web analytics

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

1 0
Read Time:2 Minute, 47 Second

Namanya Satria, seorang Mahasiswa semester 3 dari Fakultas ternama. Sejak kecil, membaca adalah hobinya. Berbagai judul buku ditekuninya. Beragam berita diamatinya. Berjuta informasi disimpan semampunya. Berjaga-jaga bila suatu saat berguna. Ya, ia senang mengamati banyak hal. Tentang kehidupan, tentang keadilan, pun beragam tanya yang tak sempat tersampaikan. 

Selain itu, ia juga menghabiskan waktu luang dengan menulis. Pena dan kertas dijadikan sasaran ide dan pemikiran, kata demi kata ditenunnya dengan kaidah kebahasaan, alam dan segala hiruk-pikuknya ia jadikan objek mengilhami gagasan. Maka tak heran, sejak meninggalkan bangku SMA, Fakultas Sastra jadi tujuan utama. Tempat dimana semua ini bermula. 

🖎🖎🖎

“Pada tahun 1984, semua organisasi sosial politik harus menyatakan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi mereka. Soeharto kemudian menggunakan Pancasila sebagai alat penekanan karena semua organisasi berada di bawah ancaman tuduhan melakukan tindakan-tindakan anti-Pancasila.”

Also Read: Nektar

Helaan napas terdengar setelah membaca paragraf itu. Ia geram, namun rasa penasaran lebih mendominasi perasaan. Ia pun melanjutkan membaca paragraf lain. Indra dan otaknya simultan merekam informasi. Hingga tiba pada satu fakta yang membuat gerakan matanya terhenti. 

“Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin setuju jika Orde Baru sangat sukses dalam menekan kejahatan. Nyatanya, keberhasilan tersebut berasal dari kebijakan yang mengerikan karena pada saat itu. Alih-alih memenjarakan para penjahat, Soeharto justru memerintahkan anak buahnya untuk membunuh mereka.

Dikenal dengan nama Penembakan Misterius (Petrus), operasi itu bertujuan untuk membuat teror ke dalam hati masyarakat Indonesia. Selama periode ini, militer, polisi, dan antek-antek pemerintah akan menangkap siapa pun yang dicurigai telah melakukan kegiatan kriminal dan mengeksekusi mereka tanpa proses pengadilan.

Dilansir dari laman Jakarta Post, mereka sering membuat pesan dengan memutilasi mayat-mayat para penjahat dan membuangnya di tempat umum dan meninggalkan sedikit uang yang ditaruh di dekat mayat mereka untuk biaya pemakaman. Hal ini dilakukan untuk menakut-nakuti penjahat lainnya.

Tidak semua dari mereka yang dibunuh adalah penjahat karena banyak dari pegawai negeri sipil dan petani yang tidak bersalah juga turut menjadi korban. Lebih dari 2 ribu orang terbunuh selama Operasi Petrus, walau Soeharto sendiri tidak mengakui fakta ini dalam otobiografinya.”

Sudah cukup. Ia mengakhiri kegiatan membacanya dengan raut masam. Geram. Membuat emosinya tak tertahankan. Dengan segenap keberanian, ia mulai membuka blog pribadinya. Tangannya bergerak lincah diatas keyboard. Perassannya berkecamuk, dadanya bergemuruh, matanya menyorotkan kebencian. Benci dengan tekanan. 

Also Read: Lalang Hilang

Sekarang, ia akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menuliskan beberapa paragraf yang mungkin akan menimbulkan musibah, yakni menentang pemerintah. Namun, ia tak peduli. Keadilan harus ditegakkan, sikap otoriter harus dihapuskan, lawan sikap sewenang-wenang !

Beberapa menit kemudian, tulisan itu sudah siap dipublikasikan. Tak perlu berkali-kali ia mengganti kata, pun tak perlu bingung memikirkan kalimat lanjutannya. Ia sudah mahir dalam urusannya. Bukan karena asal berkomentar tanpa sebuah fakta, tapi karena semuanya sudah tertata rapi di kepala. Berdasarkan fakta dan nyata. Kebiasaanya menyimak informasi, menyimpan dan menganalisis, lebih dari cukup untuk membuatnya mudah merangkai kata dan melahirkan sebuah gagasan yang sesuai. 

Dan sampailah ia pada kalimat terakhir tulisannya. Sekilas, ia tersenyum. Menekan tombol ‘enter’. Namun, belum sempat ia bernapas lega, 3 moncong pistol teracung didepannya. Orang-orang berseragam hitam siap memangsanya. Napasnya tertahan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Rupanya, bukan tulisan di blognya saja yang nyata, ancaman itu juga nyata. 

‘Dor!’ 

3 pistol itu sempurna menghamburkan isi kepalanya, meluluh-lantakkan otaknya. Bukan, bukan sikap otoriter yang musnah. Tapi harapannya merubah sistem pemerintahan yang musnah. Di zaman Pak Harto, tulisan saja bisa membunuhnya.

 

(Ditulis di Kajen-Pati, 2021)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Struggle

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Nektar

Nektar

Antara Kita dan Layar

Antara Kita dan Layar

Lalang Hilang

Lalang Hilang

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Keranjang

Keranjang