web analytics

Untungnya, Bumi Masih Berputar

0 0
Read Time:2 Minute, 33 Second

Sore ini, langit kediri terasa lebih pekat dari biasanya, gemuruh angin perlahan merangkul orang-orang dihadapannya. Matahari sore yang hari lalu menampakan warna jingga, kini enggan keluar, seakan merajuk bak anak kecil yang tidak dituruti permintaannya membeli mainan yang disukainya.

Warung kecil, lampu kuning, meja yang masih sepi pengunjung, bapak-bapak paruh baya yang sedang menyapu dan diujung tepat dibawah jam dinding berwarna putih, Zaynudin duduk termangu dan lemas meratapi nasib. Dimejanya hanya ada kopi hitam tanpa gula dan sebungkus Magnum Kretek yang masih tersisa lima batang didalamnya.

Dunia seakan bersekongkol untuk membantu meruntuhkan hidup Zay di perantauan, mahasiswa semester akhir jurusan penyiaran, yang sejak pagi mendapatkan bertubi-tubi masalah, mulai dari motornya yang tidak bisa menyala, proposal yang ditolak mentah-mentah dosen pembimbing, dompet yang hilang entah kemana, sampai yang paling parah tim kesayangannya, Chelsea, baru saja kalah tadi malam. yaa walaupun yang terakhir tidak terlalu penting, akan tetapi percayalah, hal-hal semacam ini sangat sakit dirasakan fans sepak bola, apalagi kalah di final.

Zay, menghela napas panjang, bahunya merosot. Pikirannya berkecamuk, mempertanyakan segala usaha yang telah ia lakukan selama ini. “Kenapa harus terjadi di hari yang sama” gumamnya lirih, membiarkan angin menerpa wajahnya.

Dibelakang mejanya, pria paruh baya yang biasa disapa pakde, melatakan pisang goreng dimejanya, pakde tersenyum menyapa Zay, seakan menyadari apa yang dialami Zay hari ini.

“Pie, Le? Koyoke sumpek tenan dino iki” sapa pak de sambil membersihkan meja dengan kain lap.

Zay mendongak, tersenyum kecut. “Iya, pakde. Rasanya pengen berhenti, capek banget”

Pakde berhenti sejenak, kemudian duduk di kursi kayu kosong tepat disebelah Zay. Ia menunjuk arah jalanan yang mulai sepi diluar warung. “Coba kamu lihat keluar, Le. Dunia hari ini emang ngga baik-baik aja buat kamu. Tapi lihat, lampu-lampu jalan tetap menyala, angin tetap bertiup, dan besok pagi, tentu matahari pasti akan terbit dari timur seperti biasa.

Pakde menepuk pundak Zay perlahan.

“Seberat apapun masalahmu, bumi terlalu besar dan berputar terlalu cepat untuk berhenti hanya karena hidupmu penuh dengan masalah. Ambilah napas dalam-dalam, bersyukurlah, setidaknya kakimu masih berpijak di Bumi dan kamu masih diberikan kesempatan untuk mencoba lagi besok pagi.”

Also Read: Nektar

Perkataan sederhana itu menampar Zay dengan lembut. Ia menatap cangkir kopinya yang perlahan memantulkan kerlip kuning lampu warung.

Benar juga. Masalah yang ia hadapi hari ini, sebesar dan sesulit apapun itu, hanyalah satu fragmen kecil dari keseluruhan perjalanan hidupnya. Dunia tidak berhenti berputar karena Proposal Skripsinya ditolak, ada hari esok yang masih menunggu. Alam semesta menjalankan tugasnya dengan presisi, memberikan kepastian ditengah ketidakpastian hidup Zaynudin.

Zay memecah keheningan dengan senyuman tulus. Ia mengambil pisang goreng hangat dan menggigitnya perlahan. Hangatnya menjalar, memberikan sedikit ketenangan di dadanya.

“Matur suwun, Pakde.” Ujar Zay dengan suara yang jauh lebih mantap.

“Untungnya, bumi masih berputar. Saya masih bisa bernapas dan skripsinya bisa ia revisi lagi besok pagi”

Langit semakin gelap, bapak-bapak berlalu menuju surau kecil di ujung gang, pertanda adzan maghrib segera berkumandang, Zay keluar, membayar pesannya dan melangkah dengan langkah yang jauh lebih ringan.

Also Read: Lalang Hilang

Adzan maghrib berkumandang, Zay mampir sejenak untuk sholat berjamaah. Soal masalah yang datang hari ini, semuanya besok ia bisa perbaiki.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
elmahrusy

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Medan Magnet Bumi

Medan Magnet Bumi

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Nektar

Nektar

Antara Kita dan Layar

Antara Kita dan Layar

Lalang Hilang

Lalang Hilang

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas