Embun pagi terasa sejuk saat matahari masih malu. Kicauan burung menyertai jalanan desa yang berlapis tanah. Suara mesin motor melintasi bumi yang tak selalu mulus. Terkadang, lubang berisi lumpur dan batu-batu besar membuat kendaraan bermesin menjadi hewan berkaki empat. Motor bergigi yang kukendarai terus menyusuri hutan menuju desa terpencil di timur kota.
Setelah lebih dari empat tahun menjadi guru honorer di salah satu Sekolah Dasar yang terletak di pusat kota dan tak jauh dari rumah, kini aku telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Sayangnya, aku dipindah tugaskan ke daerah terpencil ini. Sebelumnya mengajar 32 siswa dalam satu ruangan, sedangkan sekarang jumlahnya masih sama, namun dibagi menjadi empat ruangan.
Tak hanya jalan menuju desa yang sepi, sekolah pun begitu sepi dengan seluruh jumlah siswa yang sama dengan satu kelas Sekolah Dasar di pusat kota. Fasilitas yang ada pun seadanya, membuat miris ketika melihat sarana dan prasarana pendidikan bak terbengkalai seolah tak berpenghuni.
Sudah hampir satu bulan aku mengajar di kelas ini. Mengajar sembilan siswa di kelas yang beralaskan tanah, dinding dari anyaman bambu, papan hitam kecil, meja dan kursi penuh rayap, serta pintu tak terlihat menjadi pemandangan sehari-hari ketika mengajar di sekolah ini. Semuanya berjalan normal, tentu sebelum aku merasakan kejadian ganjil itu.
Masuk ke kelas dengan mengucapkan salam yang langsung dibalas oleh sembilan murid. Ini hari pertama aku mengajar di Sekolah Dasar desa terpencil ini. Suasana yang asing seolah membuat tak nyaman, namun mau bagaimana lagi? Dijalani saja. Kegiatan belajar mengajar aku mulai dengan perkenalan sambil mengabsen satu persatu. Obrolan ringan menyertai pembelajaran untuk menciptakan rasa nyaman dalam diri peserta didik. Ketika sudah nyaman, mereka akan belajar dengan tanpa terpaksa.
Surya mulai turun. Perlahan tenggelam di ufuk barat membuat langit menjadi kemerah-merahan. Aku mulai menuntun motor lalu menghidupkan mesinnya untuk kemudian kutunggangi. Tak ada angin pun tak mendung, hanya suasana yang membuat bulu kuduk mekar. Aku terkejut ketika mendapati seorang tua yang tiba-tiba berdiri persis di sampingku. Rambut panjangnya berwarna putih dengan banyak kerutan di wajah serta tubuhnya, memakai kaos oblong dan celana pendek tanpa alas kaki.
“Sudah sore, nduk. Lebih baik menginap saja di rumah dinas. Tidak baik wanita berkeliaran malam-malam.” Tak guduga, suaranya sangat lembut nan ramah. Sangat berbeda dengan penampilan serta ekspresinya yang bisa dibilang mengerikan.
Reflek melihat rumah dinas yang termangu di dekat sekolah. Lebih baik. Tidak menggunakan anyaman bambu, melainkan rumah panggung dari kayu. Namun, kondisinya membuatku prihatin.
“Saya pulang saja, nek. Kasian anak-anak saya tidak ada yang mengurus.” Menolak selembut sutra.
Memacu motor di jalan berkerikil. Meninggalkan orang tua … Ke mana dia? Spion kulihat. Hilang tanpa bekas ditelan tanaman. Tetap berusaha tenang menjadi sia-sia ketika kembali melihat arah. Jalan lebar berkerikil menjadi jalan tanah setapak ditemani langit jingga dengan desir angin jahat membuat bulu kuduk bangun.
Apa salahku? Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran sambil menyusuri jalan setapak yang diselimuti hutan. Apa yang bisa kulakukan dengan telepon genggam yang tak bersinyal? Apalah daya hanya menggunakan insting pada tiap persimpangan.
