97 tahun yang lalu tepat tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia memperingati hari yang sarat makna yaitu Hari Sumpah Pemuda. Tanggal ini bukan hanya sebatas peringatan sejarah, tetapi momentum untuk menggaungkan kembali semangat persatuan yang menjadi dasar berdirinya bangsa. Sumpah Pemuda merupakan titik balik sejarah nasional yang melahirkan kesadaran kebangsaan di tengah beragam perbedaan. Namun, pertanyaannya kini: apakah semangat itu masih hidup di tengah generasi muda masa kini?
“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia…” Tiga ikrar ini telah menjadi sumbu sejarah yang menyalakan api semangat kebangsaan. Sumpah Pemuda bukan hanya tentang politik dan kemerdekaan, tetapi tentang kesadaran kolektif bahwa bangsa besar lahir dari persatuan hati dan cita-cita. Kongres Pemuda ke II telah melahirkan bukan hanya ikrar, tetapi identitas nasional. Ikrar sumpah pemuda tidak hanya berhenti pada pengucapan kalimat tetapi juga menuntut aksi nyata pemudanya.
Santri masa kini juga tidak kalah menyala di tengah zaman. Mereka menjelma menjadi jembatan antara tradisi dan kemajuan. Mereka mampu menulis, meneliti, berdebat, dan berdialog dengan dunia. Meskipun dengan keterbatasan akses dan minim fasilitas bukan alasan untuk tidak mau berkembang. Dengan bara semangat pemuda santri merubah semuanya menjadi nilai dan produktivitas. Kita bisa belajar dari sosok seperti KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang menjelma menjadi cermin kemodernan dalam kesahajaan. Beliau menulis puisi, melukis perenungan, menyampaikan dakwah dengan bahasa yang lembut dan jenaka. Gus membuktikan bahwa seorang kiai bisa menjadi sastrawan, dan seorang sastrawan bisa menjadi kiai. Begitupun santri pemuda hari ini tidak takut pada ilmu modern tetapi juga tidak menghilangkan adab dan kesantunan jiwa.
Hari ini kita sedang hidup di zaman yang jauh berbeda, tidak ada lagi penjajah berseragam. Tetapi penjajahan mental, arus globalisasi, dan perpecahan digital menjadi momok yang sering kita temui bahkan kita sendiri terkadang tidak menyadari. Saatnya tunjukkan aksi nyata pada dunia bahwa santri adalah penggerak literasi. Santri hadir menciptakan narasi yang menyejukkan, bukan untuk melempar umpatan. Media sosial menjadi ladang dakwah baru untuk menghadirkan ruang hangat kebersamaan. Keberagaman dan perbedaan menjadi warna baru persatuan yang lebih indah.
Sumpah pemuda menyeru para santri untuk bersinergi memberikan ruang damai dalam media sosial. Narasi santun, konten edukatif, dan dakwah ramah membangun peradaban persatuan semua kalangan. Kepemudaan santri menumbuhkan semangat untuk selalu berani bersatu, berani berkarya, dan berani menjaga Indonesia dalam setiap tindakan kecil sekalipun. Ikrar sumpah pemuda akan selalu hidup dalam hati, langkah dan karya seorang santri. Mari rayakan hari santri dan sumpah pemuda dengan aksi nyatamu!