web analytics

Pemakaman Diselimuti Kekonyolan

0 0
Read Time:4 Minute, 58 Second

Motor bebek bernama Supra itu melaju menemani rasa ketertarikanku kepada Kuburan Cina kuno di pinggir kali. Ini masih sore, tahu! Namun sepoi anginnya berhasil bikin menggigil juga bulu kuduk meninggi. Dingin angin itu macam siang hari dengan kebakaran hutan sebagai matahari. Ini dunia apa, sih?

Kuburan Cina itu paling gagah, paling tinggi, serta berada tepat di tengah pemakan. Tak lupa, ia pun sungguh manis juga cantik. Di sisi lain, tanahnya pintar, bunga-bunga yang tumbuh subur di atasnya juga sangat religius. Bagaimana aku tidak tertarik pada kuburan dengan segala keindahannya itu? Atau mungkin pertanyaannya adalah, kenapa aku bisa jatuh cinta pada seonggok tanah yang sedang mengandung mayat? Apakah benar aku manusia? Sepertinya aku jangan bertanya seperti itu. Karena para tanya itu membikin aku seolah-olah tidak percaya diri dan haus validasi. Sudahlah … yang penting aku suka. Eh … Kalau aku bilang seperti itu, maka secara tidak langsung aku macam egois kepada diriku sendiri. Ah! Persetan dengan pikiran. Alangkah baiknya kita kembali membahas Kuburan Cina itu.

Ketika sedang nyore bersama Supra dan mendapati Kuburan Cina di pinggir kali, tangan ini seolah tak kuat untuk tidak mengangkat dan mengarahkan jari telunjukku pada Kuburan Cina. Seakan-akan ada tali yang saling mengait antara kami (aku dan Kuburan Cina). Hal itu bikin aku semakin ingin mengenalnya. Tanpa basa-basi, aku membelokkan Supra menuju pinggir kali untuk mengunjungi tetanggaku yang tinggal di dalam kali. Iya! Tetanggaku bernama Ikan. Kalau tidak percaya lihat saja sendiri! Aku telah berada dihadapannya.

“Salah jika kamu bertanya kepadaku seputar Kuburan Cina itu. Meski begitu, aku turut mengapresiasi keberanianmu mengunjungi aku. Oleh karena itu, mari kuceritakan juga kuperkenalkan seberapa panjang cerita itu.” Pernyataan dari Ikan tersebut kusambut dengan melukis antusias dalam wajahku. Tepatnya sebelum cerita itu habis dimakan waktu.

Also Read: Kesepian

***

Pada zaman dahulu … sekitar beberapa detik yang lalu dalam layu, ada seekor Singkek yang sungguh ayu nan buruk rupa. Dia sangat berbahaya macam belenggu. Untungnya dia mati.

***

Also Read: Biru Sunyi

Mungkin mulutku tidak cukup lebar untuk menganga akibat mendengar cerita itu. Panjang sekali ceritanya.

“Terima kasih. Informasi yang sangat membantu.” Ujarku sambil menyalakan mesin Supra lalu sekonyong-konyong kembali ke rumah.

Perjalanan pulang sungguh tidak nyaman kurasa. Bagaimana dan ke mana aku pulang jika rumah pun tak punya? Jangan dihiraukan! Itu hanya dialogku dengan kepala. Aku punya rumah, namun ada kamar mandi yang belum jadi di sana. Kalau teringat hal itu, aku jadi terpikir falsafah orang Jawa yang menyatakan bahwa, “jangan sampai rumah lebih dahulu jadi daripada kamar mandi”.

Ketakutan itu benar saja terjadi ketika aku melangkah melintasinya. Hanya kaku yang kurasa. Aku tidak takut karena tidak percaya. Namun badanku yang kaku membikin pandangan tak lekang olehnya. Semakin dilihat, semakin merasa gelap. Tak usah kau ungkit masa depanku yang gelap! Kamar mandi itu tak punya lampu untuk mencerahkan masa depanku. Kalau dilihat-lihat, kamar mandi itu tetap dingin juga lembap meski belum pernah difungsikan. Bak airnya saja dipenuhi sarang laba-laba. Kalau dipandang-pandang, kasihan juga kamar mandi ini. Dia harus tegar dengan bata merahnya di tengah rumah yang telah cantik nan rapi. Para rasa yang kuperoleh saat memandang kamar mandi itu menimbulkan rasa lumpuh ketika aku merasa dipeluk olehnya. Bisa-bisanya kamar mandi itu berbisik di hatiku, “Kapan kamu menjadikan aku sebagai istrimu?”