Petang mengulum hutan hingga bulan nongol di atas pepohonan ditemani rasi bintang Taurus yang mengotori semesta. Gesekan daun juga ranting membuat makin khawatir. Memang tak ada sosok misterius yang aku tak ingin hadir, namun suasana kelam semakin mencekam menjadi geram juga muak ketika melihat aspal di ujung tanah. Menyusuri aspal sampai tiba di rumah yang ditelan malam. Tak pedulikan diriku. Masuk ke rumah mencari anak kecil yang baru masuk Taman Kanak-kanak. Lega ketika melihatnya baik-baik saja pun terkejut ketika melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Bukan mandiri sejak dini, aku memang memberikan secercah uang untuk tetangga yang merawat anakku selama aku mencari sesuap nasi untuk menghidupinya. Segelintir pendapat yang muncul ketika melihatnya tak lagi ada di rumah ketika aku terbangun. Kini segera bergegas mengabdi pada negeri.
Menyusuri jalanan beraspal hingga tanah berkerikil membuat was-was. Sepanjang jalan, terus memikirkan absen Nomor 9 yang berupa aneh dan sandangannya juga aroma yang mendukunf fisiknya membuatku yakin jika dialah pelaku yang harus bertanggung jawab atas peristiwa yang menimpaku kemarin.
Seperti biasa, hari-hari berlalu tanpa ada sesuatu yang tak masuk akal. Anakku sehat dan pergi sekolah diantar tetangga seperti biasa, aku pun mengajar sembilan murid yang ada di salah satu kelas Sekolah Dasar desa terpencil. Tak ada yang aneh kecuali absen Nomor 9 yang tingkahnya semakin hari semakin ngeri. Membawa parang, memendam seonggok jarum pentul, menusuk-nusuk boneka, membunuh kucing, membersihkan kelas, membantu guru lain mengajar, menyajikan katak, hingga membakar meja yang penuh rayap.
Hingga tiba hari itu. Mengabsen seluruh murid, namun mereka bingung ketika aku menyebut nama Nomor 9. Hahaha … Rupanya anak itu hanya khayalan. Mungkin karena aku pernah tidur bersamanya sambil membawa parang, memberinya katak untuk dimakan, dan menceramahinya. Sepanjang mengajar, aku menjadi ceria karena mengetahui dia ikut serta.
Hari beranjak sore ketika motor kembali melewati jalan setapak yang mulai sering terjadi akhir-akhir ini. Tidak seperti kemarin, sekarang bertemu Nomor 9 menghadang di depan. Meski hutan diselimuti gelap, meski langit penuh dengan tinta hitam, sorot cahaya dari motor bergigi seolah memperlihatkan badannya secara sempurna.
Tentu, rasa senang menyelimuti tubuhku. Sayangnya, dia berlaku sama kepadaku. Cahaya dari lampu motor memperlihatkan logam tajam di tangan kanannya. Motor bertambah kecepatan—memutuskan menabraknya, namun dia mendarat di tubuhku hingga aku terpelanting—jatuh. Tak puas, dia menusukkan logam itu ke bahuku berkali-kali seperti hancur rasanya, karena memang mati rasa. Seolah ingin membunuh bundanya, api berkobar membakarku. Luka bakar parah menyelimuti satu demi satu sel kulit.
Panas!
Ini mimpi. Aku terbangun di halaman rumahku dengan bahu pecah dan luka bakar disekujur tubuh disertai baju dinas sompang-camping, namun tak kudapati motorku. Bodo amat! Aku berlari masuk ke dalam rumah mencari anakku. Aman. Tubuhku terjatuh persis di sampingnya.
Kembali berlaku sama kepadaku. Membunuh, memendam bersama seonggok jarum pentul, lalu membersihkannya tak tersisa. Namun aku tetap bangga kepada anakku.