Teruntuk jiwa yang selalu hadir
Tatkala dunia sedang amatir
Pikiran penuh pasir
Dan hati ketar ketir
Apa kabar?
Masih mampukah kamu bertahan
Dengan segala ekspektasi untuk mencapai impian masa depan?
Mau sampai kapan kamu terus berlari
Di saat orang lain sibuk menari?
Ingatlah,
Tuhan menciptakan dunia untuk kamu nikmati
Bukan untuk merasa terbebani
Hmmm…
Dunia memang sedang sibuk
Sibuk untuk saling mencaci
Dan pamer sana-sini
Hidup terasa seperti film horor
Mencekam setiap mendengar teriakan orang lain
yang berkomentar bagai mandor
Namun sialnya, kamu ikuti alur itu kan?
Kamu terbawa oleh gelombang tsunami itu
Sampai lupa mendengarkan dan bertanya pada dirimu
“Mampukan kita untuk menerima semua itu?”
Sudahkah kamu mendengarkan triakan kakimu yang lelah berlari?
Sudahkah kamu mendengarkan tanganmu yang meminta berhenti untuk ikut mengomentari?
Sudahkah kamu mendengarkan otakmu yang lelah dengan ekspetasi
dan seribu konten per hari yang kamu pantengi?
Sudahkan kamu bertanya pada perasaan dan hatimu yang lelah dibohongi?
Mereka selalu hadir dalam hidupmu
Setiap jam, menit, bahkan setiap detik langkahmu
Mereka selalu ada dan hadir untuk menemani dan ikut berjuang bersamamu
Sekarang, berhentilah sejenak
Tarik napas, tenangkan segala riuh di kepala
Katakan,
Terima kasih diriku
Telah bertahan sejauh ini
Maafkan aku,
yang terlalu sibuk menegejar dunia
hingga lupa bahwa diriku juga perlu dicinta