web analytics

Di Antara Rak-Rak yang Sunyi

0 0
Read Time:3 Minute, 25 Second

Perpustakaan pesantren itu tidak pernah ramai.

Letaknya berada di sudut paling belakang kompleks, berdampingan dengan ruang arsip dan gudang kitab lama. Bangunannya sederhana, berdinding putih yang mulai menguning dimakan usia. Di dalamnya berdiri rak-rak kayu tinggi yang dipenuhi kitab kuning, buku pelajaran, majalah lama, dan beberapa koleksi yang bahkan sudah tidak dicetak lagi.

Sebagian besar santri lebih memilih belajar di kamar atau di serambi masjid. Hanya sedikit yang datang ke perpustakaan. Salah satunya adalah Fikri.

Setiap sore setelah mengaji, Fikri hampir selalu terlihat duduk di pojok ruangan dekat jendela. Di hadapannya bertumpuk kitab dan buku-buku yang kadang membuat teman-temannya heran.

Also Read: Kutu

“Ngapain sih tiap hari di sini?” tanya Farhan suatu sore.

Fikri tersenyum.

“Mencari jawaban.”

“Jawaban apa?”

“Belum tahu. Makanya dicari.”

Farhan tertawa.

Also Read: Surat

“Kalau begitu kau akan lama di sini.”

“Tidak apa-apa.”

Bagi Fikri, perpustakaan adalah tempat yang aneh sekaligus menenangkan. Ia merasa seolah setiap buku menyimpan percakapan dengan orang-orang yang hidup ratusan tahun sebelumnya. Ketika membuka kitab fikih, ia seperti mendengar para ulama berdiskusi. Saat membaca sejarah Islam, ia merasa sedang berjalan bersama para tokoh besar masa lalu.

Also Read: Mie Ayam

Suatu hari, pesantren mengadakan Bahtsul Masail untuk membahas persoalan yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat. Para santri senior berkumpul di aula dengan membawa tumpukan kitab.

Fikri yang masih duduk di kelas menengah hanya menjadi peserta pendengar.

Diskusi berlangsung panjang. Berbagai pendapat dikemukakan. Kitab demi kitab dibuka. Halaman demi halaman ditelusuri.

Also Read: Kudapan

Di tengah pembahasan, seorang peserta kesulitan menemukan referensi yang dibutuhkan.

“Kita pernah membahas masalah serupa beberapa tahun lalu,” kata salah satu ustaz.

“Tapi arsipnya di mana ya?”

Tak seorang pun segera menemukan jawabannya.

Fikri teringat sesuatu.

Beberapa bulan sebelumnya, saat membantu membersihkan perpustakaan, ia menemukan lemari tua yang berisi dokumen-dokumen hasil Bahtsul Masail terdahulu. Ia bahkan pernah membaca sebagian isinya karena penasaran.

Perlahan ia mengangkat tangan.

“Maaf, Ustaz. Mungkin arsipnya ada di lemari kayu sebelah utara perpustakaan.”

Semua menoleh kepadanya.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Saya pernah membacanya.”

Beberapa santri segera menuju perpustakaan. Tak lama kemudian mereka kembali membawa map tebal berisi dokumen yang dicari.

Ternyata benar.

Di dalamnya terdapat pembahasan yang hampir sama dengan persoalan yang sedang didiskusikan.

Forum kembali berjalan dengan lebih mudah.

Sejak hari itu, banyak santri mulai memandang perpustakaan dengan cara yang berbeda.

Tempat yang selama ini dianggap hanya gudang buku ternyata menyimpan begitu banyak pengetahuan yang masih relevan hingga hari ini.

Beberapa bulan kemudian, pesantren mendapatkan bantuan komputer baru.

Salah seorang alumni memperkenalkan aplikasi Maktabah Syamilah kepada para santri.

“Bukan berarti kitab cetak tidak penting,” jelasnya. “Tetapi teknologi bisa membantu kita menemukan referensi lebih cepat.”

Para santri tampak kagum ketika ribuan kitab muncul di layar komputer.

Farhan yang dulu sering mengejek kebiasaan Fikri kini menjadi orang pertama yang mencoba.

Ia mengetik satu kata kunci.

Dalam hitungan detik, puluhan referensi muncul.

“Masha Allah…” gumamnya.

Fikri tersenyum melihat reaksi sahabatnya.

“Bagaimana?”

“Rasanya seperti punya perpustakaan sebesar dunia.”

“Tapi tetap harus dibaca.”

“Ya, itu bagian tersulitnya.”

Mereka tertawa bersama.

Hari-hari berikutnya, perpustakaan pesantren mulai berubah. Memang tidak tiba-tiba menjadi penuh sesak. Namun jumlah pengunjung perlahan bertambah. Ada yang mencari referensi pelajaran. Ada yang membaca sejarah. Ada yang memanfaatkan komputer untuk menelusuri kitab digital.

Yang paling membahagiakan bagi Fikri adalah melihat teman-temannya mulai menyadari bahwa ilmu tidak datang begitu saja.

Ilmu harus dicari.

Dan perpustakaan adalah salah satu jalannya.

Beberapa tahun berlalu.

Fikri telah menyelesaikan pendidikannya. Suatu hari ia kembali mengunjungi pesantrennya sebagai alumni.

Banyak hal telah berubah.

Rak-rak buku bertambah. Ruangan diperluas. Koleksi digital semakin lengkap. Di salah satu dinding bahkan terpajang tulisan besar:

“Perpustakaan adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.”

Fikri berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong rak yang dulu begitu akrab baginya.

Ia tersenyum ketika melihat beberapa santri muda duduk serius membaca kitab.

Di sudut ruangan dekat jendela, tempat favoritnya dahulu, seorang santri sedang menulis catatan sambil membuka beberapa buku sekaligus.

Pemandangan itu membuat hatinya hangat.

Tiba-tiba ia teringat pertanyaan Farhan bertahun-tahun lalu.

“Ngapain sih tiap hari di sini?”

Kini ia merasa telah menemukan jawabannya.

Perpustakaan bukan hanya tempat mencari jawaban.

Perpustakaan adalah tempat belajar bertanya.

Dan selama manusia masih memiliki pertanyaan, rak-rak buku itu tidak akan pernah benar-benar sunyi.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Kutu

Kutu

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Surat

Surat

Mie Ayam

Mie Ayam

Kudapan

Kudapan

Jemuran Oh Jemuran

Jemuran Oh Jemuran