web analytics

Merefleksikan Ungkapan “Urip Mung Mampir Ngombe”

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:1 Minute, 55 Second

Pernahkah kalian mendengar ungkapan”urip mung mampir Ngombe” (hidup hanya mampir minum). Ya suatu pepatah Jawa yang sudah familiar dan mengandung makna sufistik. Ungkapan ini dapat di artikan bahwa suatu kehidupan dunia merupakan tempat rehat atau transit sejenak, bukan untuk tempat menetap, dan tujuan utama manusia tetap di akhirat, dengan menyatukan jasad di liang lahat.

Tetapi nyatanya, mengapa manusia masih lalai dengan perihal tersebut? Mereka masih menganggap bahwa kehidupan dunia merupakan tempat kekekalannya, tanpa mempertimbangkan waktu yang telah di laluinya. Mensibukan dengan segala suatu yang fana’ dan ilusi belaka. Padahal mereka tak tau pasti apa yang akan terjadi keesokan harinya, apakah masih bisa bediri dengan kedua kaki atau dengan delapan kaki yang membawa ke tempat tidur selamanya.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”. (Q.S. al-An’am, 59).

Alangkah baiknya kita gunakan kesempatan hidup di dunia untuk hal positif, dengan di barengi rasa Syukur atas nikmatnya. Hindari perasaan galau, sedih, gundah gulana dan sebagainya, yang mengurangi rasa syukur kita pada sang kuasa. Walaupun toh itu hal wajar, tapi kita tak boleh berlarut-larut padanya.

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 “Artinya: janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah juga kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yabg paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.”

Menurut Dr. Fahrudin Faiz dalam buku “Filsafat Kebahagiaan” menuturkan ungkapan “Tuhan menciptakan kita untuk bahaia, kalau mudah galau anda meremehkan tuhan.”

Nikmat tuhan tanpa kita sadari memang cukup besar, mulai dari kita lahir kedunia dengan tubuh yang baik, kita memiliki mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, tangan untuk menggapai dan yang paling utama adalah otak untuk berfikir. Apalagi yang harus kita keluhkan atas nikmat kholiq kepada kita. Ingat ungkapan pepatah Jawa di atas “Urip mung mampir Ngombe”.

Hanya mampir bukan menetap, oleh karena itu mari manfaatkan kesempatan di dunia sebaik-baiknya, terutama soal waktu dan kesehatan.” Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu. yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari)

 

About Post Author

Darul Said

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
Elmahrusy media
ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Hermeneutika dan Penafsiran Al-Qur’an

Hermeneutika dan Penafsiran Al-Qur’an

Urgensi Barang Ori

Urgensi Barang Ori

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Analogi Militansi Media Pondok Jatim dan Perjuangan Komite Hijaz Nahdlatul Ulama

Analogi Militansi Media Pondok Jatim dan Perjuangan Komite Hijaz Nahdlatul Ulama

Tahun Baru Datang Lagi, Tapi Sudahkah Kita Benar-Benar Berubah?

Tahun Baru Datang Lagi, Tapi Sudahkah Kita Benar-Benar Berubah?

Getah-Getih menuju Bumi Pertiwi

Getah-Getih menuju Bumi Pertiwi