Secara etimologi, haul berakar dari Bahasa Arab yang berarti “satu tahun”. Makna ini kemudian berkembang menjadi peringatan tahunan yang bertepatan dengan wafatnya seorang tokoh. Peringatan acara haul ini beragam, ada yang hanya lingkup keluarga dan tetangga, ada yang diselenggarakan di Pondok Pesantren seperti Haul Muassis ataupun Masyayikh, bahkan ada yang dibuka untuk Masyarakat umum seperti Haul Tokoh Walisongo.
Dalil memperingati haul seseorang ada di dalam Syarah Ihya ‘Ulumuddin juz 10, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di bukit Uhud, beliau memanjatkan doa sebagaimana firman Allah di dalam QS. Ar-Ra’d ayat 24: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu). Sayyidina Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Sayyidina Umar, lalu Sayyidina Utsman. Begitu pula Sayyidah Fatimah, beliau pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa disana. Sementara Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau pernah mengucapkan salam kepada para syuhada Uhud kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, “Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”
الجزء العاشر من شرح الإحياء علوم الدين في بيان زيارة القبور، ونصه: وروى البيهقي في الشعب عن الواقدي قال: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار. ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ.اه
Keterangan yang sama juga terdapat dalam kitab Nahju al-Balaghah hal. 394-396 dan kitab Manaqib al-Sayyidi al-Syuhada’ Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far al-Barzanji hal 15 bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa berkunjung ke makam para syuhada’ di bukit Uhud pada penghujung setiap tahun dan beliau mengucapkan QS. Ar-Ra’d tersebut.
Hikmah dalam Peringatan Haul
Tradisi haul, yang kerap diiringi dengan khotmil qur’an, istighotsah, ataupun sholawatan sejatinya menyimpan hikmah yang senantiasa mengalirkan berkah:
Melalui lantunan tahlil, istighotsah, manaqib, dan berbagai do’a lainnya, sama saja kita mengirimkan “bahan bakar” spiritual bagi mereka yang telah berpulang. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 10 yang menganjurkan transfer do’a bagi kaum Mukminin yang telah mendahului kita;
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌࣖ
Biografi tokoh yang dihauli pasti akan diulas kembali dalam acara haul ini, baik dalam bentuk literasi maupun ilustrasi. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk menyelami dan mengambil ibrah yang dapat memotivasi diri. Sebagaimana firman Allah SWT:
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ
“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.”
Acara haul seringkali menjadi moment reuni akbar. Tak hanya keluarga dan tetangga, acara Haul dalam skala besar biasanya melibatkan sanak-saudara, teman, tokoh masyarakat, guru, murid, bahkan alumni – yang dapat menguatkan tali silaturahmi lintas generasi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (رواه البخاري)
“Barang siapa yang ingin dikekalkan dalam rezekinya dan ingin dipanjangkan umurnya maka supaya menyambung famili (silaturahim).”
Tak hanya itu, kehadiran para Ulama, Habaib dan Kiai dalam acara Haul juga pasti menambah keberkahan dan menjadikan tempat tersebut laksana perkumpulan agung para pewaris ilmu Nabi.
Dan satu lagi, hikmah dibalik peringatan haul yang tidak boleh ketinggalan adalah mengingatkan kita pada kematian. Hidup di dunia tak selamanya, akan ada masanya kita akan dipanggil menuju kehadirat-Nya, mempertanggung jawabkan atas segala hal yang telah kita lakukan selama bernyawa sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 34;
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.”
Wallahu a’lam.