Energi merupakan salah satu kebutuhan pokok makhluk hidup. Setiap aktivitas manusia tentunya tidak lepas dari yang namanya energi. Mulai dari memasak, transportasi, bahkan perindustrian itu membutukan energi dalam bentuk apapun. Energi dapat kita dapatkan dari sumber daya alam ataupun energi buatan manusia.
Salah satu energi yang paling kita kenal dan telah kita gunakan dari zaman pra peradaban, salah satunya adalah energi api. Energi api bisa kita dapatkan melalui proses pembakaran bahan bakar, seperti kayu, arang, minyak, atau gas, yang mana akan mengasilkan energi panas atau cahaya. Sejak ditemukannya, energi api telah banyak membantu aktivitas manusia, dari mulai memasak, menghangatkan tubuh, bahkan di perindustrian.
Maka bisa kita pahami, api itu bukan sebuah benda melainkan sebuah reaksi kimia yang dapat memancarkan cahaya dan panas. Inilah bukti bahwa Allah menciptakan api tentunya untuk membantu makhluknya di bumi. Sebagaimana firmannya dalam Q. S. Yasin; Ayat 80 :
الذى جعل لكم من الشجر الأخضر نارا فإذا أنتم منه توقدون
“ (Yaitu) Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba- tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. “
Tentunya Allah menciptakan sesuatu, dengan tujuan dan manfaat. Salah satunya, api menjadi sumber kehidupannya makhluk hidup. Ini semua adalah salah satu bentuk kekuasaannya Allah. Di balik api yang sering dianggap menakutkan karena bisa membakar dan merusak, sangat banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari api.
Dibalik semua manfaat yang bisa kita ambil, Allah juga telah mengingatkan kita dalam firmannya, Q. S. Al- Waqi’ah ayat 71-73 :
أفريتم النار التى تورون (٧١) ءأنتم أنشأتم شجرتها أم نحن المنشئون (٧٢) نحن جعلناها تذكرة و متاعا للمقوين (٧٣)
“ Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu) ? (71) Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan ? (72) Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir (73) “
Dari ayat di atas, mengandung ungkapan pertanyaan untuk dipikirkan dan direnungkan oleh manusia. Mengingat kekuasaannya Allah. Allah juga memperingatkan kita akan api neraka. Api dunia, meskipun bermanfaat, memiliki potensi membakar, hal ini mengajarkan kita untuk takut akan hukuman Allah di akhirat. Sebagaimana dalam Al- Quran Surat Al- Baqarah Ayat 24 :
فالتقوا النار التى وقودها الناس والهجارة ۖ أعدت للكافرين….
“ …Maka takutlah kepada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang (disiapkan) untuk orang- orang kafir. “
Lalu, apakah kalian tahu ada salah satu makhluk Allah yang Allah ciptakan dari api ? Dalam firmannya Allah menjelaskan :
قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَۗ قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
“ Dia (Allah) berfirman, “ Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika aku menyuruhmu ? “ Ia (Iblis) menjawab, “ Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. “ (Q. S. Al- A’raf ; 12 )
Dalam ayat di atas, diceritakan Allah bertanya kepada Iblis, “ apakah gerangan yang membuatmu membangkang perintah kami, enggan sujud kepada Adam ketika Kami memerintahkan hal itu ?”. Dengan penuh kesombongan Iblis menjawab, “ Saya tidak mau bersujud kepada Adam untuk menghormatinya” ,karena Iblis merasa ia lebih tinggi dan mulia daripada Nabi Adam, “ saya Engaku ciptakan dari api sedang Adam engkau ciptakan dari tanah .”
Iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam, karena ia merasa ia lebih tinggi dan mulia dari Adam, karena ia diciptakan Allah terbuat dari api, sedangkan Nabi Adam Allah ciptakan dari tanah. Hal ini merupakan pelajaran bagi kita tentang bahayanya sifat sombong dan pentingnya sifat rendah hati. Karena sifat sombongnya Iblis, yang menjadikannya sebagai makhluk Allah yang terkutuk dan diusir dari rahmatnya Allah.
Walaupun api telah tervonis sebagai reaksi kimia yang menghasilkan panas dan cahaya, apakah kalian tahu ? Di zamannya Nabi Ibrahim A. S. Ada api yang mana tidak memiliki sifat api seperti umumnya api. Yaitu, ketika Nabi Ibrahim dihukum oleh Raja Namrud yang merasa tidak terima karena Nabi Ibrahim menantang keras ajarannya Raja Namrud untuk menyembah berhala. Dari situlah, Raja Namrud mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah yang sangat besar – konon tumpukan kayu terbesar yang pernah ada—untuk menciptakan api yang sangat dahsyat. Ketika api telah berkobar, Nabi Ibrahim diikat dan dilemparkan ke tengah kobaran api tersebut.
Di tengah situasi mengerikan itu, Nabi Ibrahim hanya mengucapkan kalimat:
حسبنا الله و نعم الوكيل
“ Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Dia adalah sebaik- baik Pelindung.”
Atas kuasa Allah SWT. Mukjizat pun terjadi, turunlah ayat :
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَۙ
” Kami (Allah) berfirman, ‘ Wahai Api ! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim .”
Seketika, sifat api yang panas juga membakar itu berubah. Api menjadi dingin, Nabi Ibrahim tidak terbakar sedikit pun, bahkan ia merasa seolah berada di taman sejuk dan nyaman di tengah lautan api yang panas. Raja Namrud dan kaumnnya hanya bisa tercengang menyaksikan kekuasaan Allah yang nyata ada di hadapan mereka.
Dari kisah ini, mengajarkan bahwa hukum alam dapat di ubah seketika atas kehendak Allah. Tidak ada satupun kekuatan semesta yang dapat mengalahkan kehendak- Nya.
Api sendiri mengajarkan kita tentang potensi energi yang tersembunyi. Sebagaimana api mengubah bahan bakar menjadi sebuah energi cahaya dan panas sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia. Begitu juga dengan kita, kita harus memanfaatkan energi kita untuk menghasilkan kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain.
Wallohu A’lam.