web analytics

Mohammed Aziz: Toko Buku, Membaca, dan Menaklukkan Dunia

0 0
Read Time:4 Minute, 55 Second

Di sebuah sudut kota Rabat, Maroko, terdapat sebuah toko buku kecil yang mungkin tampak biasa bagi orang yang lewat. Rak-raknya penuh sesak dengan buku-buku tua, sampulnya mulai pudar dimakan usia, dan lorong sempitnya nyaris tak menyisakan ruang untuk bergerak. Namun tempat kecil itu menyimpan sebuah kisah besar tentang cinta terhadap ilmu, ketekunan, dan harga diri manusia. Di sanalah seorang pria tua bernama Mohammed Aziz menghabiskan sebagian besar hidupnya: membaca.

Bagi banyak orang, Mohammed Aziz bukan sekadar penjual buku. Ia adalah simbol dari keyakinan bahwa pendidikan tidak pernah dibatasi usia, keadaan ekonomi, ataupun gelar akademik. Ia membuktikan bahwa seseorang tetap dapat menjadi pembelajar sejati meskipun hidup tidak memberinya kesempatan menikmati bangku sekolah yang panjang.

Kisah hidup Mohammed Aziz bermula dari kesederhanaan. Ia lahir dalam keluarga yang tidak berkecukupan. Sejak kecil, kehidupan mengajarinya tentang kerasnya realitas. Ketika anak-anak lain mungkin masih sibuk mengejar cita-cita di sekolah, Aziz harus menghadapi kenyataan bahwa keluarganya tidak mampu membiayai pendidikan yang lebih tinggi. Ia tidak memiliki privilege untuk belajar di universitas atau menghabiskan masa muda dengan membaca di perpustakaan besar.

Namun keterbatasan ekonomi tidak mematikan rasa ingin tahunya.

Justru dari situlah lahir sebuah janji dalam dirinya: jika hidup tidak memberinya pendidikan formal, maka ia akan mendidik dirinya sendiri lewat buku.

Janji itu tidak diucapkan dengan pidato besar atau ambisi yang berisik. Ia menjalaninya perlahan, diam-diam, tetapi konsisten sepanjang hidup.

Mohammed Aziz kemudian membuka toko buku bekas kecil di Rabat. Toko itu sederhana, jauh dari kesan modern atau mewah. Tidak ada desain elegan, tidak ada pendingin ruangan, bahkan tidak ada rak-rak rapi seperti toko buku besar. Hanya tumpukan buku yang menggunung dan seorang pria tua yang hampir selalu terlihat sedang membaca.

Hal yang membuatnya begitu terkenal adalah kebiasaannya yang nyaris tidak berubah selama puluhan tahun. Saat menunggu pembeli, Aziz tidak melamun, tidak bermain, dan tidak sekadar duduk menghabiskan waktu. Ia membaca. Hampir setiap saat.

Orang-orang yang melewati tokonya sering melihat pemandangan yang sama: seorang pria tua berkacamata duduk di mulut pintu toko sempitnya, tenggelam dalam halaman-halaman buku. Wajahnya tenang. Tatapannya penuh perhatian. Seolah dunia di sekelilingnya menghilang ketika ia membaca.

Foto-fotonya kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Banyak orang tersentuh bukan karena kemewahan hidupnya, melainkan karena kesederhanaannya yang begitu tulus. Di era ketika manusia semakin sulit fokus membaca beberapa halaman saja, Mohammed Aziz menunjukkan dedikasi yang nyaris langka: mencintai buku sepanjang hidup.

Konon, ia telah membaca ribuan buku dari berbagai bidang. Sastra, filsafat, sejarah, agama, hingga ilmu pengetahuan. Ia membaca bukan demi pengakuan, bukan demi gelar, dan bukan demi popularitas. Ia membaca karena ia percaya ilmu adalah cara manusia memperluas hidupnya.

