Hari ini, harus kita akui, kita hidup di era yang sangat mudah sekali untuk akses segala hal, banyak sekali orang mampu menjangkau ilmu dengan mudah.
kimia, biologi, sains, komunikasi, hadist, tafsir, fisika, sejarah, ekonomi, hukum, bahkan agama.
Menonton youtube, mendengarkan podcast, membaca artikel, sekali klik bisa langsung bertambah pengetahuan kita.
Dimanapun dan kapanpun, bermodal barang tipis bernamakan gadget dengan internet lancar semuanya sudah terorganisir dengan mudah.
Lantas kemudian timbul satu pertanyaan yang menyeruak dalam benak, Untuk apa kita bersekolah? Untuk apa kita mengaji? Untuk apa kita capek-capek sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya, semua ilmu pengetahuan yang didapat di sekolah, di pesantren atau apapun itu bisa diakses dan bisa didapatkan dengan mudah lewat internet.
Ya, itu pemikiran random saya ketika sedang mengantri nasi ayam bakar langganan pukul setengah satu siang.
Alhasil saya mencoba kembali menelaah.
Ada satu yang tidak bisa kita dapatkan lewat internet, apa?
Sanad.
Semua orang memang bisa menjangkau pengetahuan apapun lewat internet dengan mudah, tapi hal itu tidak membuat kita tersambung secara sanad keilmuan.
Begitulah yang saya dapatkan di Pesantren.
Ilmu tanpa sanad bagai perang tanpa menggunakan senjata.
Sangat jelas sekali bahwa ilmu yang kita dapatkan tidak tersambung secara sanad, tidak jelas darimana ilmu itu tersambung, maka jelas hasilnya pun akan berbeda.
Banyak pohon mangga tumbuh rindang tapi tak banyak pohon mangga yang bisa berbuah, pohon mangga yang liar tidak lebih baik dibandingkan pohon mangga yang ditanam dan dirawat setiap harinya, keduanya sama-sama tumbuh tapi tidak sama-sama bisa menghasilkan buah yang berkualitas.
Kita analogikan satu Pohon mangga yang liar, dengan pohon mangga yang ditanam dan dirawat setiap harinya, apa yang membedakan kedua pohon mangga tersebut?
Iya, pohon mangga yang liar bukan tidak mungkin mampu menghasilkan buah, tapi apakah yakin buah itu menjamin sehat dan aman?
Sebaliknya pohon mangga yang ditanam dengan pupuk berkualitas, dirawat dengan penuh keteletian dan benar-benar diperhatikan oleh pemilik pohon, tingkat keberhasilah pohon mangga tersebut menghasilkan buah mangga yang baik sangat tinggi.
Hal ini juga sama kaitannya dengan mencari ilmu.
Semua orang mampu menerima dan mengkonsumsi segala jenis ilmu dengan mudah tanpa perlu ada guru, lewat internet selesai sudah, tapi jaminan ilmu itu bisa bermanfaat dan dipergunakan dengan benar masih dalam taraf abu-abu.
Saya tidak membawa istilah berkah dalam kasus ini, tapi bukti nyata saja dalam prakteknya pasti berbeda sekali dengan ilmu yang didapatkan melalui guru, dalam artian ada sosok yang mengajarkan yang mampu dipertanggung jawabkan sanad keilmuannya.
Singkatnya ketika kita belajar tanpa adanya guru, maka guru tersebut adalah syaiton.
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
Oleh karenanya, ilmu Allah itu sangat luas, bisa diakses dengan mudah, dimana saja dan kapan saja. Akan tetapi untuk memastikan ilmu tersebut bersanad atau tidak ya dengan sekolah, dengan mondok, dengan belajar kepada guru yang bisa dipertanggung jawaban sanad keilmuannya.
Makanya, Pesantren menjadi tempat yang masih melestarikan, agar sanad keilmuan tersebut bisa tersambung kepada Rasulullah.
Terutama terkait ilmu Agama, sangat harus berhati-hati sekali untuk bisa benar-benar mendapatkannya.
-إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ-
“Ilmu adalah Bagian dari pada Agama, maka perhatikanlah dari siapakah kalian mengambil Agama kalian”
Ilmu tanpa sanad bagaikan perang tanpa senjata, begitulah kurang lebihnya untuk menggambarkan bahwa penting sekali berilmu dan bersanad, dengan bersanad maka ilmu yang didapat akan lebih bermanfaat.
Hal ini bukan berarti ilmu yang didapat lewat internet tidak berguna, hanya saja memang pengetahuan kita bisa bertambah akan tetapi untuk bisa memastikan ilmu itu benar atau tidak, jelas atau samar, masih membutuhkan yang namanya proses belajar daripada seorang guru yang jelas, sebab belajar tanpa guru, maka gurunya adalah syaiton.
Oleh karena itu, sekolahlah, belajarlah, mengajilah, mondoklah.
Wallahu a’lam.