Pagi itu begitu cerah. Embun masih menetes dari ujung dedaunan, sementara rerumputan bergoyang pelan diterpa angin. Di tengah suasana yang tampak damai itu, sebuah kisah bermula.
Ini bukan cerita tentang seorang pria tua atau seorang gadis kecil. Ini adalah cerita tentang seekor itik kecil bernama Tita.
Tita tinggal di sebuah kandang milik Pak Malik. Di sana, ia hidup bersama itik-itik lain, ayam, dan angsa. Namun, meskipun tinggal di tempat yang sama, Tita tak pernah benar-benar menjadi bagian dari mereka.
Sejak menetas dari telurnya, entah mengapa, Tita selalu diperlakukan berbeda. Ketika hewan-hewan lain berkumpul untuk makan bersama, ia justru dijauhi. Setiap kali mencoba mendekat, beberapa di antara mereka segera menghadangnya.
“Ih, jauh-jauh sana, itik jelek!”
“Ngapain mendekat ke sini? Sana, pergi!”
“Siapa yang menyuruhmu ikut makan bersama kami? Enak banget, tiba-tiba ikut!”
Begitulah kira-kira perkataan yang setiap hari harus diterima Tita.
Ia tak pernah membalas. Ia hanya diam, menundukkan kepala, lalu menjauh dari kerumunan. Lama-kelamaan, Tita menjadi itik yang jarang bergerak dan lebih sering menghabiskan waktunya sendirian di sudut kandang. Kesedihan seolah menjadi teman yang selalu menemaninya.
Setiap hari, Pak Malik memeriksa perkembangan ternak-ternaknya. Ia memperhatikan ayam-ayam yang mulai banyak bertelur, angsa-angsa yang sibuk ke sana kemari, serta itik-itik yang selalu bergerombol.
Namun, ada satu pemandangan yang mengusik perhatiannya.
Di sudut kandang, seekor itik kecil tampak menyendiri. Tak ada yang mendekatinya. Tak ada pula yang mengajaknya makan bersama. Itik itu hanya diam, seolah telah terbiasa dengan kesendirian yang tak pernah ia pilih.
Pak Malik mengamati Tita beberapa saat. Ada rasa iba yang menyelinap di hatinya.
Ternyata, bukan hanya manusia yang bisa hidup tanpa teman. Hewan pun bisa mengalami hal yang sama, batinnya.
Hari-hari berlalu dengan lambat bagi Tita. Pagi datang, siang menjelang, lalu malam kembali menyelimuti kandang. Semuanya berlangsung seperti biasa, begitu pula kesendiriannya.
Sampai suatu hari, suasana kandang mendadak berubah kacau.
Seekor angsa berlari tergopoh-gopoh sambil berteriak, “Lari! Cepat lari! Tuan sedang mencari mangsa!”
Seketika, seluruh penghuni kandang panik. Ayam-ayam berlarian, angsa-angsa mengepakkan sayap, sementara itik-itik saling berdesakan mencari tempat persembunyian. Tak seorang pun ingin menjadi santapan berikutnya.
Di tengah kekacauan itu, Tita tetap diam di sudut kandang.
Aku melihat seluruh koloniku berlarian ketakutan. Tentu saja, siapa yang mau menjadi korban berikutnya?
Namun, aku tak bergerak sedikit pun.
Mungkin aku sudah terlalu lelah untuk takut. Atau mungkin, aku hanya tak lagi peduli dengan apa yang akan terjadi kepadaku.
Untuk apa menyelamatkan diri jika selama ini keberadaanku saja tak pernah dianggap?
Lebih baik pergi daripada terus tinggal di tempat yang tak pernah menginginkanku. Bukankah begitu?
Aku melihat pria tua itu berjalan mendekat. Pak Malik berhenti tepat di hadapanku, lalu mengangkat tubuhku perlahan.
Aku tak melawan. Aku hanya membiarkan diriku dibawa pergi.
