Identitas Buku
| Nama Buku | : Sir Alex Ferguson |
| Nama Penulis | : Prilo Sekundiari |
| Kategori | : Non Fiksi |
| Genre | : Biografi |
| Tahun Terbit | : 2017 |
| Nama Penerbit | : Biography |
| Cetakan | : Pertama |
| Ukuran | : 14 x 20 cm |
| Jumlah Halaman | : 122 |
| Nomer ISBN | : 978-602-5469-62-6 |
| Harga Buku | : Rp.49.500 |
Narasi
Saya adalah seorang penggemar Manchester United kelahiran 2004.
Meskipun masih terus mengikuti dan menonton setiap pertandingan yang ada, tapi mungkin saya masih terlalu dini untuk menjadi saksi sejarah betapa heroiknya tim kesayangan ini berlayar di sebelum saya lahir atau bahkan di masa-masa ingatan saya belum sepenuhnya tumbuh dengan utuh untuk menjadi seorang anak yang begitu mencintai sepak bola.
Meskipun pula saya tau, bahwa sepak bola selalu dinamis, sebagaimana kapal yang terus berlayar di tengah pasang surutnya ombak lautan: namun sebaris nama Sir Alex Fergosun selalu santer bergema di luasnya samudra, di setiap lintas zaman.
Tidak perlu ditanya perihal bagaimana nama it uterus hidup di setiap hati awak kapalnya,
Dan buku ini, memberikan andil besar untuk saya semakin mengenal dekat dengan nahkoda paling hebat yang pernah ada.
Buku ini terbilang tipis. Terlebih harus berbagi ruang antara kalimat dengan banyak gambar-gambar didalamnya, sangat mudah untuk melahapnya dengan cepat dan tuntas. Hal yang tak mudah, justru bagaimana hati ini tetap tegar dibawah tekanan nostalgia dan cerita hebat-heroik, yang seakan memandu perjalanan sendu yang penuh rindu.
Secara keeluruhan, buku ini berisikan 7 bab yang menjelaskan profil Sir Alex Ferguson, resep sukses, pembelian terbaik, momen terbaik, kemenangan terbesar Manchester United era Ferguson, Manchester United pasca Sir Alex Ferguson, dan ditutup dengan kesimpulan.
Sudi kiranya, untuk mengobati rindu kita bersama, izinkan saya sedikit melampir-cerita tentang sosok paling hebat dan luar biasa itu untuk dunia persepak bolaan dunia, terutama untuk setiap penggemar-pecinta-pendukung Manchester United.
Latar belakang
Sir Alex Ferguson, atau Alexander Chapman Ferguson, lahir di Glasgow, Skotlandia, pada 31 Desember 1941. Ia tumbuh di lingkungan pelabuhan yang keras, tempat sepak bola menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat. Glasgow juga dikenal dengan rivalitas dua klub besar, Celtic dan Rangers, yang tak sekadar membawa persaingan olahraga, tetapi juga memiliki latar belakang agama: Celtic dengan komunitas Katolik dan Rangers dengan komunitas Protestan.
Pemain
Memulai karier sebagai pesepak bola pada usia 16 tahun di Queen’s Park, Sir Alex Ferguson tampil sebagai penyerang produktif dengan rata-rata satu gol dalam dua laga. Ia bermimpi membela Glasgow Rangers, tetapi justru St. Johnstone yang merekrutnya. Takdir mempertemukannya dengan klub impian itu ketika striker utama St. Johnstone cedera. Dari bangku cadangan, Ferguson mendapat kesempatan bermain dan secara mengejutkan mencetak hattrick ke gawang Rangers. Momen itu menjadi titik awal melesatnya karier Ferguson. Selama 17 tahun sebagai pemain, ia membela enam klub dan sempat memperkuat timnas Skotlandia.
Pelatih
Pada usia 32 tahun, Sir Alex Ferguson memulai karier kepelatihannya di East Stirlingshire. Kondisi tim saat itu memprihatinkan—hanya memiliki delapan pemain dan satu kiper. Namun dalam empat tahun, Ferguson berhasil mengubah keadaan hingga timnya menjadi juara liga Skotlandia, sementara jumlah suporter meningkat dari sekitar 1.000 menjadi 20.000.
Ia kemudian pindah ke Aberdeen dan menghadapi pemain yang bahkan lebih tua darinya. Julukan “Furious Fergie” pun melekat. Di bawah kepemimpinannya, Aberdeen meraih Piala Winners Eropa pada 1984 dan menaklukkan klub-klub besar seperti Real Madrid, Tottenham Hotspur, serta Bayern Munchen. Di kompetisi domestik, ia juga berhasil mempertahankan gelar secara berturut-turut hingga akhirnya dianugerahi gelar Order of the British Empire.
Manchester United
Pada November 1986, Sir Alex Ferguson pindah ke Manchester United, klub yang telah lama kesulitan meraih gelar liga. Awalnya, perjalanan Ferguson tak langsung mulus. Posisi United naik turun hingga muncul seruan “Fergie Out” ketika tim nyaris terdegradasi. Namun, kemenangan atas Crystal Palace di final FA Cup 1990 menjadi gelar pertamanya bersama United sekaligus meredam tekanan.
Memasuki awal 1990-an, Ferguson mulai membangun fondasi kejayaan. Peter Schmeichel dan Eric Cantona hadir, sementara talenta muda seperti Ryan Giggs mulai mendapat tempat. Musim 1992/93, United akhirnya menjuarai Premier League untuk pertama kalinya di era Ferguson. Sepanjang 1990-an, lahir berbagai momen ikonik, termasuk tendangan kungfu, kehadiran Roy Keane, rekor-rekor gol, hingga treble. Bersama Class of ’92, Ferguson membantah anggapan bahwa tim yang dipenuhi pemain muda tidak akan mampu memenangkan apa pun.
Lebih dari 26 tahun, Sir Alex Ferguson menghabiskan hidupnya di sisi lapangan Manchester United. Dari masa ketika gelar terasa begitu jauh, hingga akhirnya ia meninggalkan klub dengan 38 trofi: 13 Premier League, 5 FA Cup, 4 League Cup, 10 Community Shield, 2 UEFA Champions League, 1 UEFA Cup Winners’ Cup, 1 UEFA Super Cup, 1 Intercontinental Cup, dan 1 FIFA Club World Cup. Premier League 2012/13 menjadi gelar terakhirnya, sekaligus gelar liga ke-13. Ia datang sebagai seorang pelatih pada 1986, dan pergi pada 2013 sebagai sosok yang telah menuliskan namanya begitu dalam di sejarah Manchester United. Seolah, perjalanan panjang itu memang berakhir di tempat yang paling pantas: dengan sebuah gelar.