web analytics

Masihkah Marsinah?

0 0
Read Time:3 Minute, 4 Second

32 tahun yang lalu, nama itu terukir abadi.

Namanya Marsinah, seorang perempuan yang hidup dari buruh, seorang perempuan yang mati sebeb buru. Suaranya begitu lantang, hingga menyebabkan satu dua orang merasa terganggu. Itu kenapa ia dibungkam: selama-salamnya.

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!” Tan Malaka memberi salam.

Kisah hidupnya ditulis pada 10 April 1969 di Nganjuk. Kelahirannya menjadi kebahagiaan, meskipun ia hidup dalam kesedihan itu sendiri. 3 tahun berselang, sang ibu meninggal dan ayahnya menikah lagi. Hingga ia harus diasuh sang nenek.

Meskipun begitu, ia tetap mendapatkan kebaahagiaan dari pendidikan. Ia seorang siswi yang cerdas, suka membaca, dan kritis. SDN Karangasem 189, SMP Negeri 5 Nganjuk, dan SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk pun menjadi saksinya. Apa daya bagi seorang anak perempuan yang menjadi bagian dari kesedihan, tidak bisa dipungkiri, ketidakcukupan ekonomi membuatnya harus mengubur mimpi menjadi jebolan fakultas hukum di jenjang perkuliahan.

Apapun bisa terjadi, ketidakcukupan ekonomi ia lawan dengan tekad yang menggelora. Ia tidak patah semangat. Ia memulai pertualangan, memilih merantau ke Surabaya dan menumpang di rumah kakaknya, Marsini. Ia sempat bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut. Tidak hanya panas udaranya, gaji pabrik itu pun juga mencekik. Itu kenapa ia berjualan nasi dan bekerja di pabrik pengemasan barang sebagai tambahan, agar lega nafas hidupnya.

Siapa sangka, nyatanya tetap sesak.

Ia pindah ke Sidoarjo dan bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik pembuat jam yang berada di daerah Porong. Marsinah adalah aktivis dalam organisasi buruh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS.

Berharap hidupnya lebih baik di Sidoarjo dan tempat kerja barunya, bagaimanapun, sepertinya nasib baik sulit berpihak pada kaum buruh. Seringkali hanya dianggap robot rendah yang dibayar murah. Bukan tidak berani melawan, mereka hanya tidak punya pilihan.

Hingga pada akhirnya, pada awal 1993, kesempatan melawan itu tiba.

Pemerintah mengeluarkan imbauan kepada pengusaha Jawa Timur untuk menaikkan gaji pokok karyawan sebesar 20 persen. Tapi ternyata, para pengusaha itu tidak segera melaksanakan imbauan tersebut. Termasuk PT CPS, tempat ia bekerja. Hal itu membuat para pekerjanya geram.

Mereka mogok kerja.

Mereka berunjuk rasa.

Mereka menuntut keadilan.

2 Mei 1993 rapat unjuk rasa digelar di Tanggulangin, Sidoarjo. Keesokan harinya, aksi mogok kerja digelar. Mereka mengajukan 12 tuntutan kepada PT CPS. Salah satu tuntutannya adalah kenaikan gaji pokok buruh dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250 per hari. Selain itu, mereka juga meminta tunjangan Rp 550 per hari yang tetap bisa didapatkan ketika buruh absen.

Hingga militer masuk dalam cerita, baik Komando Rayon Militer (Koramil) ataupun Komando Distrik Militer (Kodim), alurnya menjadi begitu cepat untuk menentukan endingnya: 13 buruh ditangkap dan Marsinah menghilang.

Pada 9 Mei 1993, Marsinah ditemukan tewas mengenaskan di sebuah gubuk di Desa Jegong, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Banyak sayatan di tubuh kaku membeku itu.

”Masyarakat jangan berprasangka dulu sebab pemerintah akan menuntaskan kasus ini. Dan, biarkan petugas berwenang menangani kasus itu hingga selesai serta memutuskannya sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku, serta menghukum mereka yang bersalah,” ujar Soeharto kala itu.

Setelahnya, muncul nama-nama yang ditangkap. Seperti Kepala Personalia PT CPS, Mutiari; Pemilik PT CPS itu sendiri, Yudi Susanto; juga para staf PT CPS lainnya. Entah cerita atau hukmnya, semua berjalan begitu cepat. Sebut saja Yudi Susanto, sedari ia ditetapkan tersangka, dijatuhi hukuman 17 tahun penjara, hingga naik banding dan Mahkamah Agung memutuskan tidak bersalah.

Masihkah Marsinah?

Masihkah Marsinah hidup dalam bayang kita?

Masihkah Marsinah hidup dalam do’a kita?

Masihkah Marsinah hidup dalam nafas dan langkah, contoh dan perjuangan kita?

Marsinah tidak hanya mengajarkan tentang kerja keras dan teguh tekad, tetapi ia juga mengajarkan tentang menuntut keadilan dan melawan; bagaimana hidup menjadi seorang buruh dan perempuan.

Masihkah Marsinah?

Hiduplah Marsinah!

Hidup.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an