web analytics

Dilema Santri yang Ingin Cepat Beristri

Dilema Santri yang Ingin Cepat Beristri
1 0
Read Time:4 Minute, 40 Second

Sering kali saya mendengar percakapan rekan-rekan santri ketika sedang cangkruk atau ngopi  di pondok, membahas mengenai hal urgen dalam sebuah kehidupan. Salah satunya adalah pernikahan. Ya, pernikahan termasuk salah satu bagian penting dalam hidup kita. Seperti dalam Sabda Rosululloh SAW, “an nikahu sunnati, man roghiba an sunnati falaisa minni” (HR, Al Baihaqi). Nah, dari survei atau pengalaman pribadi saya yang hampir sembilan tahun mondok sejak jenjang MTS sampai jenjang akademisi, para santri membicarakan pernikahan dengan berbagai ekspresi dan pendapat yang berbeda-beda. Ada di antara mereka membahas pernikahan dengan sikap serius dan ada yang bersikap santuy.

Dari pengalaman itu, saya  mengamati bahwa seorang santri yang mengebu-gebu tetapi santuy membahas perihal pernikahan  memiliki indikasi kuat sudah kebelet ingin nikah, atau menganggap pernikahan adalah hal yang remeh. Atau mungkin hal yang mudah dilakukan dan indah dibayangkan.  Semisal begini, dari 70%  teman saya mengatakan bahwa, nikah itu hal yang mudah,  seperti saling memiliki rasa cinta, mendatangi orang tua si perempuan, meminta restunya, habis itu langsung tentukan tanggal nikahnya. Hanya tiga poin, dan menurut saya itu sangat praktis dan simpel sekali.

Berbeda lagi dengan sebagian teman saya  yang serius dalam membahas pernikahan, tetapi dengan ekspresi santuy.  Mereka membahas dengan detail dan penuh pertimbangan dalam pernikahan. Karena dalam pernikahan baik itu ketika pra nikah dan pasca nikah, ada hal yang harus dimatangkan segala persiapannya. Dalam pra nikah selain memiliki rasa saling cinta, yang perlu diperhatikan adalah kesiapan mental dalam diri kita untuk menjadi pendamping hidup dan memimpin rumah tangga dengan sang kekasih.

Bukan hal mudah untuk  memimpin rumah tangga agar menjadi SAMAWA (Sakinah, Mawadah, Warohmah). Ibarat seperti kapten sepak bola, harus bisa mengorganisir tim dari segala lini, agar menjadi tim yang solid baik dalam menyerang atau bertahan. Sama halnya ketika anda menikah, secara otomatis kita akan menjadi kapten atau leadership untuk menciptakan keluarga yang solid. Dari keluarga yang solid inilah kemudian akan menjadi tim keluarga yang SAMAWA. Maka dari itu, begitu pentingnya kesiapan mental yang kuat agar menjadi pemimpin keluarga yang hebat dan bermartabat.

Selain mental yang siap, juga dibutuhkan ilmu yang mumpuni ketika ingin menikah dan berkeluarga. Karena dalam pernikahan juga dibutuhkan pengetahuan yang menurut saya menjadi syarat wajib nomer satu. Pernikahan bukan hanya tentang berani atau tidak, siap atau tidak. Masalah berani atau tidak itu bisa diatasi dengan ilmu yang kita punya. Ketika kita memiliki kualitas yang baik insyaallah dalam pernikahan dan seterusnya juga akan baik, percuma saja kalau kita berani menikah tetapi tidak tahu esensi dari pernikahan itu sendiri.

Nikah bukanlah sekedar pelampiasan nafsu atau hasrat untuk bersenang-senang dengan kekasih saja. Selain menyempurnakan agama yang tertera dalah hadist riwayat Imam Baihaqi  dan meneruskan keturunan, inti dari suatu pernikahan adalah membentuk keluarga yang Sakinah, Mawadah, Warohmah. Apalagi seorang imam keluarga yang nantinya diikuti setiap tindak tanduknya. Jangan sampai kita menjadi pemimpin atau imam dalam keluarga yang kosong visi dan misinya, haduuhh kasihan psangannya dong!

