Desir angin tak kunjung hadir di tengah matahari yang semakin berseri. Badan yang berbalut kaos oblong dan sehelai kain yang dililitkan di pinggang terasa gerah. Mencari kesegaran sambil membawa kotak berisi alat mandi di siang bolong. Tak lupa, lintingan kertas berisi tembakau dan cengkeh hancur yang diapit di antara jari telunjuk dan jari tengah, adalah salah satu solusi mengatasi sembelit yang tak kunjung pergi.
Belum genap empat tahun mencari ilmu di kampung orang. Belum genap dua tahun tidak pulang ke kampung halaman. Rindu pasti selalu menyertai di kala sepi menemani, seperti saat ini. Gayung adalah benda yang umum kita gunakan sehari-hari. Mungkin hanya sebuah gayung biasa, tetapi asumsi itu berubah ketika aku mengunjungi salah satu jeding di asrama siang ini.
Benda yang sangat sederhana, namun bisa membuatku bernostalgia ketika melihatnya teronggok bisu di atas bak air. Gayung berwarna biru muda itu sama persis seperti gayung yang kupakai di rumah. Membuatku ingin segera kembali ke ujung timur pulau Sumatra, padahal sedang berjongkok di atas jamban jeding asrama. Membuatku mengingat kenangan indah di kampung halaman.
Bukan tentang gayung biasa. Skenario Tuhan selalu indah, sampai-sampai aku bisa bernostalgia hanya karena melihat gayung. Awal yang kuingat hanyalah teriakan ibu.
“Cepat mandi, nak!” Teriakan di pagi hari ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar menggema memenuhi rumah. Menyuruhku bergegas mandi lalu berangkat sekolah.
Omelan ibu dulu memenuhi kepalaku saat masih berjongkok di atas jamban jeding asrama sambil menunggu sisa-sisa makanan keluar dari lubang pembuangan. Apalagi ketika mengingat aku yang tak kunjung mandi di kala teriakan ibu yang semakin mekar karena takut akan laba-laba yang menempel di pintu kamar mandi. Hahaha … Senyum tipis tecipta mengingat kenangan itu.
Sebatang kretek yang kuhisap mulai terasa panas karena bara telah membakarnya habis. Kubuang asap yang bersarang di paru-paru ke langit-langit secara perlahan sambil melempar puntung ke sembarang arah. Mengakhiri proses pembuangan sisa makanan, sekarang menuju proses pembersihan tubuh.
Saat ini, imajinasiku begitu liar hingga bisa membayangkan sedang berada di kamar mandi rumah. Kamar mandi dengan tema hijau, tak lupa cermin besar di samping pintu yang juga berwarna hijau. Aneh sungguh, tapi aku menikmati juga mensyukuri kejadian itu.
Baru kusadari setelah beberapa detik yang lalu, ini bukan imajinasi ataupun khayalan. Ini nyata. Entah bagaimana caranya aku telah berpindah ke dalam kamar mandi di rumahku. Rasa kaget, bingung, senang, serta haru bercampur menjadi satu. Aku bergegas memakai sandangan dan keluar dari kamar mandi yang terhubung langsung ke kamar orang tuaku yang juga berwarna hijau temboknya.
Kudapati ruangan yang sama persis sepeti yang ada di rumahku. Pipiku mulai terasa pedas karena telapak tangan kananku yang eolah membantu menyadarkan. Ini bukan mimpi! Lihatlah furnitur di dalam kamar ini! Meja kayu dengan computer di atasnya yang terletak di samping pintu berwarna merah muda, air conditioner di atas pintu kamar mandi yang berwarna hijau, meja tolet yang dipenuhi alat rias di samping dipan, juga lemari pakaian yang dimakan dinding.
Mulai melangkah keluar kamar melalui pintu merah muda—mencari kehidupan. Lekas sekali rasa kaget hilang lalu digantikan rasa terkejut. Lihatlah! Ini tidak seperti rumahku yang selalu bersih, rapi, dan wangi. Rumah ini seperti tak berpenghuni. Lantai licin dipenuhi debu, sofa robek, sarang laba-laba di langit-langit, pun onggokan kertas yang lumpuh di atas meja membuat tambah berantakan. Apa yang terjadi? Ternyata hanya gagal move on …
“Sudahlah, Ma … Besok kita cari lagi.” Ucap seorang pria paruh baya dengan senyum tipis yang tak orisinil. Seolah menenangkan seseoang di sampingnya, padahal ia sendiri sedang hancur hatinya.
Tak ada balasan dari seorang wanita yang umurnya tak terlampau jauh dari pria itu. Hanya suara isak tangis yang terdengar dari wajah yang tertutup dua telapak tangan.
Mereka berdua duduk di sofa robek menghadap meja berantakan di tengah ruang keluarga. Tentu, aku mengenali mereka. Orang tuaku. Perlahan kuhampiri, mata bertemu saat jarak tersisa dua meter. Ekspresi pria itu sulit dijelaskan. Intinya, rasa senang, bingung, kaget, haru bercampur aduk dalam sanubari.
“Cokor! Kamu dari mana saja, Nak?” Pria itu—alias Ayahku—berseu memanggil namaku, lalu memeluk erat tubuhku sembari melontarkan pertanyaan.
Seolah bisu, tak bisa berkata-kata. Ibu pun merebahkan seluruh rindunya dalam pelukan itu dengan isak tangis mengiringi.
“Kamu menghilang lebih dari empat tahun. Sekarang datang dengan kondisi seperti ini. Jelaskan semuanya, Nak!”
Sebelum mendengar ucapan Ayah pun aku sudah mematung—tak mengerti apa yang terjadi, lebih-lebih lagi ketika penjelasan itu keluar dari lisan Ayah. Sontak kulihat bayangan tubuh dari lemari kaca yang entah apa isinya. Tubuh tersisa tulang, hanya memakai celana pendek bertelanjang dada dengan handuk di bahu dan gayung biru di tangan kanan. Ujung bibir berdarah, mata kanan sembap, pipi dan jidat bengkak, hidung mimisan, badan memar-memar serta dipenuhi sayatan di mana-mana.
Tubuhku mendadak lemas lalu terjatuh—sambil tersenyum memperlihatkan beberapa gigi yang tanggal—dalam pelukan Ibu dan Ayah. Tanpa kusadari, kini telah kembali ke jeding asrama dengan gayung biru di tangan kanan.
Gayung yang fungsinya untuk memindahkan air, kini tak hanya air, pun kenangan-kenangan indah masa kecil yang tak akan bisa diulang kembali. Di akhir prosesi pembersihan tubuh, aku meninggalkan gayung itu kembali teronggok bisu di atas bak air. Aku berterima kasih kepada gayung itu karena telah membawaku kembali dan mengajakku jalan-jalan sejenak ke kamar mandi di rumahku. Tak lupa, pun beterimakasi kepada Tuhan Yang Maha Esa telah membuatkan scenario sederhana namun sangat berharga, hanya dengan sebuah gayung yang teronggok bisu di atas jeding asrama.