Entah ini tulisan apa, namun saya sebagai perempuan ingin saja menuliskan berbagai tulisan tentang apa yang selama ini saya renungkan. Begitulah garis besar hal yang melatarbelakangi tulisan ini.
Mata seorang perempuan selalu melihat, lalu merenungi dunia dengan cara yang berbeda, sudut pandang juga terbentuk dari lingkungan. Sebuah rintangan di depan mata, termasuk rintangan yang muncul dari diri sendiri menjadi cikal bakal akan takut kegagalan tapi juga was-was akan keberhasilan. Rasanya ingin sekali berfikir cemerlang lalu di ekspos dengan jelas namun takut ‘berlebihan’ muncul juga secara tiba-tiba. Seorang perempuan ternyata punya perjalanan sendiri, yang jelas berbeda dengan laki-laki.
Banyak perihal yang tak perlu dijelaskan kepada siapapun tantang kodrat perempuan, namun banyak sudut pandang yang memojokkan perempuan. Terlebih menjadi jurnalis perempuan. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan baru yang ada di dalam diri perempuan. Harus tampil “wow” di depan umum sebagai jurnalis perempuan adalah sebuah tekanan batin yang tak bisa dijelaskan secara jelas. Perlu diketahui memang, mengapa saya menulis ini. Sebenarnya dengan nada cinta dan kesal saya tarikan jemari saya di atas keyboard ungu lylac ini. Mengapa?
Sok tau atau cari tau?
Ada beberapa alasan agar kita selalu menghargai seorang jurnalis, pertama yaitu menjadi jurnalis itu mengajarkan kita untuk tidak kenal kata “tidak dapat” karena jika kita sudah bekerja sama di dalam suatu institusi atau perusahaan kita harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah menjadi amanah kita, begitu juga menjadi seorang jurnalis yang harus mendapatkan informasi, secara kasarnya harus dikejar sampai dapat, untuk membuktikan bahwa kita tahan banting.
Kedua, kita diajarkan untuk tidak “sok tau”, tapi “cari tahu”. Kalau belum tahu faktanya, ya jangan katakan kalau sudah tau. Katakan dengan lantang jika sudah tau kebenarannya. Karena hal tersebut menjadi hal yang sangat urgent ketika berita hoak bersemai dengan cepat.
Berjurnalis itu tak hanya meliput berita saja namun benar-benar harus tuntas dari mencari, mengolah, dan mengekspos berita tersebut. Namun ada sebuah tantangan berat bagi jurnalis perempuan, terutama saat menulis. Perempuan itu mudah ditandai dengan faktor biologis, begitu singkatnya. Sisi biologis perempuan itu selalu dilihat oleh semua orang, baik itu oleh laki-laki atau bahkan oleh perempuan sendiri. Hal-hal kecil yang dianggap remeh bagi seorang laki-laki terkadang bagi seorang perempuan adalah sebuah tantangan untuk berani mencoba.
Memang benar adanya, seperti yang saya dapatkan saat mengikuti seminar keperempuanan yang diadakan oleh Kopri PMII Tribakti Kediri dengan pembicara mbak Kalis Mardiansih, salah satu perempuan yang saya idolakan sejak masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Tokoh kesetaraan gender ini bahkan mengatakan bahwa menjadi penulis perempuan itu memang sangat sulit.
Identitas seseorang sampai saat ini masih menjadi trend yang terjadi di kalangan penulis. “tulisannya agamis banget, tapi penulisnya jilbabnya nggak syar’i, giliran jilbabnya udah syar’i tapi masih aja dinilai. Orangnya begini kok tulisannya begini, lah memang wanita itu nggak ada benernya” begitulah kata penulis lepas mojok.id disela-sela ngobrol dengan peserta seminar. Nah, dari situ saya paham bahwa menjadi penulis perempuan itu memang agak sulit. Hal apapun mudah ditandai dengan apa yang melekat pada tubuh, semua dengan gampang dinilai oleh orang-orang, menjadi bahan pembicaraan mengenai apa yang melekat ditubuh dari sisi manapun. “oh ini ya yang nulis, tulisannya bagus tapi orangnya sok… bla bla”, begitulah adanya, bukan tulisannya yang di nilai tapi malah orangnya, penampilannya, fisiknya, dan itu sudah biasa.
Namun hal itu menjadikan saya sadar akan pentingnya menghargai seseorang, seperti maqolah yang mengatakan,
انظر ما قال ولاتنذرمنقال
“Jangan melihat siapa yang bicara, namun lihatlah apa yang ia bicarakan”
Begitulah dalil yang selama ini menjadi pegangan saya. Melihat orangnya tak akan pernah ada cukup, selalu ada saja yang ingin dinilai. Hujat, bully, julid akan selalu menjadi hal yang memenuhi kehidupan kita. Namun jangan patah semangat, kita hidup cuma satu kali “jika kita mau mendapatkan apa mau mengubah sesuatu mau membangun sesuatu mau dimengerti, pilihannya cuma satu yaitu “berani bicara”.
Nah, dari realitas yang ada, menjadi seorang jurnalis ataupun penulis perempuan memang mempunyai tantangan yang besar, kita harus berani bicara dan katakan asumsi kita yang sebenarnya. Tak ada kata larangan untuk seluruh perempuan, jadi kita bebas untuk berkarya dimanapun berada, menjadi apa, dan seperti apa, tapi kita hanya perlu batasan agar tak sampai meracuni nama baik kita sebagai seorang perempuan. Lalu, komentar, kritik, dan saran para netizen juga harus bisa kita terima dengan baik, agar kita juga tak semata mementingkan egois kita.
Oprah Winfrey pernah bekata dalam bukunya bahwa “yang kamu dapat dalam hidup adalah sesuatu yang berani kamu minta”. Jadi, keberanian kamu untuk mengungkapkan apa yang kamu mau dan yang kamu anggap penting itu yang akan kamu dapat dalam hidup. Mungkin kita sebagai manusia punya rasa lelah, dan itu sepertinya sudah hukum pasti seseorang. Manusia perlu jeda, namun bukan untuk berhenti, tapi untuk merefleksi. Masuk nggak?
By: El’s Signature