Ini dunia apa, sih? Kamar mandi saja terasa begitu hidup. Bahkan bisa membuatku tergeletak kaku juga bisu. Bukannya linglung, bangunku penuh akan pikiran. Berisik sekali kepalaku. Sudah macam filsuf saja aku. Tapi ini sungguh mengganggu aku. Bayangkan ketika kita tidak percaya akan suatu hal yang konyol tapi juga, di sisi lain, suatu hal yang konyol itu punya banyak bukti untuk bisa membuat kita percaya.

Dalam hal ini tentu aku tak pecaya akan hantu. Mana bisa aku percaya pada hal konyol semacam itu. Tapi juga, di sisi lain, penglihatan dan perasaan itu cukup nyata untuk membuatku percaya. Kegonjang-ganjingan dalam diriku mulai menemukan titik terang ketika aku membopong diriku ke Dokter dan kepada Orang Pintar. Kala itu Dokter hanya bilang jika aku terkena penyakit lambung, maag. Tapi ketika aku berhadapan dengan Orang Pintar, aku mendapati sebuah kekonyolan setelah mengutarakan dan menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini.

Dia bilang, “Wah! Ini tidak bisa! Kamu sudah terkena!”

Tentu aku bingung, terutama ketika Orang Pintar yang buta itu mengetahui ketertarikanku kepada Kuburan Cina serta kedekatanku dengan kamar mandi kala itu.

“Sosok itu telah menyukaimu!” Kata Orang Pintar itu.

Also Read: Kutu

Seharusnya aku takut, kan? Tapi ketika dia dirasuki oleh sosok yang “katanya” menyukaiku itu … Sumpah! Aku selalu menahan perutku untuk tidak mengeluarkan tawa. Sumpah! Aku tidak kuat menahan tawa ini. Bagaimana tidak? Orang Pintar itu menampilkan raut muka macam orang yang sedang menghirup uap lem. Terutama ketika ia mulai menggumam tidak jelas kemudian diterjemahkan oleh asistennya untuk disampaikan kepadaku.

“Kamu harus menyerahkan sesuatu agar sosok itu berpaling darimu.”

Kalimat itu membuatku ingin melucu. Aku berpura-pura menggeliat dan memasang raut muka macam orang yang sedang menghirup uap lem. Ini dunia apa, sih? Konyol sekali. Perutku hampir saja memuntahkan tawa. Terlebih ketika asisten Orang Pintar itu menanggapi aku dengan serius.

“Ada di mana sosok itu, nak? Apakah di atas lemari? Wah! Cantik sekali! Rambut panjangnya hitam legam juga gelap macam masa depanku. Kalau kamu ingin lepas dari sosok itu, kamu harus menghanyutkan pelepah pisang yang telah dikafani serupa mayat manusia di kali samping pemakaman itu.”

Lagi-lagi perutku sudah mau muntah rasanya. Tapi anehnya aku tetap menanggapi saran dari Orang Pintar itu. Setelah aku menghanyutkan pelepah pisang yang dikafani macam mayat itu di kali samping pemakaman, malah aku yang terhanyut dalam kali. Ini dunia apa, sih? Paru-paruku sungguh panas saat ini. Telah berangsur-angsur dipenuhi air. Napasku tak lagi sama, kini aku punya insang! Ya! Aku jadi ikan. Senang sekali aku bisa menjadi ikan. Akhirnya … penantian yang amat lama ini telah terjadi. Aku akan menjalani hari-hari dengan berenang ke sana-kemari tanpa arah pasti sambil bernyanyi menanti mati.

Namun rencanaku itu terganggu ketika suatu saat aku bertemu dengan Singkek itu. Ternyata … selama ini dia telah menjelma menjadi ikan. Maka kami putuskan untuk merangkai rencana bersama setelah para kedekatan itu.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
Cerita Horor

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Kesepian

Kesepian

Biru Sunyi

Biru Sunyi

Bima dan Sebungkus Kebaikan

Bima dan Sebungkus Kebaikan

Satu Hari untuk Beribu Kewajiban

Satu Hari untuk Beribu Kewajiban

Kutu

Kutu

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing