web analytics

Orang Aneh

0 0
Read Time:3 Minute, 15 Second

Identitas Buku

Nama Buku : Orang Aneh
Nama Penulis : Albert Camus
Kategori : Novel
Genre : Filsafat
Tahun Terbit : 2017
Nama Penerbit : Narasi
Cetakan : Ketiga
Ukuran : 14 x 20 cm
Jumlah Halaman : 168
Nomer ISBN : 978-623-7586-59-3
Harga Buku : Rp.60.000

 

Narasi

Buku yang berjudul “Orang Aneh” ini benar-benar aneh. Saya benar tidak habis pikir, kenapa novel sastra klasik selalu memberikan cerita yang biasa-biasa saja, mendasar dan permukaan sekali. Pun dengan konflik dan alur, sebagaimana dan seharusnya novel menunjukkan value ‘seru’ sebagai pemandu cerita.

Also Read: Pareidolia

Novel ini tidak.

Novel ini aneh.

Jika tidak karena nama Albert Camus, saya tidak akan meminangnya.

Bayangkan saja, novel “Orang Aneh” ini benar-benar bercerita tentang seorang tokoh aneh bernama Meursault, seorang pria yang tinggal di Aljazair.

Cerita dimulai ketika ibunya meninggal. Meursault pergi menghadiri pemakamannya, lalu kembali menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Ia bekerja, bertemu Marie, dan menghabiskan waktu bersama tetangganya, Raymond.

Raymond kemudian terlibat masalah dengan beberapa orang Arab. Suatu hari, Meursault dan Raymond pergi ke sebuah pantai dan bertemu kembali dengan salah satu dari mereka. Dalam situasi yang memanas, Meursault menembak salah seorang pria tersebut hingga meninggal.

Meursault kemudian ditangkap dan diadili. Selama persidangan, ia dinilai bukan hanya berdasarkan pembunuhan yang dilakukannya, tetapi juga berdasarkan sikapnya ketika menghadapi kematian ibunya.

Setelah proses persidangan, Meursault dijatuhi hukuman mati. Di dalam penjara, ia menghabiskan waktu menunggu pelaksanaan hukumannya hingga akhirnya menerima kenyataan bahwa ia akan menghadapi kematian.

Sudah.

Hanya sesederhana itu.

Saya tidak mengira bahwa Albert Camus lah yang justru aneh karena telah menciptakan buku dengan konflik dan alur yang aneh pula: tidak seru.

Pun tokoh itu, Meursault, anehnya bukan kepalang. Ia diciptakan sebagai tokoh yang tidak diperkuat dengan perasaan, atau bahkan tidak sama sekali, menjadikan novel itu begitu hambar dan hampa.

Tak berkesudahan, dengan ini saya pun tau, bahwa sedikit menilik latar belakang sebuah buku menjadi salah satu hal yang penting saat berkenalan dengan buku itu sendiri. Terutama dengan background penulisnya.

Saya pertama kali mengenal Albert Camus dari bukunya Pak Fahruddin Faiz yang berjudul “Menghilang, Menemukan Diri Sejati”. Penjelasan Pak Faiz yang ringan dan mengena, membuat saya jatuh cinta sejak itu.

Saya mencoba menyapa cinta itu untuk memahami buku ini.

Selain seorang sastrawan dengan penghargaan nobelnya, Albert Camus adalah seorang filsuf dengan konsep absurdisme, yaitu konsep yang menyatakan bahwa kehidupan pada dasarnya tidak memiliki makna yang pasti, sementara manusia terus berusaha mencari dan memberikan makna di dalamnya. Menurut Camus, absurditas muncul dari pertentangan antara keinginan manusia untuk menemukan makna dan kenyataan bahwa dunia tidak memberikan jawaban yang pasti atas pencarian tersebut.

Hidup ini absurd. Albert Camus menyoroti contoh, kenapa untuk mencapai perdamaian harus dengan cara peperangan; kekerasan?

Hidup ini paradoks sekali.

Karena dunia tak kunjung memberikan jawaban atas makna itu, Albert Camus berkesimpulan bahwa manusia dipersilahkan untuk menentukan maknanya sendiri. Menentukan maknanya sendiri. Membaca buku penting atau tidak, itu tergantung pemaknaan masing-masing individunya dan itu sah-sah saja.

Menonton sepak bola yang dimaknai sebagai hal yang seru dan menghibur bahkan sampai menjadikan jiwanya sebagai supporter fanatik, atau malah memaknai hal yang aneh karena menonton 1 bola diperebutkan 22 orang yang kalah-menangnya tidak ada manfaatnya bagi si penonton, itu tetap sah-sah saja.

Namun di satu sisi, tidak ada penentuan yang pasti perihal makna itu. Manusia jadi saling menciptakan maknanya sendiri, dan menilai orang lain dengan maknanya itu, yang kadang malah terkesan menjadi sebuah paksaan dan keharusan yang harus diterima.

Membuat dunia ini penuh stigma dan stereotip.

Konsep gagasan itulah yang Albert Camus tuangkan dalam novelnya, bahwa Meursault digambarkan sebagai tokoh yang menolak bahkan melawan stigma dan stereotip sosial yang mengekang nilai-nilai hidup yang dijunjung seseorang.

Bahwa Meursault mempunyai cara sedihnya tersendiri saat ibunya meninggal. Pun penyesalan saat didakwa pembunuhan. Itu semua tidak harus sama dengan apa yang berlaku dan dipegang oleh orang lain, karena setiap orang memiliki maknanya masing-masing.

Hingga pada akhirnya, saya tersadarkan, sepertinya saya yang aneh karena berani menganeh-anehkan Albert Camus dan bukunya.

Hadehhh …

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Pareidolia

Pareidolia

Sir Alex Ferguson

Sir Alex Ferguson

Tangan Kotor Di Balik Layar

Tangan Kotor Di Balik Layar

Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih

Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih

Rinda-Rindu Kopa-Kopi

Rinda-Rindu Kopa-Kopi

Monolog Cinta

Monolog Cinta