web analytics

Sehelai Kain Penentu Jati Diri, dari Yaman, Pesantren Hingga Istana Presiden

0 0
Read Time:3 Minute, 11 Second

Pakaian seringkali digunakan sebagai citra atau identitas perseorangan atau kelompok. Kita tahu, Bangsa Barat modern mendunia dengan denim, simbol kepraktisan dan gaya kasual, mereka mengenakan celana jeans ke mana-mana, dari rapat bisnis hingga hiking di pegunungan.

Menjelajah ke timur tengah, bangsa arab, yang keanggunannya terwakili oleh jubah, pakaian yang longgar nan elegan, melambangkan kehormatan dan kenyamanan di iklim padang gurun.

Dari negeri yang diselimuti kabut dan bunga Sakura, terbesitlah bangsa jepang yang membawa kimono, Ia adalah cerminan dari alam yang tenang.

Tak terkecuali bangsa Indonesia, Indonesia adalah negara yang kaya akan suku dan budaya. dalam sisi pakaian adat, dari sabang sampai Merauke semuanya punya khas yang berbeda-beda. Diantara banyaknya pakaian adat yang tersebar di Nusantara. Indonesia memiliki satu pakaian kebudayaan yang sejak dulu sampai sekarang masih dilestarikan. apa itu? jawabannya adalah sarung.

Sehelai kain persegi panjang yang dijahit melingkar. Secara fisik, sarung hanyalah kain sederhana. Namun, di Indonesia, sarung tidak hanya tentang tekstil, ia adalah arsip berjalan yang menyimpan jejak kedatangan Islam, simbol status bangsawan, hingga bendera perlawanan terhadap kolonialisme.

Sejarah mencatat, sarung berasal dari Yaman, mereka menyebutnya dengan sebutan Futah. Orang arab menyebut sarung sebagai Izaar. Sarung sendiri sejatinya merupakan kata serapan dari bahasa arab, yakni kata syar’i, yang mempunyai makna sesuatu yang mesti dilaksanakan oleh umat islam, termasuk dalam perihal berpakaian, singkatnya adalah menutup aurot. Istilah syar’i merupakan bentuk Masdar dari kata syar’un, maka dari itu masyarakat Indonesia pada saat itu kesulitan dalam mengucapkan serapan ‘n’, maka terucap sarung.

Di timur, barat serta tengah pulau jawa, atau mungkin, bahkan seluruh pelosok bumi Nusantara, mayoritas santri menggunakan sarung sebagai pakaian keseharian, itulah mengapa santri sering kali dikenal sebagai kaum sarungan, dan menjadi ikon budaya indonesia yang sampai saat ini tetap masih dilestarikan.

Sarung sendiri dalam budaya masyarakat Indonesia secara umum memang telah berlangsung sejak lama, pada abad ke 14, para saudagar Arab dan Gujarat membawanya ketika berkunjung ke Nusantara lewat jalur perdagangan. Setelah masuk dan tersebar di Indonesia sarung kemudian masuk dan mengakar di lingkungan pesantren. Kemudian ratusan ribu santri atau murid dari Lembaga Pendidikan tertua di Indonesia itupun menjadi identik dengan sarung dan budaya bersarung.

KH Wahab Chasbullah yakni salah satu tokoh NU pernah dalam suatu waktu diundang ke istana oleh presiden saat itu yakni bung Karno, seorang protokoler menyuruh mbah Wahab datang dengan mengenakan pantofel, celana dan jas. Akan tetapi alih-alih mbah Wahab datang dengan celana tetapi beliau memilih mengenakan sarung dengan atasan jas. Sarung yang melilit pinggang mbah Wahab dihadapan soekarno bukanlah sekedar busana, melainkan sebuah proklamasi busana yang sunyi. Ditengah para hadirin yang datang mengenakan jas barat celana formal yang dipinjam dari modernitas kolonial, sarung tersebut tegak sebagai kedaulatan sang Kiai. Ia adalah penolakan halus terhadap formalitas yang  mengabaikan akar, menegaskan bahwa martabat sejati seorang pemimpin spiritual terletak pada kesetiaan terhadap kesederhanaan Nusantara. Kain yang membungkus itu adalah batas spiritual yang membedakan substansi kearifan dari gemerlap kekuasaan.

Sarung dalam tradisi Nusantara—terlebih dilingkungan pesantren—memiliki makna ganda: sebagai penanda kesederhanaan dan sebagai alat kontrol moral. Filosofi utama sarung sering dimaknai sebagai “Sarune Dikurung”. Yaitu upaya untuk membatasi dan mengendalikan hawa nafsu serta gerakan tubuh agar tetap terjaga kesopanan (tawadhu).

Marilah kita pandang sarung, bukan sekedar kain persegi panjang yang melingkari pinggang, melainkan sebagai Pusaka Hening Nusantara. Sarung sendiri adalah arsip berjalan bangsa ini, polanya adalah peta geografis kita, warnanya adalah menggambarkan gotong royong, dan setiap lipatanya adalah doa dari para leluhur. Di era yang diserbu oleh pakaian seragam dari segala penjuru dunia, sarung berdiri sebagai benteng terakhir dari kedaulatan identitas. Ia seakan memanggil kita untuk memeluk warisan ini, untuk tidak membiarkan kesederhanaannya dianggap remeh, dan untuk mengajarkan pada generasi muda bahwa lilitan sarung bukan hanya sekedar tradisi, tapi sebuah pernyataan filosofis tentang kerendahan hati, keakraban dengan bumi, dan keindahan batin yang tak lekang oleh waktu. Menjaga sarung adalah menjaga luhurnya martabat bangsa.

 

Wallaahu A’lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Biografi Imam Nawawi: Ulama Besar Penulis Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in

Biografi Imam Nawawi: Ulama Besar Penulis Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Anggraeni yang Harus Mati

Anggraeni yang Harus Mati

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Peristiwa 1 Januari Sebagai Simpul Sejarah Nasional Hingga Internasional

Mengenal Peristiwa 1 Januari Sebagai Simpul Sejarah Nasional Hingga Internasional

14 Desember: Hari Ketika Indonesia Merebut Kembali Narasinya

14 Desember: Hari Ketika Indonesia Merebut Kembali Narasinya