web analytics

Suatu Saat, Katanya

0 0
Read Time:2 Minute, 0 Second

“Hai, kawan. Ke mana kau?”
“Seperti biasa, hanya ingin menyegarkan badan.”
“Boleh bersama?”
“Tentu saja. Silakan.”
Dua orang pemuda berlari kecil di sebuah taman dengan pemandangan bunga-bunga yang mekar indah serta semerbak wangi vegetasi alami dari tumbuhan di sekitar mereka.
“Bagaimana kegiatanmu saat ini?”
“Yap! Masih seperti biasa.”
“Baiklah. Bagaimana dengan tanggung jawabmu, kawan?”
“Hmmm… hmmm…”
“Tunggu dulu. Hampir saja aku lupa.”
“Apa?”
“Ada yang belum selesai.”
“Tak mengapa, kawan. Santai saja.”
“Nikmat sekali kau katakan?!”
“Kenapa? Aku salah?”
“Bisa dikatakan. Kau salah.”
“Dari segi mana?”
“Tak semuanya bisa bersantai. Tak semua pula bisa diselesaikan tahun depan.”
“Kau benar. Tak semua bisa selesai tahun depan. Tapi, sampai kapan ini akan berakhir?”
“Jika kau bertanya, maka akan kujawab: suatu saat.”
“Kapan?”
“Suatu ketika, di saat kita telah siap. Di saat semuanya sedang baik-baik saja.”
“Jika seperti itu, kapan kita akan siap?”
“Baiklah. Dimulai hari ini saja. Dimulai dari hal kecil saja.”
“Kenapa tidak dikali dua atau tiga saja?”
“Pertanyaan bagus. Bahkan untuk memahami perkalian saja, kau harus mulai dari pertambahan terlebih dahulu, bukan?”
“Itu benar. Tak ada salahnya dengan jawabanmu.”
Setelah berjalan bersama, salah seorang pemuda menatap patung Justitia yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Mengapa, kawan? Ada yang mengganggumu?”
“Tak apa. Mungkin saat ini kita membutuhkan orang ini,” katanya sambil menunjuk patung Dewi Justitia.
“Mengapa?”
“Saat ini sangat miris sekali. Walau ku tahu apa yang dilakukan mereka bukanlah hal yang benar.”
“Kemudian?”
“Aku mulai mengerti. Mereka kali ini berbeda dengan dahulu. Jika saat itu mereka berjalan karena hati nurani, kali ini tidak. Mereka berjalan karena hati kapitalis.”
“Maksudmu, semua sekarang mulai sama?”
“Yap, kau benar. Tak ada yang berbeda. Bahkan suara saja dapat dibeli. Suara saja dapat dikendalikan. Sangat miris.”
“Bagaimana ketika kau berada di dekat mereka?”
“Aku tak akan mau, bahkan jika aku dibayar. Maka, kuterima dengan senang hati dan tak ingin melakukan apa yang mereka inginkan.”
“Cerdik sekali dirimu, kawan.”
“Bukan soal cerdik, kawan. Itu bernama seni.”
“Ha… ha… Kau benar. Seni yang setimpal, bukan?”
“Yap! Kau benar. Tapi, tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan.”
“Apa alasannya?”
“Sudahlah. Kau sudah semestinya paham, bukan?”
“Kau benar,” katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
“Baiklah, kawan. Sepertinya waktu istirahat kita telah tiba.”
“Kau benar,” jawabnya sambil melihat jam di tangannya.
Di akhir sesi maraton kecil mereka, kedua pemuda tersebut beristirahat dan menikmati hidangan sarapan yang ditemani suara kegaduhan jalan serta ketenangan dalam kecamuk yang belum juga terhenti.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Di Bawah Langit Malam

Di Bawah Langit Malam

Otak Isinya Sampah

Otak Isinya Sampah

Ikan Adalah Manusia?

Ikan Adalah Manusia?

Kemelut Bintang.

Kemelut Bintang.

Senja Murahan Merasuki Ikan dalam Kolam

Senja Murahan Merasuki Ikan dalam Kolam

Untungnya, Bumi Masih Berputar

Untungnya, Bumi Masih Berputar