari buku-buku yang dia pelajari itu adalah nilai tambahan kognitif bagi para santri.  Dan tentunya di lingkungan pondok pesantren kita diajarkan untuk selalu mengedepankan aklakul karimah. Dan ditekankan  kepada kita bahwasannya akhlak itu adalah barometer bagi seseorang. Harga seseorang itu tergantung pada akhlaknya.

Karena Qiematul Mar’i Min Akhlaaqihi. Harga seseorang itu dilihat dari akhlaknya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like