Ada sesuatu yang sangat menyentuh dari sosok Mohammed Aziz. Ia tidak pernah terlihat berusaha menjadi terkenal. Ia tidak membangun citra intelektual untuk dipuji orang. Bahkan tokonya tetap sederhana meskipun namanya mulai dikenal luas. Semua itu membuat kecintaannya pada buku terasa begitu murni.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar validasi, Aziz hadir sebagai pengingat bahwa membaca adalah percakapan sunyi antara manusia dan pengetahuan. Sebuah proses yang membentuk cara berpikir, memperhalus hati, dan memperluas pandangan hidup.

Kisah hidupnya juga mengajarkan bahwa pendidikan sejati tidak selalu lahir dari ruang kelas. Sekolah memang penting, universitas juga berharga, tetapi semangat belajar jauh lebih penting daripada sekadar institusi. Banyak orang memiliki akses pendidikan namun berhenti belajar setelah lulus. Sebaliknya, Mohammed Aziz mungkin tidak memperoleh pendidikan tinggi, tetapi ia tidak pernah berhenti menjadi murid kehidupan.

Itulah yang membuat kisahnya terasa begitu relevan untuk Hari Buku Nasional.

Hari Buku Nasional bukan hanya tentang membeli buku baru atau memamerkan koleksi bacaan. Hari Buku Nasional adalah pengingat bahwa buku memiliki kekuatan mengubah manusia. Buku mampu membuka jendela dunia bahkan bagi mereka yang tidak pernah meninggalkan kota kecilnya. Buku bisa menjadi guru bagi orang-orang yang tak sempat menikmati pendidikan formal. Buku juga bisa menjadi teman paling setia dalam kesunyian.

Mohammed Aziz memahami semua itu.

Di tokonya yang sempit, ia menemukan dunia yang luas. Melalui halaman-halaman buku, ia bisa menjelajahi sejarah peradaban, memahami pemikiran para filsuf, mengenal budaya-budaya asing, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Tubuhnya mungkin tetap berada di Rabat, tetapi pikirannya menjelajah ke mana-mana.

Ada pelajaran penting lain dari hidupnya: konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari dapat membentuk kehidupan yang luar biasa.

Aziz tidak menjadi inspirasi karena melakukan sesuatu yang spektakuler dalam semalam. Ia hanya membaca, sedikit demi sedikit, hari demi hari, tahun demi tahun. Tetapi justru kebiasaan sederhana itulah yang akhirnya membuat dunia mengenalnya.

Di zaman serba cepat seperti sekarang, banyak orang ingin hasil instan. Ingin pintar secara cepat, sukses secara cepat, terkenal secara cepat. Namun Mohammed Aziz menunjukkan bahwa pertumbuhan sejati membutuhkan kesabaran. Pengetahuan dibangun halaman demi halaman. Kebijaksanaan lahir dari proses panjang memahami kehidupan.

Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap ilmu tidak mengenal usia. Bahkan ketika rambutnya memutih dan tubuhnya menua, Aziz tetap membaca. Ia tetap penasaran. Ia tetap haus akan pengetahuan. Dan mungkin di situlah letak keindahan terbesar manusia: ketika ia tidak pernah berhenti belajar sampai akhir hidupnya.

Banyak orang memiliki kehidupan yang lebih nyaman daripada Mohammed Aziz, tetapi tidak memiliki semangat belajarnya. Itulah sebabnya kisahnya begitu menggugah. Ia membuat kita bertanya pada diri sendiri: jika seseorang dengan segala keterbatasan mampu mencintai ilmu sedalam itu, lalu apa alasan kita untuk berhenti membaca?

Hari Buku Nasional seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum untuk kembali mendekat pada buku, kembali melatih fokus, kembali membangun rasa ingin tahu, dan kembali menyadari bahwa membaca bukan aktivitas kuno. Membaca adalah cara manusia bertumbuh.

Mohammed Aziz mungkin hanyalah seorang penjual buku tua di Maroko. Ia bukan profesor terkenal, bukan tokoh politik besar, dan bukan selebritas dunia. Namun dari toko kecilnya, ia mengajarkan sesuatu yang sangat besar: bahwa manusia yang terus membaca tidak akan pernah benar-benar miskin.

Karena pengetahuan memberi manusia kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh keadaan.

Dan selama masih ada orang-orang seperti Mohammed Aziz, dunia akan selalu memiliki harapan bahwa kecintaan terhadap buku belum benar-benar padam.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi