web analytics

Gus Dur dan Maulid Hijau

0 0
Read Time:2 Minute, 1 Second

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang lekat dengan demokrasi, kemanusiaan, kebudayaan, dan pemikiran Islam. Namun, tak banyak yang mengetahui jejak kepeduliannya terhadap lingkungan. Salah satunya tersimpan dalam kisah Maulid Hijau di Lumajang, Jawa Timur.

Pada 2006, Aak Abdullah Al-Kudus, pendiri Laskar Hijau, menggagas Maulid Hijau bersama masyarakat sekitar Danau Ranu Klakah, Lumajang. Gerakan ini berangkat dari tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. yang dipadukan dengan kegiatan menanam dan merawat pohon.

Bagi Aak, Maulid Hijau bukanlah upaya menghilangkan esensi peringatan kelahiran Nabi. Justru, tradisi itu menjadi jalan untuk menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah ke dalam tindakan nyata: merawat alam dan menghijaukan kembali Gunung Lamongan yang mengalami kerusakan.

Dua tahun berselang, gerakan ini menghadapi penolakan. Pada 2008, MUI Kabupaten Lumajang menyatakan kegiatan Maulid Hijau sesat. Aak turut menjadi sasaran tudingan karena dianggap membawa masyarakat pada praktik keagamaan yang menyimpang.

Penolakan tersebut membuat Aak berada dalam posisi sulit. Sebagai santri yang pernah menimba ilmu selama lima tahun di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, ia menghormati para kiai. Namun, ia juga merasa perlu mempertahankan gerakan penghijauan yang diyakininya tidak bertentangan dengan semangat Maulid Nabi.

Di tengah kebuntuan, seorang teman menyarankan Aak menemui Gus Dur. Aak pun mendatangi kantor PBNU di Jakarta untuk menjelaskan persoalan yang menimpa Maulid Hijau. Gus Dur kemudian mengarahkannya untuk menyampaikan persoalan itu dalam sebuah acara di Radio KBR 68 H, Utan Kayu.

Melalui siaran radio tersebut, Gus Dur menyatakan pembelaannya terhadap Aak dengan tegas. Sikap itu menjadi dukungan penting bagi Maulid Hijau yang tengah menghadapi tekanan. Menurut penuturan Aak, setelah pernyataan Gus Dur disampaikan, rencana puluhan kiai untuk berangkat ke Jakarta guna meminta fatwa nasional akhirnya dibatalkan.

Pembelaan Gus Dur memperlihatkan sisi lain dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Baginya, persoalan alam tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan masyarakat, tradisi, dan kebebasan menyampaikan gagasan. Merawat lingkungan juga berarti memberi ruang bagi orang-orang yang berjuang menjaganya.

Pada 2010, Walhi menganugerahkan gelar kehormatan kepada Gus Dur sebagai tokoh pejuang lingkungan hidup. Peneliti Sajogyo Institute, Eko Cahyono, juga menelusuri warisan pemikirannya, mulai dari perjuangan reforma agraria demi keadilan petani hingga dukungan terhadap kebijakan moratorium penebangan hutan untuk menjaga ekosistem.

Kisah Gus Dur dan Maulid Hijau menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan bukan perkara menanam pohon semata. Ada keberanian membela masyarakat, merawat tradisi, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih adil. Dari lereng Gunung Lamongan, kisah ini mengingatkan bahwa mencintai agama dan merawat bumi tidak harus berjalan sendiri-sendiri.

*Disarikan dari artikel Mongabay yang berjudul “Meneladani Gus Dur dalam Membela Lingkungan Hidup”

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Fenomena Beauty Privilege dalam Kehidupan Sosial

Fenomena Beauty Privilege dalam Kehidupan Sosial

Estetika Tanpa Rupa: Menyelami Keindahan Kaligrafi dan Geometri Islam

Estetika Tanpa Rupa: Menyelami Keindahan Kaligrafi dan Geometri Islam

Dengan Bersujud, Kita Mengaku Hamba Dari Tuan-Nya

Dengan Bersujud, Kita Mengaku Hamba Dari Tuan-Nya

Sumpah Pemuda: Meneruskan Perjuangan Pada Perubahan Zaman

Sumpah Pemuda: Meneruskan Perjuangan Pada Perubahan Zaman

Santri, Penjaga Warisan dan Penggerak Peradaban

Santri, Penjaga Warisan dan Penggerak Peradaban

Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual

Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual