web analytics

Kuis Pemantik dan Analogi Unik Warnai Peringatan Isra’ Mi’raj di Asrama Al-Misky

Peringatan Isra’ Mi’raj di Pondok Pesantren Al-Misky HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri
7 0
Read Time:5 Minute, 26 Second

Kediri, Elmahrusy Media.

Pondok Pesantren Al-Misky HM Al-Mahrusiyah selenggarakan peringatan Isra’ Mi’raj 1447 H pada Jumat malam (16/01). Satu jam pasca pelaksanaan sholat isya’ berjamaah dan istighotsah, tepatnya pukul 21.00 WIB, acara dimulai dengan pembacaan Maulid ad-Dziba’i yang mengisahkan biografi Kanjeng Nabi.

Usai do’a, acara dilanjutkan dengan “Bincang-Bincang Santai” bersama Ning Hj. Niswatul Arifah sembari ngrantos KH. Reza Ahmad Zahid rawuh. Dalam sesi tersebut, Istri dari Rektor Universitas Islam Tribakti ini memberikan evaluasi terkait manajerial kepanitiaan, mulai dari struktural hingga fungsional. Selain itu, sosok yang akrab disapa “Mama” ini juga membekali “segenap putrinya” dengan nasihat dan do’a, sembari menegaskan motto di Pondok Pesantren Al-Misky; “Mental baja, balung besi, otot kawat. Jangan sekali-kali bermental strawberry”.

Lantunan sholawat yang dibawakan Tim Habsyi dan Tim Marawis menghidupkan suasana hangat, ditambah adanya kuis berhadiah oleh Ning Hj. Niswatul Arifah, para santri semakin antusias berebut hadiah dan juga berkah. Tak hanya pertanyaan seputar Isra’ Mi’raj, wawasan terkait Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah pun diujikan. Salah satunya yaitu nama-nama Dzurriyyah Al-Mahrusiyah secara lengkap dan berurutan. Beliau juga mengumumkan bahwa nama Kak Ronim (putri KH. Reza Ahmad Zahid dan Ning Hj. Niswatul Arifah) diganti menjadi “Ronim Miskiyyah Reza” dari yang sebelumnya “Ronim Azkal Misky”.

Tak lama kemudian, Abah KH. Reza Ahmad Zahid rawuh. Beliau pun membawa suasana baru yang tak kalah seru. Dengan mau’idloh hasanahnya yang khas nan humoris, beliau mengajak para santri untuk “me-muthola’ah” wawasannya terkait isra’ dan mi’raj Baginda Nabi. Beliau membuat ceritanya lebih menarik dengan pertanyaan berhadiah sebagai pemantik.

Diantara pertanyaannya yaitu ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan peristiwa Isra’ Mi’raj. Setelah ada santri yang menyebutkan QS. Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Barulah beliau menjelaskan makna dan filosofi dibaliknya, bahwa dalam redaksi اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ yang dimaksud, yaitu: Allah mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW saat itu sedang mengalami tahun kesedihan (Amul Huzni) setelah wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib, serta penolakan penduduk Tha’if. Disamping itu, Nabi Muhammad SAW juga sedang rindu turunnya wahyu dari Rabb-nya, yang mana kebahagiaan menerima wahyu itu seperti menerima surat cinta. Abah Reza menjelaskan bahwa perjalanan dari Makkah ke Palestina hingga Sidratul Muntaha adalah bukti kekuasaan Allah yang “memperjalankan” kekasih-Nya, sebuah peristiwa yang hanya bisa diterima dengan kacamata keimanan sebagaimana yang dicontohkan oleh Sayyidina Abu Bakar.

Sekilas tentang Abu Bakar, Abah Reza juga menanyakan siapa nama asli dari Sahabat Nabi bergelar As-Shiddiq tersebut. Namun tak ada satupun jawaban yang tepat, sehingga Abah Reza sendiri yang menjelaskan: “Sebelum memeluk Islam, beliau memiliki nama asli Abdul Ka’bah. Kemudian setelah memeluk Islam, beliau mengganti namanya menjadi Abdurrahman. Adapun nama “Abu Bakar” itu ‘alam kuniyah. Barulah diberi laqob As-Shidiq dan Al-‘Atiq.”

Abah Reza juga mengilustrasikan perjalanan Isra’ Mi’raj yang irasional bagi akal insan yang tidak beriman itu sebagaimana seekor semut Madura yang “diperjalankan” ke Kediri hanya dalam waktu 3 jam. “Saya kemarin ada acara di Bangkalan, Madura. Disana ada seekor semut, yang mana dia nyantol di sandal saya. Saat saya naik mobil, ya semut itu ikut naik mobil. Setelah saya sampai, saya turun, sandalnya saya taruh rak. Kemudian semutnya jalan-jalan. Semut Madura ini bertemu dengan semut Kediri, sehingga terjadilah dialog antara keduanya. Saat semut Madura menjelaskan bahwa ia menempuh perjalanan Madura-Kediri selama 3 jam, tentu semut Kediri tak percaya. Ketika dijelaskan bahwa perjalanannya itu “diperjalankan” (bukan jalan sendiri), barulah hal tersebut menembus logika.” Pengilustrasian sebagaimana yang dituturkan Abah Reza sangatlah unik dan dapat dipahami, ditambah logat semut Madura dan Kediri yang menyesuaikan mother tongue mereka, hal tersebut berhasil mengundang gelak tawa para santri seisi Aula.

Putra sulung dari Alm. Almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus ini juga menjelaskan konsep Mahabbah. Usai menyibak bukti cinta Sang Pencipta kepada Rasulullah SAW dengan adanya peristiwa Isra’ Mi’raj ini, Abah Reza mendefinisikan “Cinta” dengan mengutip dawuh Ibnu Qoyyum Al-Jauzi dalam kitabnya Ar-Ruh, yakni;

إنتزاج الروح بالروح كما انتزاج الماء بالماء

“Penyatuan jiwa dengan jiwa yang lain seperti halnya penyatuan air dengan air.”

Padahal hakikat ruh itu lebih althof (lembut) dari pada air. Jika air (yang dapat dilihat) saja akan sulit dipisahkan (apabila menyatu dengan air yang lain), Apalagi “ruh” (yang tidak terlihat)?

Tak hanya itu, Abah Reza juga menceritakan kisah Sufi Perempuan “Rabi’ah al-Adawiyah” dan kisah Qais yang lebih terkenal dengan sebutan “Majnun”. Terakhir, beliau menceritakan perjalanan Nabi Muhammad SAW hingga sampai ke Sidratul Muntaha untuk bertemu dengan Rabb-nya. Disanalah satu-satunya hamba yang mampu bertemu Allah secara langsung tersebut dibuat terkejut saat melihat ada 3 bayangan seseorang dibalik Sang Khaliq. Siapakah mereka? Lagi-lagi belum ada yang bisa menjawab pertanyaan Abah Reza ini dengan tepat, sehingga beliau menjelaskan:

  1. من رطب لسانه بذكر الله (Orang yang senantiasa membasahi lisannya dengan dzikir kepada Allah). Karena menurut pengalaman para mayyit, Malaikat Izroil itu datangnya tiba-tiba, sehingga orang yang akan dicabut nyawanya pasti kaget. Adapun kata-kata yang keluar dalam keadaan reflek itu tergantung kebiasaan lisannya.
  2. من تعلق قلبه بالمساجد (Orang yang hatinya selalu terhubung dengan masjid). Artinya, orang yang ketika adzan berkumandang segera sholat, bukan malah pindah tempat (tidur).
  3. من لم يستسب والديه (Orang yang tidak berbicara kasar kepada orang tuanya). Sebagaimana ayat Al-Qur’an ولا تقل لهما أف. Berkata “ahh” saja tidak boleh, apalagi mencaci dan memukul. Dalam ushul fikih, ini namanya qiyas aulawi.

Saking asyiknya suasana malam ini, tak terasa jam telah menujukkan pukul 00.16 WIB. Acara diakhiri dengan do’a yang dilangitkan KH. Reza Ahmad Zahid dan diamini seluruh santri. Seperti biasa, malam istimewa ini kurang afdhol rasanya jika tak ada dengan tradisi nampanan yang memperkuat ukhuwwah kami. Semoga terselenggaranya acara ini dapat memperkaya khazanah keilmuan dan kecintaan kita kepada sosok dibalik perintah sholat yang dikukuhkan dalam syariat, beliaulah Nabi Muhammad SAW. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Struggle

Average Rating

5 Star
100%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kuis Pemantik dan Analogi Unik Warnai Peringatan Isra’ Mi’raj di Asrama Al-Misky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ibnu Kholdun Juara Mahrusy Cup 2026

Ibnu Kholdun Juara Mahrusy Cup 2026

2 Raksasa Ngampel Tumbang di Semifinal Mahrusy Cup 2026

2 Raksasa Ngampel Tumbang di Semifinal Mahrusy Cup 2026

Mengungkap Peristiwa Isra’ Mi’raj Sebagai Sejarah Sekaligus Hadiah

Mengungkap Peristiwa Isra’ Mi’raj Sebagai Sejarah Sekaligus Hadiah

Malam Nisfu Sya’ban: Tazkiyatun Nafs Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Malam Nisfu Sya’ban: Tazkiyatun Nafs Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Ied Milad Adik Tercinta, Berikut Sambutan Mas Novan Ahmad Reza

Ied Milad Adik Tercinta, Berikut Sambutan Mas Novan Ahmad Reza

Ibnu Sina vs Ibnu Kholdun: Derbi Luar Biasa di Mahrusy Cup 2026

Ibnu Sina vs Ibnu Kholdun: Derbi Luar Biasa di Mahrusy Cup 2026