web analytics

Dari Pareidolia, Saya Belajar

0 0
Read Time:2 Minute, 21 Second

Dari Pareidolia, saya belajar, bahwa rezeki memang membingungkan.

Kenapa hidup ini harus ada kaya dan miskin?

Kenapa ada orang yang sejak lahir sudah langsung menjadi kaya, dan kenapa pula ada orang yang sebegitunya bekerja keras banting tulang bangun pagi pulang malam dan masih tetap saja miskin?

Pada awalnya saya mengira, kaya dan miskin hanya sebagai penanda keseriusan seseorang dalam berusaha. Kaya, karena ia sukses dalam keseriusan usahanya. Sedangkan miskin, ada beberapa kecerobohan dan kesalahan dalam keseriusan usaha-usahanya. Hidup hanya sesederhana ada sebab, ada akibat.

Namun sepertinya tidak juga: lantas bagaimana saya harus menjawab pertanyaan di awal?

Keberuntungan. Ya, keberuntungan.

Orang-orang suka membicarakan itu dan mempercayainya.

Keberuntungan, bagaimana mengartikannya?

Sejatinya bahwa rezeki tetap urusan takdir.

Mau bagaimanapun, terserah Tuhan saja mau mentakdirkan seperti apa. Ia maha kuasa: bebas dan suka-suka sajalah.

Tuhan hanya memerintahkan kita untuk berusaha dan berdo’a. Setelahnya, biar takdir yang memutuskan. Itu kenapa ada tawakal.

Namun dalam teorinya, pengijabahan takdir bukan dilihat dari apa yang kita mau, tapi dari apa yang kita butuh. Tuhan lebih tau itu. Dari sanalah anjuran untuk husnudzon dan bersyukur.

Kemudian, mau dan butuh juga turut memperhatikan mampu: seberapa mampu? Seberapa siap? Seberapa pantas kita menerima takdir rezeki kaya raya melimpah ruah tajir melintir kesamber petir itu?

Siang-malam, kulla yaum, kita tunaikan usaha itu, pun berdoa dan memohon. Tapi jika kemampuan-kesiapan-kepantasan itu hanya sebesar mangkuk, bukankah sepenuh-penuhnya tetap akan semangkuk?

Jika ingin dapat lebih banyak, sudah seharusnya kita perbesar wadah kesiapan dan kepantasan rezeki itu.

Dalam Pareidolia, ada istilah volume keran rezeki yang berkaitan dengan kelancaran, dan ada kapasitas penampungan kekayaan yang dalam artian seberapa besar wadah kesiapan dan kepantasan.

Penerimaan juga butuh kesiapan dan pemantasan. Jangan hanya ngos-ngosan bekerja keras dan merengek-rengek berdo’a-meminta-memohon ditakdirkan jadi orang kaya, padahal tidak ada kesiapan dan kepantasannya sama sekali: mental, manajemen keuangan, dan prinsip kebaikan yang sudah dipegang sebelumnya.

Namun kedua hal itu bisa diusahakan dengan 2 hal pula: pengetahuan dan skill sosial.

Tidak percaya?

Lihat bagaimana jadinya saat tokoh Bagus berusaha dengan berpegangan pada 2 hal itu seperti yang sudah dijelaskan di dalam buku?

Silahkan dicoba dan buktikan.

Lagipula, rezeki tidak hanya soal uang.

Orang yang kaya bukan hanya orang yang bergelimang harta. Sebab kaya bisa berarti memiliki kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, dan semangat.

Uang memang bisa membeli makanan, tapi uang belum tentu bisa membeli kesehatan. Uang memang bisa membeli wahana hiburan, tapi uang belum tentu bisa membeli tawa kebahagiaan. Uang memang bisa membeli rumah mewah, tapi uang belum tentu bisa membeli ketenangan dalam rumah. Uang memang bisa membeli masjid-masjid dan mushola, tapi uang belum tentu bisa membeli ketentraman dalam beribadah. Uang memang bisa membeli sekolah elit, tapi uang belum tentu bisa membeli semangat dalam belajar.

So, apakah kita sudah cukup kaya?

Ah, kita hanya butuh cukup!

 

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual

Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual

Pentingnya Tafakkur

Pentingnya Tafakkur

Aku Agus, Kamu Kalis

Aku Agus, Kamu Kalis

Soal Cinta, Kita Memang Payah!

Soal Cinta, Kita Memang Payah!

Selamat Ulang Tahun, Baca-Tulis!

Selamat Ulang Tahun, Baca-Tulis!

Banyak Membaca, Sedikit Paham

Banyak Membaca, Sedikit Paham