Kediri merupakan salah satu kota tua yang ada di Nusantara. Secara historis sejarah, Kediri juga termasuk kerajaan terbesar di Nusantara yang memiliki pengaruh sentral pada peradaban kerajaan-kerajaan di seluruh penjuru Nusantara. Walaupun toh berlatar belakang Hindu (Waisnawa), Kediri ternyata juga terdapat para wali atau ulama-ulama yang kalibernya luar biasa. Salah satu wali atau ulama yang terkenal adalah Syekh Ihsan Jampes atau dengan nama lengkap Muhammad bin Muhammad Dahlan al Jampasi al Kadiri al Jawi As Syafi’i.
Beliau lahir pada tahun 1901 M, dengan nama asli Bakri dari pasangan KH Dahlan dan Nyai Artimah. Ayah beliau merupakan ulama terkemuka pada zamannya yang merupakan muassis Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M, dan merupakan putra KH Soleh, seorang Kiai dari Bogor, Jawa Barat yang leluhurnya masih tersambung dengan nasab Syarief Hidayatulloh atau sunan Gunung Jati Cirebon. Sedangkan ibu Syekh Ihsan yaitu Nyai Artimah, merupakan putri KH Sholeh Banjarmelati Kediri.
Syeikh Ihsan Sendiri mengarang sebuha kitab fenomenal, yang di akui dunia. Kitab ini adalah Sirojut Tholibin, kitab tasawwuf yang merupakan syarh atau komentar dari Kitab Minhajul Abidin, karangan Hujjatul Islam Imam Al Ghozali.
Kitab Sirojuj Tholibin adalah satu-satunya kitab syarh atas kitab Minhajul Abidin yang paling populer dan beredar luas di penjuru dunia Islam. Maka dari itu, tidak heran jika kitab ini, di cerak dan di kaji di Timur Tengah, sekaligus di menjadi rujukan otoritatif dalam kajian tasawwuf di berbagai institusi pendidikan dunia Islami.
Imam Al Ghozali sendiri memiliki tiga karya utama dalam bidang tasawwuf, yaitu Minhajul Abidin yang di Syarahi atau di komentari oleh Syekh Ihsan Jampes denga kitabnya Sirojut Tholibin, kemudian Bidayah al Hidayah yang di Syarahi oleh Kitabnya Syekh Nawawi al Bantani al Jawi yaitu Muroqil Ubudiyyah dan Ihya’ ulumuddin oleh kitabnya Syekh Muhammad Murtadho al Zabidi yaitu kitab Ithaf al Sadah al Muttaqin.
Dalam kolofon kitab Sirojud Tholibin, terdapat keterangan jika karya agung ini diselesaikan di kampung Jampes, Kediri. Tepatnya pada siang, hari Selasa, 29 Sya’ban tahun 1351 H atau bertepatan 28 Desember 1932 M. Kolofon itu bertuliskan;
وكانت مدة تهذيبه مع شواغل الدهر وإبلائه ثمانية أشهر إلا أياما، آخرها في نهار الثلاثاء التاسع والعشرين من شعبان المكرم الذي هو من شهور سنة إحدى وخمسين بعد الثلثمائة والألف من هجرة من له تمام العز والشرف. وذلك بمنزلي في محلة جمفس ببلد كديري من بلاد جاوة
“Adapun masa penulisan kitab ini adalah delapan bulan kurang beberapa hari lamanya, akhir kali di selesaikan pada siang hari Selasa, tanggal 29 bula Sya’ban tahun 1351 H. Selesai di rumahku di desa Jampes, negeri Kediri, salah satu negeri-negeri di Jawi (Nusantara)”.
Keterangan di kolofon di atas sekaligus memberikan informasi lain yang sangat mencengangkan, kitab syarh dengan tebal 1000 halaman ini terselesaikan oleh Syekh Ihsan Jampes dengan waktu kurang dari delapan bulan.
Kitab Sirojut Tholibin ini mendapatkan endorsement atau taqrizh dari Hadratussyek KH Hasyim Asy’ari yang merupakan teman karib Syekh Ihsan Jampes dan beberapa ulama besar Jawa lainnya. KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa kitab Sirojut Tholibin adalah salah satu kitab tasawwuf terbaik yang di tulis di zamannya. KH Hasyim Asy’ari juga mengisyaratkan Syekh Ihsan Jampes sebagai sosok maestro keilmuwan Islam dari Nusantara, yang keilmuannya ibarat samudera tiada tepian.
Hal yang mencolok dari beliau Syekh Ihsan Jampes adalah penguasaannya akan bahasa Arab yang matang, meski tidak pernah belajar dan bermuwajawarah di Makkah atau negeri Arab lainnya. Di antara karya-karya beliau adalah; (1) Sirâjut Thâlibîn syarah atas Minhâjul ‘Âbidîn karangan al-Imâm al-Ghazzâlî, (2) Manâhijul-Imdâd syarah atas kitab Irsyâdul-‘Ibâd karangan Syekh Zainuddîn al-Malîbârî, (3) Tashrîhul-‘Ibârât syarah atas kitab falak Natîjah al-Mîqât karangan guru beliau, yaitu Syekh Muhammad Shâlih ibn ‘Umar al-Jâwî (Kiai Soleh Darat Semarang), dan (4) Irsyâdul Ikhwân fî Hukm Syarbil Qahwah wad Dukhân yang mengkaji tentang hukum meminum kopi dan menghisap asap (rokok).