web analytics

Warning: Santri Baru, Awas Genjutsu!

Warning: Santri Baru, Awas Genjutsu!
1 0
Read Time:3 Minute, 52 Second

Banyak hal yang bisa kita bahas mengenai santri baru, sesosok makhluk unyu kluntung-kluntung baju lusuh kopeah miring dengan wajah bersahaja. Tapi nggak enak rasanya, jika kita senang-senang mengeksploitasi dengan membahas segala sudut demi sudut dari dirinya, malahan Sang Santri Baru malah tercekat butuh seteguk kontinuitas.

Meski Daiyoji Ninkai Taisen sudah lama punah dan lenyap bersertaan dengan ego hegemoni para pengusung kedamaian bercakra itu, tetap saja, rasanya, bagai sebuah sekte karbitan yang ‘katanya’ sudah lama mati dan musnah, nyatanya segala doktrin ideologi dan gerakan perjuangannya tetap mengalir dan bergerilnya senyap rapat. Uchiha Madara rupanya masih ada se-crit hasud dengki terhadap kebaikan yang tsukoyomi dan kotoamatsunami wa akhawatuha-nya,  masih terus menelusup menelisik, pada dimensi ruang dan waktu.

Kalau nggak percaya, lihat saja kantung mata santri baru yang nggak kalah hitam dari oli bekas angkot dengan abang-abangnya yang sesekali mengusap-usap lehernya, berusaha menepis cerca gurih keringat sedari pagi buta. Santri baru secara sadar nggak sadar, pasti akan merasakan linglung dengan keadaan lemas badan dan pikiran yang berpendar efek genjutsu hasud dengkinya Madara yang nerobos portal dimensi ruang dan waktu.

Sifat hasud dengki memang selalu merugikan, entah Si Korban dan Si Pelaku, pastinya. Tapi, maksud saya, kenapa korbannya harus santri baru yang haus akan asimilasi. Meski kalau diajak omong masih rada nyaut, coba intip saja isi kepala santri baru itu, iya santri baru, yang lagi makan cilok merah itu juga nggak apa-apa. Pasti isi kepalanya masih berpendar thawaf mengitari sudut demi sudut rumahnya, menggerayangi setiap jengkal wajah orang terkasih, mengendus hangat-hangat kemarin yang coba diciptakan kembali.

“Bagaimana caranya betah, wahai Pak Ustadz?”

Menurut sepengetahuan saya, selaku santri yang sudah mondok hampir 8 tahun dan nggak sombong, ada 3 cara kiat-kiat betah hidup di pondok bagi santri baru yang biasa masih uring-uringan.

  1. Jangan Sering Sendiri.

Sering sendiri akan menimbulkan praduga emosional merasa sendiri dan kesepian. Tentu apalagi pada saat sendiri, setan itu lebih mudah menggoda hati dan pikiran manusia agar ikut dalam alur permainan buruk Si Setan. Bukankah begitu menurut salah satu redaksi yang ada di kitab? Oh, iya. Kalian kan masih santri baru. Lupa. Jangan dulu mikirin kitab, deh. Yang penting betah aja dulu.

Lanjut. Jangan sekali-sekali bagi santri baru untuk sendiri, menyendiri, dan merasa sendiri. Carilah teman, ajak kenalan, timbulkanlah lelucon yang membuat hati kalian itu luas. Bercandalah tentang apapun, joks garing bokap-bokap juga nggak apa-apa. Sok asik aja dulu. Maka dari sana, ada suatu dorongan yang memutar mindset bahwa pondok pesantren itu nggak seburuk apa yang kalian pikirkan. Ternyata di pondok juga ada ketawa-ketawa, bisa ketawa-ketawa. Nggak melulu soal tangis.

Intinya jangan sendiri! Tapi, kalau mandi, berak, dan cebok, ya itu harus sendiri. Urusan lu. Nggak bisa berjama’ah ngajak-ngajak orang. Gelay!

  1. Jangan Dulu Nelpon Orang Tua.

Dalam benak santri baru, tentu sedang nggak baik-baik saja. Bagai tawuran, semuanya berkecamuk. Belum lagi pikiran. Maksud saya, untuk segala kenyataan itu janganlah nelpon orang tua dijadikan pelarian. Pasti ada sedih, pasti ada kangen. Jangan percaya firasat bahwa dorongan untuk menelpon orang tua sebagai obat atas itu. Jangan pernah percaya! Bullshit! Nelpon orang tua adalah biang kerok dari sedih dan kangen yang berkepanjangan.

Apalagi kalau orang tuanya posesif dan kalian menimpalinya dengan comel ngadu dengan mengatakan bahwa pondok pesantrennya itu nggak sesuai dengan ekspetasi indah. Bagaimana mau jemput ekspetsi indah? Kalau kalian baru mengenal pondok dan segala sisinya aja baru 2 hari. Seumur jagung, katanya.

“Kalau nelpon ayang?”

Waduh. No coment lah. Up!

  1. Jangan Ragu Untuk Wisata Kuliner.

Ungkapan, “perut kenyang, hati pun senang.”-nya Si Ehsan itu terkadang ada benarnya juga. Apalagi pondok pesantren adalah surganya kuliner. Makanan apa saja ada di sana. Dari yang bintang lima sampai kaki lima. Dari lima ribu lima sampai seribu dapat lima. Makan juga ternyata dipercaya bisa menghilangkan segala kedundah. Bahkan dalam sebagian studi, saat stres banyak orang yang melampiaskannya pada makan, karena makan memang dapat menambah betah di pondok.

“Kok, bisa?”

Logikanya, ada santri baru yang nggak betah di pondok. Pikirannya hanya ada orang rumah dan pengen pulang. Lalu, ia mencoba trik ketiga ini dengan wisata kuliner. Apalagi jika ia sampai memilih untuk makan di warung geprek isna sambal pedas. Awal-awal makan memang pikiran orang rumah dan pengen pulang masih ada.

Tapi, saat udah mau suapan-suapan terakhir, tentu pikiran seperti itu sudah nggak ada. Pasti yang ada adalah minum es. Karena saking pedasnya. Apalagi kalau masih lapar, pasti pikirannya akan berusaha nambah satu porsi lagi. Dan pikiran-pikiran orang rumah dan pengen pulang akan musnah.

Makanlah! Selagi itu makanan halal dan uang sendiri. Untuk termakan hati, jangan sering-sering. Apalagi sampai termakan omongan orang. Susah…susah…

 

Semoga bermanfaat!

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like