web analytics

Sumpah Pemuda: Meneruskan Perjuangan Pada Perubahan Zaman

0 0
Read Time:2 Minute, 47 Second

Peringatan sumpah pemuda, sebenarnya bukan hanya sekedar mengenang peristiwa yang ada pada tanggal 28 Oktober, tetap lebih dari itu. subtansi pokoknya adalah bagaimana kita bisa benar-benar ada atau berperan sebagaimana yang telah di lakukan oleh pemuda pada zaman awal kemerdekaan.  Peringatan sumpah pemuda mengingatkan kita terhadap suatu hal, bahwa sebelum Indonesia merdeka secara politik, ia lebih dulu dibayangkan sebagai satu bangsa oleh anak-anak muda yang berani melampaui sekat daerah, suku, dan agama. Di tengah zaman yang serba cepat dan mudah terpecah, semangat itu tetap relevan untuk direnungkan.

Momen Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia. Kongres itu dihadiri perwakilan organisasi kepemudaan dari berbagai daerah, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Jong Islamieten Bond. Mereka datang dengan latar belakang bahasa, adat, dan keyakinan yang berbeda, tetapi sepakat pada satu hal bahwa nasib mereka terikat dalam satu tanah air. Hasilnya adalah tiga ikrar, yaitu bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa persatuan, Indonesia. Saat penutupan kongres, W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” lewat gesekan biola, dan momen itu menjadi salah satu penanda lahirnya kesadaran kebangsaan.

Perlu patut dicatat, ikrar itu dilahirkan ketika Indonesia masih dijajah. Para pemuda tidak menunggu kemerdekaan untuk bersatu. Mereka justru menjadikan persatuan sebagai syarat menuju kemerdekaan. Pilihan atas bahasa Indonesia, yang berakar dari bahasa Melayu, juga sangat bijak. Bahasa itu tidak dipilih dari bahasa suku terbesar, melainkan dari bahasa pergaulan yang netral dan egaliter. Dari sanalah bahasa Indonesia tumbuh menjadi perekat yang menyatukan ratusan suku bangsa.

Tetapi, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya berhenti sebatas kenangan. Tantangan pemuda hari ini memang berbeda. Kita tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme, tetapi dengan polarisasi di media sosial, derasnya hoaks, intoleransi, budaya instan, dan sikap apatis terhadap persoalan bersama. Teknologi mempertemukan kita dengan siapa saja, tetapi sering kali justru mengurung kita dalam kelompok yang sepemikiran. Di sinilah makna persatuan perlu dihidupkan kembali, bukan hanya sebagai keseragaman, melainkan sebagai kemampuan hidup bersama dalam perbedaan.

Nampaknya ada tiga hal yang dapat diteladani dari para pemuda 1928. Pertama, keberanian melampaui identitas kelompok. Mereka tidak menanggalkan identitas daerah atau agamanya, namun menempatkan kepentingan bangsa di atas egoisme golongan. Kedua, kecintaan pada ilmu. Para penggerak kongres adalah kaum terpelajar yang membaca, berdiskusi, dan menulis. Semangat itu penting bagi pemuda sekarang agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta gagasan dan solusi. Ketiga, kemauan bertindak. Sumpah mereka bukan sekadar kata-kata, melainkan bagian dari gerakan yang kelak mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan.

Teruntuk generasi sekarang, mengamalkan Sumpah Pemuda bisa dimulai dari hal yang sederhana. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan santun, termasuk di ruang digital, adalah salah satunya. Bijak atau menolak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, menghargai teman yang berbeda pandangan, dan terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar juga merupakan bentuk nyata cinta tanah air. Pemuda yang berkarya, apa pun bidangnya, entah belajar, berwirausaha, berdakwah, maupun mengabdi di masyarakat, sedang meneruskan estafet yang diwariskan para pendahulunya.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda adalah pengingat bahwa Indonesia dibangun oleh keberanian anak muda untuk bermimpi bersama. Jika pemuda 1928 mengikrarkan persatuan, maka tugas pemuda hari ini adalah memastikan ikrar itu tetap hidup lewat karya, akhlak, dan kepedulian. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mengenang sejarahnya, tetapi bangsa yang generasi mudanya siap melanjutkannya. Semoga kita bisa melakukan itu semua dengan usaha maksimal dan do’a yang terus terurai.

 

About Post Author

Darul Said

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
el mahrusy id

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Santri, Penjaga Warisan dan Penggerak Peradaban

Santri, Penjaga Warisan dan Penggerak Peradaban

Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual

Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual

Pentingnya Tafakkur

Pentingnya Tafakkur

Aku Agus, Kamu Kalis

Aku Agus, Kamu Kalis

Soal Cinta, Kita Memang Payah!

Soal Cinta, Kita Memang Payah!

Dari Pareidolia, Saya Belajar

Dari Pareidolia, Saya Belajar