Mahakarya Leila S. Chudori, novel fiksi sejarah berjudul Laut Bercerita, berhasil memberikan peranan penting dalam dunia sastra Indonesia modern (terhitung dari waktu terbit). Novel yang mengusung tema utama sejarah kelam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan tragedi penghilangan paksa aktivis mahasiswa pada masa Orde Baru tersebut kini berhasil diadaptasi menjadi film layer lebar.
Film garapan Yosep Anggi Noen dan diproduksi oleh Pal8 Pictures ini berhasil mengantongi dua penghargaan internasional, yakni HAF WIP (Work-In-Progress) Award serta HAF Goes to Cannes yang sama-sama diraih dalam ajang Hong Kong Asia Film Financing Forum (HAF) 2026. Dibintangi oleh pemeran papan atas, seperti Reza Rahardian sebagai Biru Laut Wibisana (tokoh utama), Yunita Siregar sebagai Asmara Jati (adik Biru Laut), Christine Hakim sebagai Ratih Wibisana (ibu Biru Laut), Arswendy Bening Swara sebagai Arya Wibisana (ayah Biru Laut), Dian Sastrowardoyo sebagai Kasih Kinanti, dan pemeran atas lainnya merupakan salah satu poin plus dari film ini.
Mengingat film ini merupakan adaptasi novel, saya putuskan—di awal film—untuk tidak menaruh ekspektasi berlebihan bahkan tidak berekspektasi jika film ini akan lebih baik atau setidaknya setara dengan novelnya. Namun, apalah daya. Kedatangan saya sebagai penikmat film pun telah dihancurkan oleh film ini.
Saya rasa, dengan durasi 2 jam 15 menit telah mampu merangkum seluruh poin-poin krusial. Sayangnya, film ini berhasil membuat saya bingung terhadap alur yang begitu cepat, tak ada kejelasan serta kedalaman konflik, juga dengan penokohan yang tidak maksimal. Aspek-aspek tersebut berpengaruh pada sisi emosional yang membuat saya bermonolog, “Seharusnya pada adegan ini saya menangis. Semestinya pada bagian ini saya kecewa. Sepatutnya pada momen ini saya membara.” Para monolog itu saya dapatkan ketika melihat adegan yang mengandung sisi emosional namun sama sekali tidak berhasil menyentuh emosional. Terkesan dipaksa.
Meski tidak bisa dipungkiri jika pembawaan karakter dari beberapa pemeran memang baik serta suasana dan visual yang mendukung, hal tersebut tidak bisa semena-mena menjadikan film ini tergolong bagus. Mengingat film ini mengusung tema yang sama dengan novelnya, maka seharusnya film ini dapat menggelitik sisi emosional penonton. Sayangnya, dengan segala dukungan dari pemeran dan visual, film ini membuat saya (sebagai penonton) merasa tidak menonton apapun.
Di sisi lain, beberapa pesan yang berhasil disampaikan serta keberanian untuk tetap bersiar di tengah kondisi kenegaraan yang tergolong panas memang perlu diapresiasi. Namun, kedua paragraf di atas sudah cukup dan dapat menggambarkan pengalaman yang saya dapatkan ketika menonton film ini. Bahkan tidak mengambil sudut pandang pembaca novel pun film ini bisa disebut tidak lengkap sebagai sebuah film.
Dapat disimpulkan, bahwa film ini dikatakan cukup sebagai pengantar pesan yang ingin disampaikan terkait tema. Sayangnya, aspek-aspek selain pesan bisa dikatakan setengah matang, terlebih untuk penonton film yang tidak membaca novel.