Maka dari itu pentingnya memiliki kualitas diri yang baik ketika ingin nikah, yaitu dengan ilmu mumpuni. Tak jarang seorang yang menikah dini atau menikah ketika pendidikannya belum tuntas, mengakibatkan gonjang-ganjing dalam berkeluarga, sering KDRT yang berujung pada penceraian. Hal ini sebenarnya tergantung dengan imam dalam keluarga, bagaimana dia bersikap dalam suatu masalah dan bijak dalam mengambil keputusan. Seorang yang kurang berilmu cenderung ceroboh atau bahasa jawanya grusah-grusuh dalam mengambil suatu tindakan tanpa pertimbangan.

Idealnya, pemimpin keluarga yang baik ialah dia yang bijak dalam bertindak, luas dalam wawasan dan pandai dalam segala urusan. Contoh begini, dalam syari’at islam ada namanya fiqh perempuan, yang membahas tentang Haid, Nifas, Wiladah dan masalah perempuan lainnya. Juga dalam Islam di jelaskan mengenai masalah nikah, seperti Hukum Thalaq, Rujuk, Lia’an, Khulu’, Ila’ dan Iddah perempuan. Itu semua merupakan cabang ilmu yang wajib kita kuasai, apalagi ketika berstatus santri.

Jangan sampai ketika kita menikah dengan menyandang status santri, tidak paham ketika ditanya oleh sang istri atau masyarakat perihal di atas tadi. Itulah mengapa saya agak heran ketika ada seorang santri yang ingin cepat-cepat nikah, tetapi dengan modal tangan kosong. Dalam artian tidak memiliki bekal baik materi atau non materi. Alangkah baiknya  kita tuntaskan sepenuhnya pendidikan kita, setelah itu mencari karir yang sesuai dengan basic kita.

Karir juga penting ketika ingin menikah, menurut saya walaupun pendidikan telah tuntas tapi belum memiliki karir atau profesi, itu berdampak pada kehidupan berumah tangga. Minimal ketika kita akan menikah, sudah lepas dari beban kedua orang tua, semisal sudah memiliki pekerjaan atau rumah sendiri. Menurut saya untuk kang-kang santri, jangan terburu-buru untuk menikah, siapkan segala persiapan dengan semaksimal mungkin. Baik dari segi mental, pendidikan, dan karir. Kecuali kita terlahir dari keluarga juragan atau konglomerat, itu beda lagi ceritanya.

Hal sebenarnya juga diperuntukan untuk mbak-mbak santri,  karena melihat realita sekarang banyak sekali kaum perempuan yang melakukan nikah di usia masih dini dan pendidikan belum tuntas. Ingat penyair ternama Hafiz Ibarahim” al Ummu Madrasatul Ula, iza a’adadtaha al’dadta sya’ban thoyyibal a’raq”. Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Baca Juga: Ayo Bohong!

Intinya mengedepankan kualitas diri itu penting ketika ingin menikah. Jangan sampai seorang imam dipermainkan oleh ma’mumnya sendiri. Selain yang sudah disebutkan tadi, hal yang perlu diperhatikan ketika hendak menikah adalah tentang materi atau harta benda. Ini juga menjadi syarat yang tak kalah penting dalam jenjang pernikahan. Mengapa demikian, dari banyak kasus penceraian, didominasi oleh problem ekonomi keluarga.  Walaupun ada sebagian orang mengatakan bahwa membangun ekonomi keluarga dari titik nol itu lebih baik dari pada yang sudah mapan ekonomi. Tapi ingat, hal sangat jarang ditemukan pada masa sekarang ya gesss. Realitanya cukup materi juga menjadi dasar dalam pernikahan, agar menjadi tentram.

Sekian.

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like