Kekasih, surat ini kutuliskan tanpa perlawanan dan tipu daya
Kekasih, taukah kamu, aku adalah seorang nestapa di hadapan puisi
Aku cukup payah dan sialan untuk merapal huruf per kata, kata per kalimat, kalimat per paragraf, paragraf per helai lembar kuntum harum ranum cium diksi, imaji, tipografi, majas, rima, nada, rasa, makna, dan cantikmu
Kekasih, sungguh adalah tindakan yang tidak terpuji jika saja aku lancang memberikanmu sekuntum puisi dari apa yang aku tulis, bahwa sesungguhnya kamu tercipta dari puisi itu sendiri, tepat saat tuhan sedang menuliskanmu dalam keadaan meneguk mabuk dan manisan sebagai kudapan
Kekasih, tidak ada satupun keberanian yang bisa aku banggakan selain dari rindu yang menjelma menjadi rapalan doa-doa yang terbata tanpa kata
Apakah tuhan tersinggung aku menyebut namamu di hadapan-Nya?
Sepenuh keyakinanku yang malang, seharusnya sih tidak
Karena Dia jauh lebih mengenalmu dengan utuh.
Namun kabar baiknya, kekasih, aku seorang yang punya cukup malu untuk hidup bersimpuh pada ranting yang rapuh: cengeng, karena aku tau bahwa tuhan menciptakan hidup ini dengan gelak tawa dan tari-tari nyanyi-nyanyian
Kekasih, untuk malam ini saja, bersedialah hadir dalam perayaan meninabobokan sunyi sekaligus resah sebelum sesaat kembali ke peraduan
Tidak perlu membawa apapun dari kado atau hadiah
Pun repot-repot berdandan karena bulan dan bintang akan merunduk di bawah langit-langit anak rambutmu
Cukup matamu yang teduh dan senyum manis itu untuk menunjukkan bahwa aku adalah seorang pendo’a yang khusyuk dan pembaca puisi yang tekun
Aku yang mencintaimu di waktu dhuha musim semi