web analytics

Kulit Gabah di Tangan Ayah

4 0
Read Time:2 Minute, 32 Second

“Duk… duk… duk…”

Sore itu, di belakang rumah, suara lesung menggema indah, menumbuk gabah yang baru dijemur di dekat sawah. Aroma dedak bercampur udara lembab petang hari, menyatu dengan lembayung mentari.

Aku duduk tak jauh darinya, di bangku bambu yang mulai lapuk dimakan waktu. Setiap dentum alu yang menghantam lesung memantulkan irama masa kecilku. Dulu, aku sering duduk di tempat yang sama, memandangi Ayah yang tak pernah lelah menumbuk gabah.

“Yah, buat apa ditumbuk terus? Kan gabahnya sudah bagus?” tanyaku kala itu.

Ayah tersenyum, keringat di pelipisnya menetes perlahan. Ia mengambil segenggam gabah, menunjukkannya padaku.

“Lihat ini, Nak. Kelihatannya sudah jadi, tapi masih terbungkus kulit. Kalau begini, dia belum bisa dimakan, belum bisa memberi kehidupan.” Ia menatapku dalam. “Gabah baru bermanfaat kalau berani menanggalkan kulitnya.” Lanjutnya sambil terus menumbuk.

Aku mengernyit. “Tapi bukankah kulit itu melindunginya, Yah?”

Also Read: Keranjang

“Betul,” jawab Ayah pelan. “Namun sesuatu yang melindungi kadang juga bisa menahan. Seperti perasaan kita pada hal-hal yang kita senangi. Kita kira itu pelindung, padahal bisa jadi penahan.”

Sore itu, aku belum sepenuhnya mengerti. Tapi kini, kala Ayah telah pergi, aku mulai memahami.

Aku terdiam. Kata-kata Ayah kian menggema di dada, “menanggalkan kulitnya…”

Angin sore mengusap wajahku, membawa memori pada waktu itu.

11 tahun yang lalu, Ayah duduk di sampingku, menatap hamparan sawah yang mulai menguning. “Kau tahu, Nak,” katanya perlahan, “Allah memuji orang yang bisa memberi, bahkan ketika dirinya butuh. Dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat sembilan, disebutkan bahwa orang Anshar mengutamakan orang lain meski mereka sendiri kekurangan. Karena itu, Allah sebut mereka sebagai orang yang beruntung.”

Aku menatap wajahnya yang teduh. “Meskipun yang harus kita lepaskan itu… hal yang kita senangi, Yah?”

Ayah tersenyum lagi. Semalam bukankah sudah setoran Surah Al-Balad kepada Ayah? Coba ulangi lagi bacaannya Nak.” Akupun mulai melantunkan surah yang berjumlah 20 ayat itu.

“Nah, pada ayat فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَۖ , Allah menghimbau kita untuk menempuh jalan kebaikan, meskipun itu sukar. Tahukah kamu jalan yang sukar itu, Nak?”  Aku menggeleng.

Ayah melanjutkan, “Allah menyebut jalan terjal, mendaki dan sulit ditempuh itu adalah upaya melepaskan perbudakan, juga memberi makan pada hari terjadi kelaparan, baik kepada anak yatim yang masih memiliki hubungan kekerabatan, ataupun orang miskin yang sangat membutuhkan.”

Also Read: Kukira Ada

“Tapi makna terdalamnya bukan sekadar amal sosial, Nak. Itu tentang membebaskan diri dari keterikatan, dari belenggu keinginan yang menahan kita untuk mendekat kepada Allah.”  Tutur Ayah.

Dengan tatapan lembutnya, Ayah tersenyum untuk kesekian kalinya. “Nak, itulah ukuran ikhlas yang sebenarnya. Melepaskan yang buruk itu mudah. Tapi melepaskan yang kita senangi, itu yang membuat hati mendaki.”

Ayah menggenggam segenggam gabah, lalu menaburkannya di tanganku. “Kalau gabah ini menolak ditumbuk, ia akan tetap menjadi kulit keras yang tidak berguna. Tapi setelah rela kehilangan kulitnya, ia berubah menjadi beras, yang menjadi sumber utama kehidupan, menyehatkan.”

“Duk… duk… duk…

Dan irama itu menyadarkanku akan flashback di masa lalu, saat Ayah masih ada di hadapanku. Kini, suara “duk.. duk.. duk..” itu tak lagi terdengar seperti tumbukan, melainkan seperti dzikir yang mengingatkan bahwa hidup ini seperti “Kulit Gabah di Tangan Ayah”.

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Struggle

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Keranjang

Keranjang

Gayung adalah Renung

Gayung adalah Renung

Kerajaanku yang Malang (pt3)

Kerajaanku yang Malang (pt3)

Kukira Ada

Kukira Ada

Tekadku Setinggi Angkasa

Tekadku Setinggi Angkasa