web analytics

Mengenal Kitab Agama Samawi Dan Pesan Ketuhanan Sang Pencipta

World Religions Planet Earth Flower World religions – flower icon made of religious symbols and planet earth in center. Isolated vector illustration on white background.
0 0
Read Time:3 Minute, 48 Second

Sejak awal sejarah manusia, Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya berjalan tanpa arah. Dalam keyakinan agama-agama samawi, Allah senantiasa menurunkan wahyu melalui para nabi dan rasul sebagai petunjuk hidup. Wahyu tersebut sebagian dibukukan dalam bentuk kitab suci yang menjadi fondasi ajaran keagamaan. Di antaranya kitab Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Keempat kitab ini tidak hadir dalam ruang kosong, melainkan dalam konteks sosial, historis, dan spiritual yang berbeda-beda. Perbedaan konteks inilah yang memengaruhi corak ajaran, kandungan hukum, dan sasaran umat dari masing-masing kitab, tanpa menghilangkan kesamaan mendasarnya sebagai wahyu yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa.

Taurat merupakan kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa AS untuk Bani Israil pada masa ketika umat tersebut membutuhkan aturan hidup yang tegas dan mengikat. Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk” (QS. al-Baqarah/2: 53). Dalam ayat ini Taurat disebut al-Kitab. Oleh karena itu, Taurat dikenal sebagai kitab yang sarat dengan hukum syariat, agar umat Nabi Musa mendapat petunjuk. Ayat ini untuk merespons umat Nabi Musa dari kalangan Bani Israil yang sifat dan wataknya keras dan kerap ingkar kepada Allah SWT. Taurat pada mulanya adalah wahyu Allah yang benar, namun dalam perjalanan sejarah mengalami perubahan dan penyimpangan, baik dalam redaksi maupun penafsiran, sehingga keasliannya tidak lagi sepenuhnya terjaga.

Dalam pandangan Syaikh Nawawi Banten, isi kitab Zabur itu terdiri dari 150 surah. Namun dari surah-surah itu, tidak ada satupun yang berbicara tentang hukum. Kitab Zabur memiliki karakter yang lebih spiritual dan emosional. Zabur berisi pujian, doa, tasbih, dan nasihat yang bertujuan melembutkan hati serta menumbuhkan kesadaran ketuhanan. Nabi Daud kerap membacakan kitab Zabur kepada manusia, jin, dan setan. Zabur menunjukkan bahwa wahyu tidak selalu hadir dalam bentuk perintah dan larangan, tetapi juga dalam ungkapan cinta, harapan, dan ketundukan manusia kepada Sang Pencipta.

Selanjutnya, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS, hadir sebagai kelanjutan dan pelurusan terhadap ajaran Taurat yang telah banyak disalahpahami oleh Bani Israil. Injil menekankan nilai kasih sayang, keikhlasan, dan pemurnian tauhid. Dalam Injil, aspek akhlak dan spiritualitas menjadi lebih dominan dibandingkan hukum formal. Nabi Isa AS diutus untuk mengembalikan esensi ajaran agama yang telah tereduksi menjadi formalitas belaka. Namun, Injil juga diyakini dalam Islam telah mengalami perubahan sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan wahyu asli yang diturunkan oleh Allah.

Namun begitu terdapat perbedaan antara al-Qur’an dengan ketiga kitab samawi lainnya dari sisi sasaran turunnya. Kitab Zabur, Taurat, dan Injil diturunkan berturut-turut kepada Bani Israil. Nabi Daud mengajari Bani Israil dengan kitab Zabur. Nabi Musa memberi informasi tentang agama mereka dengan kitab Taurat. Nabi Isa juga membaca kitab Injil untuk Bani Israil. Sementara umat Nabi hanya diturunkan al-Qur’an saja dan oleh seorang nabi saja. Sesudah turunnya al-Qur’an tidak ada wahyu susulan yang diturunkan selain kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab memang beliau adalah nabi terakhir. Berbeda dengan Bani Israil yang membutuhkan tiga kita suci dari tiga orang nabi yang diutus dari kalangan mereka sendiri.

Al-Qur’an memiliki posisi unik karena tidak hanya melanjutkan ajaran kitab-kitab sebelumnya, tetapi juga menyempurnakannya. Berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang ditujukan kepada umat tertentu, Al-Qur’an bersifat universal, ditujukan kepada seluruh umat manusia tanpa batas ruang dan waktu. Kandungannya mencakup akidah, ibadah, hukum, akhlak, serta prinsip-prinsip kehidupan sosial yang relevan sepanjang zaman. Keistimewaan Al-Qur’an terletak pada jaminan keautentikannya. Seperti dalam firman Allah, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang menjaganya” (QS. al-Hijr/15:9). Dalam keyakinan Islam, Allah sendiri yang menjaga kemurnian Al-Qur’an dari perubahan, sehingga teksnya tetap terpelihara sejak diturunkan hingga hari ini.

Selain itu, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pembenar terhadap wahyu-wahyu sebelumnya, sekaligus sebagai tolok ukur untuk menilai kebenaran ajaran yang berkembang dalam tradisi kitab-kitab terdahulu. Meskipun memiliki perbedaan dalam bentuk, isi, dan cakupan, Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an memiliki benang merah yang sama, yaitu ajaran tauhid dan seruan kepada kebaikan. Perbedaan di antara kitab-kitab tersebut tidak menunjukkan kontradiksi tujuan, melainkan mencerminkan kebijaksanaan Allah dalam menyesuaikan wahyu dengan kebutuhan umat dan perkembangan zaman.

Dengan demikian, memahami kitab-kitab samawi tidak cukup hanya dengan melihat perbedaannya tetapi juga dengan menyadari kesinambungan risalah ilahi yang dikandungnya. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir tidak hadir untuk meniadakan kitab-kitab sebelumnya, melainkan untuk menegaskan kembali pesan universal ketuhanan yang telah disampaikan sejak awal sejarah manusia. Untuk kedamaian seluruh makhluk di bumi ini, seharusnya seluruh penganut agama samawi kembali kepada satu tuhan, yakni Allah SWT.

Wallahu a’lam.

 

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Tadarus Nietzsche

Tadarus Nietzsche

Kita Bicara Soal Tanah

Kita Bicara Soal Tanah

Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Dapatkah Kita Mencintai Tanpa Ketertarikan?

Dapatkah Kita Mencintai Tanpa Ketertarikan?

Pentingnya Olahraga Pada Kesehatan Tubuh Perspektif Hukum Islam dan Positif

Pentingnya Olahraga Pada Kesehatan Tubuh Perspektif Hukum Islam dan Positif

Perpustakaan Pesantren: Menjaga Khazanah Keilmuan dari Rak Kitab hingga Maktabah Syamilah

Perpustakaan Pesantren: Menjaga Khazanah Keilmuan dari Rak Kitab hingga Maktabah Syamilah