Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata ninja?
Mungkin bayangan tentang sosok berpakaian serba hitam, bergerak cepat di kegelapan, dan ahli dalam ilmu bela diri. Atau mungkin ingatan kita justru melayang pada tokoh kartun seperti Ninja Hattori atau Kura-Kura Ninja. Namun, percaya atau tidak, kata “ninja” pernah menjadi kenyataan yang menakutkan di Indonesia — dan uniknya, kisah itu berkaitan dengan dunia pesantren.
Ya, “ninja” bukan hanya bagian dari cerita fiksi Jepang. Di akhir masa Orde Baru, sekitar tahun 1990-an, istilah ini muncul dalam konteks yang kelam. Para kiai dan tokoh pesantren, terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), menjadi sasaran teror pembunuhan misterius yang pelakunya disebut sebagai ninja.
Lalu, apa hubungannya ninja dengan santri dan pesantren? Apakah ninja pernah mondok?
Tentu saja tidak — namun sejarah mencatat, pesantren pernah berhadapan langsung dengan teror yang mengatasnamakan ninja tersebut.
Salah satu tempat yang menjadi saksi sejarah adalah Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri. KH. Imam Yahya Mahrus dalam buku Pesantren Lirboyo: Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda menuturkan bahwa pada masa itu banyak muncul “ninja-ninja” misterius yang memburu para kiai. Meski suasana mencekam, aktivitas belajar di Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) tetap berjalan seperti biasa.
“Kegiatan belajar mengajar tetap bisa berjalan dengan baik. Kita hanya waspada dan berjaga-jaga, jangan sampai mereka itu masuk ke kawasan Pondok Lirboyo,” tutur KH. Imam Yahya Mahrus.
“Saya tidak tahu siapa dalang di balik mereka, tapi saya dengar fenomena ninja itu merupakan upaya dari orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin mengacaukan negeri ini. Bahkan ada ninja yang tertangkap di Lirboyo, tubuhnya dilapisi karet sehingga kebal pukulan. Saya pernah menyimpan potongan karetnya. Alat seperti itu, kalau bukan dari ‘angkatan’, ya tidak ada. Makanya saya katakan, mereka itu misterius.”
Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya benteng ilmu dan akhlak, tapi juga benteng keteguhan dalam menghadapi ancaman zaman. Kaum sarungan kembali terpanggil untuk menjaga nilai-nilai perjuangan sebagaimana yang selalu diikrarkan setiap Hari Santri: menjaga agama, menjaga negeri.
Sekitar tahun 1998, isu ninja semakin meluas. Indonesia digegerkan oleh berita pembunuhan terhadap para kiai NU di berbagai daerah. Korban berjatuhan, ketakutan melanda masyarakat, dan situasi politik yang genting menambah panas suasana.
Kabar itu pun sampai ke telinga para pendekar NU, terutama Gus Maksum, tokoh karismatik sekaligus sahabat dekat Gus Dur. Mendengar kabar tersebut, Gus Maksum segera bertindak. Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia mengutus khodam berwujud macan tutul untuk mencari tahu siapa sebenarnya para ninja dan siapa yang mengutus mereka.
Konon, macan tutul itu selalu berada di pangkuan Gus Maksum. Setelah “menyusuri dunia gaib”, khodam itu melaporkan bahwa para ninja bukanlah makhluk jadi-jadian, melainkan pasukan khusus yang dibentuk oleh rezim Orde Baru. Bahkan, Gus Dur — yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU — disebut-sebut menjadi salah satu target mereka.
Mendengar hal itu, Gus Maksum merasa harus melindungi sahabatnya.
“Gus, saya boleh nggak tiap malam menginap di rumah panjenengan? Saya punya firasat nggak enak. Lagian kalau nggak jagong bareng sampean, nggak seru,” ujarnya disertai tawa.
Gus Dur menanggapinya dengan santai, sebagaimana sifatnya yang khas.
“Nggih, mpun. Tapi nanti tiap malam tak ceritain sundel bolong kalau gitu,” jawabnya enteng.
Hubungan keduanya memang begitu akrab—di mana ada Gus Dur, di situ ada Gus Maksum. Mereka bagai dua sahabat yang saling melengkapi: satu dengan kecerdasan dan kebijaksanaan, satu lagi dengan kesaktian dan keberanian.
Puncak kisah ini terjadi pada tahun yang sama. Setelah melalui dinamika panjang, Gus Dur akhirnya terpilih menjadi Presiden melalui MPR hasil Pemilu 1998. Pada tahun itu pula, Muktamar NU digelar di Lirboyo, Kediri. Namun suasana belum benar-benar tenang. Selain isu ninja yang masih beredar, muncul pula isu “dukun santet” yang konon memakan korban hampir setiap malam.
Sebagai panglima Pagar Nusa—organisasi bela diri di bawah NU—Gus Maksum merasa terpanggil untuk menjaga keamanan para kiai dan jalannya Muktamar. Ia bahkan berhadapan langsung dengan ancaman gaib.
Suatu malam, datanglah “api terbang” menuju ke arahnya, tanda bahwa ia hendak disantet. Tapi Gus Maksum tidak gentar.
“Ngajak bercanda, nih?” ujar beliau santai.
Sekejap kemudian, api itu naik ke udara dan meledak sebelum sempat menyentuhnya.
Keesokan harinya, Gus Maksum berdiri tegak di tengah para peserta Muktamar, lalu berseru lantang:
“Barang siapa yang mau mengganggu Muktamar ini, hadapi saya!”
Kata-kata itu menjadi penegasan bahwa kaum pesantren bukanlah kelompok yang bisa ditakut-takuti. Mereka bukan hanya ahli kitab, tapi juga penjaga marwah dan ketenangan negeri.
Kini, peristiwa itu tinggal kenangan yang tersimpan rapi dalam lembar sejarah. Tapi dari kisah tentang “ninja” dan para kiai ini, kita belajar bahwa keberanian dan keikhlasan para santri dan ulama bukan sekadar cerita masa lalu — melainkan teladan yang terus hidup hingga hari ini.
Di momentum Hari Santri, marilah kita mengenang perjuangan mereka dengan penuh rasa syukur.
Semoga Allah senantiasa melindungi para guru, kiai, dan santri di seluruh negeri.
Semoga kita diberi kesehatan, kemudahan dalam menuntut ilmu, dan keberkahan dalam setiap langkah perjuangan.
Wallahu a’lam.