web analytics

Puisi

Si Hmm

Wahai kau yang bermoyang bidadari Wahai wahai yang berteman peri Wahai wahai wahai yang membuat pelangi iri Wahai wahai wahai wahai yang mengusir resah lari Wahai wahai wahai wahai wahai yang membuat hatiku tercuri Hei! Dari panas keterpaksaan, bisakah aku berteduh di sendu matamu? Dari dingin kegelisahan, bolehkah aku berselimut hangat kata ucapmu? Dari dahaga […]

Lenyap

Di dunia lirih, negara perih, kota rintih, kampung letih, gang risih, hiduplah gejolak didih. Di sana gelap. Agak kedap. Penuh harap-harap. Lama waktu ia menetap menginap. Mencoba resap. Ia malah terhisap, “Tuhan, aku lenyap!”, “Lenyap, aku lenyap!”, “Lenyap aku siap!” Teriaknya meratap. Tak pernah apa mengenyam pendidikan, tapi tak sebodoh mereka bersuara menerawang ingatan akan […]

Daki daki

Menghiduplah dari segala redup Memimpikan angin pada bulir embun ilalang Ke mana hembus? Ke mana pupus? Adalah bayang-bayang debar sendu Pundakmu… Pundakmu…

Tura-Turu Mencintaimu

Indahnya tura-turu mencintaimu Berkelana bebas ke ujung kesadaran Hilang Lenyap Senyap Kau begitu manis dalam buai bual Peluk hangatmu dalam, erat kuat Kita meraja meratu Kita beranak pinak banyak-banyak Kau menyambut lembut gemulai menyapa, “Bukankah kita butuh do’a, Kanda?” Kucium, sebelum, menjawab penuh senyum. “Oh, bukankah semestinya kita dianjurkan berdo’a sebelum tidur, Dinda?”

Cuil

Di ruang itu kita berbagi Apa arti aku tanpa kedap? Hanya butiran debu, lalu hinggap Menyepi ketidaktahuan Berlari keterpaksaan Hembus… Hembus… Waaaaaaah! Awal bercair lendir Aku bertahan Aku kuat Aku membatu Hahaha Aku asin!

Samar

Rintik sayup, kala redup Berbekal tekad yang terikat “Mana rehat?” “Tolong penat!” Bersimpuh lumpuh menjadi debu-debu. Mengenal, berakrab dengan ilmu dan adab Semua langkah ini pantas disebut perjuangan   Riuh… Kayuh… Layu… Namun takan mati digempur tempur Arah… Marah… Bara… Hawa tak akan pernah habis ditantang rintang Siapa bilang santri tak berjuang? Siapa kata santri […]

Kabut

Apa yang harus dirisaukan tentang gelap? Sedangkan cahaya memelukku! Hati ini atau ruang itu tak begitu Meyakinkan. Harus bagaimana? Sepi, tuntut, atau kaku baca buku-buku? Harus menyerah digempur Omong orang? Ah, bagaimana kau ini! Huhu.

More Posts