Identitas Buku
| Nama Buku | : Tangan Kotor Di Balik Layar |
| Nama Penulis | : Puthut EA |
| Kategori | : Novel |
| Genre | : Jurnalistik |
| Tahun Terbit | : 2024 |
| Nama Penerbit | : Shira Media |
| Cetakan | : Pertama |
| Ukuran | : 13 x 19 cm |
| Jumlah Halaman | : 182 |
| Nomer ISBN | : 978-602-7760-80-6 |
| Harga Buku | : Rp.59.000 |
Narasi
Saya sudah jatuh cinta dengan buku ini pada pandangan pertama. Tepat pada saat rihlah war buku di salah satu Gramedia di Semarang, tepat pada 3 potong kata awal sinopsis buku itu: “Seorang jurnalis muda …”.
Dan saya tau betul bahwa buku ini terlahir dari tangan ajaib Mas Puthut EA selaku Kepala Suku Mojok, sebuah platform bacaan berintegritas, ciamik, nyentrik, dan senantiasa eksis yang senantiasa saya sambangi di sela-sela luang.
Terlebih buku ini novel.
Terlebih buku ini bertokohkan seorang jurnalis.
Terlebih buku ini menceritakan kisah perjalanan investigasi misterius.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan, buku ini menceritakan tentang perjalanan Hammam, seorang jurnalis dari media Kabaridotco, yang suatu hari ditugaskan untuk meliput sebuah padepokan misterius.
Hal yang membuatnya misterius, adalah padepokan yang terletak di perkampungan sunyi yang dikelilingi oleh pegunungan, 20 km dari kota, itu terlihat selalu ramai didatangi pengunjung dari berbagai lapis masyarakat, bahkan tidak jarang oleh para pejabat dan jajaran pemerintahan. Terlebih saat itu sedang tahun politik.
Tempat itu sebenarnya dapat didefinisikan dengan cara orang-orang memanggil tokoh sentral di padepokan tersebut. Ada yang memanggilnya kiai, begawan, mbah guru, guru spiritual, bahkan tak jarang panggilan dukun sekalipun.
Namun pada akhirnya, Hammam akan memanggil tokoh tersebut dengan sebutan ‘Mas’.
Pada dasarnya, padepokan itu baru saja, sekitar 3-4 tahun. Sampai beberapa pemuda menempatinya sebagai rumah singgah yang dipergunakan untuk belajar, memperdalam pengetahuan, mengkaji sejarah Islam dan Jawa dari ratus bahkan ribuan kitab dan buku-buku.
Sampai pada akhirnya, salah seorang calon kepala desa memintakan do’a dan saran, hebatnya ia terpilih. Mulai saat itu, orang mulai ramai berdatangan dengan hajatnya masing-masing, yang padahal tak lebih padepokan itu hanya rumah singgah tempat belajar dan memperdalam ilmu. Juga soal ketahanan pangan dari kebun sayur dan kolam ikan yang mereka buat untuk kebutuhan sehari-hari.
Satu hal terjawab.
Puncak konflik dalam novel ini adalah ya, sebab campur paut orang pemerintah yang diduga terjerat kasus pencucian uang. Penggerebekan terjadi. Semua jejak ditelusuri. Termasuk jejak bahwa pejabat itu pernah bertandang di padepokan itu. Ya, meskipun hal itu tidak membuktikan dan merugikan siapapun dari para pemuda pembelajar padepokan tersebut.
Sebenarnya, jika dibanding dari jalannya alur cerita tersebut secara keseluruhan, saya lebih tertarik pada tokoh-tokoh di dalamnya. Saya menjatuhkan diri saya sebagai seorang Hammam yang pekerja keras, inisatif, dan berbudi luhur. Bagaimana ia menempatkan diri, bagaimana juga ia mengutarakan pertanyaan-pertanyaannya cerdas, bijak, menukik, dan esensial. Figur seorang jurnalis yang gigih.
Dan tokoh lain, yang bahkan saya berani bertaruh untuk rasa suka dan kagum saya dibanding tokoh Hammam, ialah Mas Arkan, selaku pimpinan media itu.
Mas Arkan atau Ari Kayanto ini adalah tipe pimpinan yang unik sekaligus idaman. Ia berwibawa sekaligus humble, serius juga ramah, bisa bercanda bisa juga marah, ia juga seorang pekerja keras. Mas Arkan pernah bekerja 15 jam lamanya. Dan hal yang terpenting, ia adalah teladan bagi bawahannya.
Sebagai pimpinan, Mas Arkan memiliki cara bersikap dan menempatkan diri yang menarik pada bawahannya. Pernah ada anak baru yang diajak memancing ikan karena usut punya usut, anak baru itu memang mempunyai hobby memancing. Tak hanya sekali dua kali, ia juga diajak memancing sidat di malam hari, bahkan Mas Arkan turut serta memancing di laut ketika anak baru itu ada agenda bersama komunitas memancingnya.
Ada juga yang diajak ke pengajian, hanya karena orang tersebut suka pengajian. Bahkan turut Maiyahan sampai subuh. Dan Hammam selaku pecinta kopi, ia sudah belasan kali diajak Mas Arkan ngopi, dari berbagai jenis kopi dan harga.
Sedikit banyaknya, dari banyak hal, sosok Mas Arkan mengajarkan saya perihal menjadi jurnalis yang pekerja keras, mempertajam mata sosial, menghindari korupsi waktu, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Sampai pada salah satu kutipan Mas Arkan yang saya suka:
“Ini adalah organisasi. Kata dasarnya dari ‘organ’ artinya tubuh. Jadi, kalau kamu jadi sepasanga mata, maka jadilah mata yang baik, sehingga kepalamu tidak kejedot pintu, kakimu tidak terpeleset dan tersandung. Organisasi itu harus kompak, tahu posisinya di mana, tugasnya apa. Mirip seperti sepak bola. Kalau jadi bek, jangan berpikir jadi striker. Organisasi ini kacau kalau ada kiper tapi posisinya dan cara mikirnya seperti gelandang bertahan.”
Tapi di luar rasa kagum saya pada tokoh Mas Arkan, ada sedikit hal yang sulit saya terima. Seperti kenyataan bahwa terlalu cepat dan sederhana bagi tokoh Hammam untuk kenal, akrab, dan larut dalam kehidupan padepokan itu. Bahkan sampai harus ikut dalam hal-hal yang tidak seharusnya ikut.
Kemudian para pemuda padepokan yang selaku lawan main tokoh Hammam sebagai tokoh utama, tidak begitu menarik bagi saya.
Dan terakhir, siapa sebenarnya tokoh penculik tersebut? Tokoh yang serba tau, tokoh misterius yang seperti penyihir sakti yang tau akan semuanya; yang pada akhirnya kembali muncul di sepenghujung cerita?
Belum lagi, 2 kalimat di akhir novel tersebut.
Haishhh …
Dan oh ya!
Saya tau persis perihal tokoh politik dalam novel tersebut. Meskipun berusaha ditutup-tutupi dengan nama panggilan lain, sebutan lain.
Siapa? Pak Lurah? Memaksa 3 periode? Melawan konstitusi?
Dan anaknya; siapa? Raka?
Saya tau ya, Mas Puthut!