web analytics

Petuah Haru Ning Ochi Iringi Tahun Ajaran Baru

1 0
Read Time:2 Minute, 6 Second

Kembali melanjutkan langkah untuk menuai barokah di Tanah Al-Mahrusiyah, Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah atau yang akrab disapa Ning Ochi, pada malam pembukaan Jam’iyah Asrama Daru Rasyidah memberikan kalam-kalam haru sebagai penunjang semangat rohani para santri dalam menuntut ilmu.

Dalam momentum tersebut, Ning Ochi ngendikan,

“Karena memasuki fase baru menuntut ilmu, maka kita menyikapinya dengan ijtihad, gigih, dan teguh dalam menuntut ilmu.”

Menuntut ilmu bukanlah medan yang mudah. Penuh dengan pengorbanan serta lika-liku perjalanan: merantau jauh dari rumah, berpisah dengan keluarga dan saudara, serta menghadapi lingkungan dan pertemanan yang beraneka ragam — menjadi tantangan tersendiri bagi para santri untuk beradaptasi.

Bahkan, Ning Ochi berpesan,

“Jangan sampai niat kita menuntut ilmu patah karena lingkungan yang toxic dan bestie yang sudah tidak ada di sini.”

Memang terasa berat ketika memasuki fase tahun ajaran baru, di mana lingkungan dan pertemanan tak lagi sama seperti semula. Teman-teman yang perlahan-lahan menghilang, kembali pulang ke kampung halaman, serta jenjang sekolah yang semakin meningkat dan tak lagi mudah — mengharuskan para santri untuk refresh diri dan siap menghadapi tantangan yang menanti.

Maka dari itu, beliau mengajak untuk tajdidun niat (memperbarui niat).

“Di pondok pesantren, jangan diniatkan sekolah sambil mondok, melainkan niatkan mondok sambil sekolah,” begitu pesan Ning Ochi kepada para santriwati.

“Ingat, tujuan kalian mondok itu untuk ngaji. Bukan berarti kita menafikan ilmu duniawi. Kalau kita hanya menafikan ilmu duniawi, buat apa KH. Mahrus Aly membangun kampus Tribakti?” tutur beliau kepada para santri.

Puncak niat dari seorang mutholib (pencari ilmu) adalah untuk mencapai ridho Allah Ta’ala. Ketika telah sampai pada puncak tersebut, kedudukannya bahkan lebih tinggi dari seorang wali.

Perjalanan untuk mencapai tahta tersebut pun beraneka ragam jalannya. Di antaranya adalah dengan menuntut ilmu, birrul walidain (berbakti kepada orang tua) yang mencakup kesungguhan dalam belajar, sholat berjamaah, dan mendoakan kedua orang tua.

Oleh sebab itu, Ning Ochi mengajak para santri untuk tajdidun niat dan menghidupkan pesantren dengan menjaga semangat kesantrian. Tujuannya tak lain adalah untuk mempererat mu’asyarah (interaksi sosial) di antara teman-teman pondok.

Dengan demikian, silaturahmi akan senantiasa terjalin indah di antara para santri, sebagaimana yang beliau dawuhkan:

“Ketika saya silaturahmi dengan para santri dan wali santri, saya merasa bahagia sekali, karena dengan menjaga silaturahmi di dunia, tersirat silaturahmi yang lebih indah lagi ke depannya.”

Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada para wali santri yang telah mempercayakan putrinya untuk dididik secara rohani, serta kepada para santri yang telah menyelesaikan jenjang sekolahnya di Al-Mahrusiyah.

Terakhir, Ning Ochi dawuh,

“Ngaji sampai mari.”

Kemudian acara ditutup dengan doa.

Wallahu a’lam.

 

About Post Author

Anisa Fitri Ulhusna

Mengabdi untuk Mengabadi
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
EsaiPepeling

Mengabdi untuk Mengabadi

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!

Refleksi Hari Kartini: Menilik Ketangguhan Ekonomi Perempuan di Sektor Lapangan

Refleksi Hari Kartini: Menilik Ketangguhan Ekonomi Perempuan di Sektor Lapangan