Dari gendongannya, aku masih sempat melihat wajah-wajah penghuni kandang yang selama ini kusebut sebagai kelompokku. Beberapa tampak terkejut, tetapi sebagian besar justru terlihat lega.
“Syukurlah, akhirnya itik menyebalkan itu pergi,” seolah itulah yang ingin mereka katakan.
Tak ada yang mencoba menahanku. Tak ada yang merasa kehilangan.
Ternyata, kepergianku memang tak berarti apa-apa bagi mereka.
Pak Malik membawaku ke sebuah tempat tak jauh dari kandang. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ketika melihat sebuah pisau besar tergeletak di hadapanku, aku mulai memahami maksud kedatanganku ke tempat itu.
Jadi, inilah akhirnya?
Aku menatap pisau itu. Benda tersebut tampak begitu tajam, seolah tak akan memberiku kesempatan untuk menghindar. Sebentar lagi, mungkin aku akan berakhir di atas meja makan, diolah menjadi balado, masak kecap, kari, atau bahkan rendang.
Tunggu dulu. Memangnya enak daging itik dibuat rendang?
Ah, sudahlah. Untuk apa memikirkan menu makan malam jika sebentar lagi aku bahkan tak bisa lagi berpikir?
Aku melirik wajah Pak Malik. Aneh, pria tua itu tampak sedih. Apakah ia merasa kehilangan seekor itik sepertiku?
Hehe. Setidaknya, masih ada seseorang yang terlihat sedih atas kepergianku.
Pisau itu mulai mendekat. Aku memejamkan mata, mencoba menerima apa yang akan terjadi.
Perlahan, rasa sakit menyergapku. Pandanganku mulai kabur, suara-suara di sekitarku menjauh, dan kesadaranku perlahan menghilang.
Jadi, begini akhirnya.
Aku tak pernah benar-benar memiliki teman. Tak pernah pula merasakan bagaimana rasanya diterima oleh kelompok sendiri. Dan sekarang, sebelum sempat mengetahui rasanya dicintai, hidupku harus berakhir.
Barangkali, beginilah nasib seekor itik kesepian.
“Ayah, tega banget, sih! Huaa!”
Tangis Ani pecah setelah mendengar cerita ayahnya, Pak Malik. Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ya, mau bagaimana lagi?” jawab Pak Malik. “Daripada itik itu terus menyendiri, lebih baik Ayah sembelih dan kita makan.”
Ani tak menjawab. Pandangannya beralih ke piring di hadapannya. Di sana, seporsi rendang itik telah disiapkan oleh ibunya.
Ia menatap hidangan itu dengan perasaan campur aduk. Entah mengapa, setelah mendengar kisah Tita, daging di piringnya tak lagi terlihat seperti makanan biasa.
“Sudah, dimakan saja rendangnya,” ujar ibunya dari dapur. “Nanti kalau sudah dingin, kurang enak.”
Ani masih terdiam. Ia memandangi potongan daging itu sebelum akhirnya berbisik pelan, “Maaf, ya, Itik Kesepian.”
Lalu, ia menyuapkan sepotong rendang ke mulutnya.
“Hmm, rendangnya enak, Bu!”
Begitulah kisah Tita, seekor itik kecil yang kesepian dan akhirnya berakhir menjadi rendang yang lezat.
Ironis, bukan? Sepanjang hidupnya, Tita tak pernah diterima oleh kelompoknya. Namun, pada akhirnya, ia justru diterima dengan hangat di meja makan sebuah keluarga.
Barangkali, kesepian bukan hanya tentang tak memiliki teman. Kesepian juga tentang berada di tengah keramaian, tetapi tak seorang pun menganggap keberadaan kita berarti.
Dan siapa sangka, kisah seekor itik kecil bisa mengingatkan kita bahwa bukan hanya manusia yang membutuhkan teman. Makhluk lain pun layak mendapatkan perlakuan yang baik, sekalipun mereka tak bisa mengungkapkan kesedihannya dengan kata-kata.
Oleh: Arina Manasikana