web analytics

Kerajaanku yang Malang (pt3)

0 0
Read Time:3 Minute, 7 Second

Di suatu hari yang cerah dalam kerajaan yang dahulunya sangat permai dan damai. Akan tetapi karena sebuah bentrokan dari dalam membuat kerajaan ini menjadi kacau balau. Sang Putri Anna berjalan mengelilingi kawasan kerajaan dengan hati yang kacau balau melihat hal yang tidak disangkanya. Ia bertemankan seorang kepala pemburu di kerajaannya.
“Hai Steven, tidakkah kau melihat semua ini sangat miris sekali?” ujarnya membuka obrolan kepada Steven.
“Aslinya sudah lama sekali, Anna. Aku kasihan melihat ini semua. Semenjak aku mulai berkelana di kawasan kerajaan lain, aku tidak pernah melihat hal mengerikan seperti ini.”
“Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan untuk mereka semua agar bisa kembali sejahtera?”
“Dari beberapa buku sejarah yang pernah aku baca di perpustakaan kerajaan lain …”
“Hah, kau pernah membaca di perpustakaan?” ujarnya dengan penuh pertanyaan besar dalam hati.
“Nah itu dia, kalangan kerajaan di sini berpikiran sama sepertimu. Bahwa orang seperti aku seperti orang bodoh yang berkeliaran.”
“O …, maaflah jika menurutmu aku seperti itu.”
“Ok, tak masalah. Lagian pula apa untungnya bagiku. Ok, kulanjutkan. Jadi menurut beberapa buku yang sudah aku baca. Hal pertama kali yang harus dilakukan adalah mengadakan pendidikan yang layak bagi seluruh rakyatnya. Sedangkan di kerajaan ini, lihatlah banyak sekali anak seumuranmu yang belum sekolah bahkan ada yang lebih kecil darimu belum dapat berbicara bahasa negaranya sendiri. Aku sangat miris melihatnya.”
“Hmm …, usulanmu bagus sekali Steven. Berarti hal pertama sekali yang harus kulakukan adalah memberikan pendidikan kepada rakyatku,” tanyanya sekali lagi dengan penuh kepastian terhadap Steven.
“Yup, itu benar Anna. Kau harus memberikan pendidikan setara kepada semua rakyatmu. Dimulai dari hal itu saja dulu agar semua rakyatmu mengerti arti dari suatu negara. Dan kemudian biarkan mereka yang mengambil keputusan apakah mereka ingin di negeri ini atau keluar mencari jalan yang lebih indah walau di negeri orang,” dengan nada agak sedikit memberi penekanan yang sangat mendalam dan raut wajah seolah-olah menunjukkan kritikan miring yang sukar untuk ditebak.
Hmm (dengan mengangguk secara perlahan menandakan kepahamannya). “Baiklah kalau begitu bisakah kau bantu aku esok untuk membawa beberapa meja yang ada di istana ke tempat terpencil?” pintanya kepada Steven.
“Jika itu saja mungkin mudah sekali, soalnya aku dan teman-temanku sudah bisa melakukannya. Akan tetapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan …,”
“Apa itu Steven?”
“Apakah tempat untuk mengambilnya itu dijaga oleh tentara dari berbagai wilayah?”
“Oh iya, aku hampir lupa. Kalau itu mungkin bisa aku mintakan bantuan kepada pengawal kepercayaanku,” ujarnya dengan santai.
“Apa benar ia dapat dipercaya, Anna? Sedangkan jika kita lihat banyak sekali anggota kerajaan yang menentangmu karena kepintaranmu ini,” tanyanya penuh kecemasan.
“Jika hal itu yang kau khawatirkan. Sepertinya tidak perlu.”
“Kenapa demikian Anna?”
“Justru ialah satu-satunya orang yang aku percaya sebagai pengawal. Karena sebagian besar pengawal yang pernah bersamaku hanya menjadikanku seorang media penjilat ayahku.”
“Maksudmu apa Anna?”
“Iya, mereka mengawalku hanya untuk mengambil keuntungan agar mereka bisa naik pangkat dan mungkin suatu hari jika aku sudi menggantikan ayahku. Mereka akan berbuat seenaknya dengan kerajaan. Bahkan suatu saat kerajaan ini tak ada lagi di peta.”
“Wow …” Heran Steven hingga membuat seolah ia tak percaya akan semua hal yang pernah ia dengar dari Anna sebelumnya.
“Oklah, jika seperti itu. Mungkin bisa kau beri tahu dengan surat untuk keberangkatannya,” ujar Steven dengan semangat. Karena menurutnya mungkin ini adalah jalan untuk wilayahnya kembali menjadi kerajaan yang damai, indah, dan megah seperti dahulu.
“Ok, tunggu saja kabar itu Steven.” Sambil tersenyum manis kepada Steven karena selama ini ialah yang membantunya dalam mengerjakan hal-hal yang menurut pihak kerajaan sebagai pemberontak ataupun pengkhianat.
“Baiklah kalau seperti itu. Sepertinya hari mulai petang. Mari aku antarkan pulang kau ke kerajaan,” tawarnya kepada Putri Anna.
“Baiklah jika itu maumu maka aku akan mengikutinya.”
Fiuuuutnnn!!! Steven memanggil kuda kesayangannya. Dengan cepat dan tangkas kuda itu datang dan mereka menungganginya bersama menuju kerajaan untuk memulangkan tuan putri.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Keranjang

Keranjang

Gayung adalah Renung

Gayung adalah Renung

Kukira Ada

Kukira Ada

Tekadku Setinggi Angkasa

Tekadku Setinggi Angkasa